Thursday, May 30, 2013

Selamat jalan, Bang Dave

Dulu, dia sering sekali datang ke sekretariat kami yang lama, bisa dikatakan setiap hari dia datang. Dia mengayuh pedal sepeda sejauh sekitar tiga kilometer untuk datang ke sekretariat kami.Disaat teman-teman seangkatannya telah menggunakan motor, bahkan mobil, dia masih menggunakan sebuah sepeda gunung yang telah berumur kemana dia pergi, kecuali dia pergi bersama orang lain.

Aku sendiri tidak tau mengapa dia tetap memilih sepeda untuk bepergian, memang sempat juga terpikir bahwa dia menggunakan sepeda karena dia tidak bisa menggunakan motor. Kalau soal membeli aku yakin bukan hal yang sulit baginya. Tapi kemudian aku berpikir kembali, dan entah kenapa aku yakin dibalik kesederhaannya terdapat sebuah idealisme yang mengakar kuat di kepribadiannya, sebuah idealisme tentang pelestarian alam dan lingkungannya.

Idealisme tentang pelestarian alam dan lingkungan hidup itulah yang membuatku ingat kepadanya, kesan tentang aktifis lingkungan yang bersih dapat lihat aku pada karakternya. Dia setia mengawal aktifitas kami di organisasi agar tidak melenceng dari haluan-haluan yang telah di tetapkan oleh para pendahulu kami, haluan yang berakhir pada selarasnya hidup manusia dengan alamnya. Akhir yang tampaknya tidak akan pernah tercapai walaupun semua berakhir.

Dia menanggung sebuah amanah, itu yang dikatakannya dalam suatu pertemuan dengan kami-kami yang telah diamanahi kepemimpinan organisasi. Jadi tidak hanya kami, dia juga menanggung amanah dari teman-temannya dan seniornya untuk menjaga organisasi dan kami. Dari teman-temanya yang berhalangan untuk hadir diantara kami karena jarak dan ataupun waktu.

Sejak kami pindah ke sekretariat yang baru, aku jarang melihatnya datang, mungkin lebih tepatnya intensitas kedatangannya tidak seperti waktu kami masih di tempat kami yang lama. Pada awalnya aku berpiki bahwa ini dikarenakan dia tidak suka dengan tempat kami yang baru, namun aku berpikir kembali bahwa mungkin pikiranku salah, aku terlalu berprasangka buruk. Mungkin dia banyak kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Sore itu aku datang ke sekretariat, di duduk atas kursi biru yang kami pindahkan dari auditorium, kursi biru yang kami letakkan di teras depan UKM tetangga seolah-olah tersebut bagian dari wilayah kekuasaan kami. Wajah tanpa senyum namun ramah menyambut kedatanganku yang telah cukup lama tidak bertemu dengan dia sejak tahun lalu aku berangkat ke pulau Jawa. Obrolan ringan mengalir seperti sore-sore biasanya, obrolan antara anggota keluarga tanpa ikatan darah, aku, dia, dan anggota-anggota lain.

Dapat kulihat wajahnya tidak berseri seperti dulu, meskipun tidak menunjukkan senyum yang mengembang, wajahnya tetap ramah. Dapat kulihat tubuhnya lebih berisi namun kurang bersemangat. Cerita tentang sakitnya aku dengarkan dengan perasaan yang sangat tidak tega. Mungkin masih terlalu awal bang untuk sakit seperti ini, kataku dalam pikiran. Namun itulah yang terjadi, ternyata sakitnya lebih parah dari yang terlihat. Hingga beberapa kali mengharuskannya dirawat di rumah penyembuhan.

Sempat sekali aku hampir menjenguknya di rumahnya, namun karena ada urusan keluarga, aku tangguhkan untuk mendatanginya. Beberapa kali terbit inginku untuk menjenguknya, namun selalu batal. Dalam benakku sendiri aku tega untuk melihat sakitnya yang mungkin alaminya terlalu awal, namun hidup mati bukan alam yang menentukan.Hingga kemarin pagi sebuah kiriman di grup kami di FB, kudapati sebuah berita bahwa dia telah pergi. Dia telah pergi dengan diantar oleh teman-temannya, pergi untuk menghadap Pencipta dari alam yang kami cintai, pergi bersama idealisme tentang manusia dan alam.

Ada bagian dari dirimu yang membuatmu tetap hidup diantara kami, yaitu sebuah semangat dan idealisme tentang keselarasan manusia dan alam. Dengan menjaga semangat dan idealisme itu diantara kami, kami akan menunjukkan amanahmu telah dilaksanakan dengan baik, dan kini giliran kami meneruskannya.

Selamat jalan Saudaraku

1 comment:

  1. innalillahi wa inna illahi rojiun... turut berduka cita...

    ReplyDelete