Tuesday, May 7, 2013

Pujian Mematikan


Beberapa dari banyak yang pernah kita lakukan pasti ada yang mendapatkan pujian, "Kamu rajin banget sih!", "Tulisan kamu bagus sekali, sangat ,menginspirasi", dan sebagainya. Sesuatu yang tidak kita lakukan namun memang sudah ada pada diri kita pun bisa mendapatkan pujian dari orang sekitar. "Wah, kulit kamu putih ya!", atau "Wow, baju kamu mahal banget", dan sebagainya dan sebagainya.

Banyak juga orang yang sampai ketagihan dengan pujian dari orang-orang, buruknya adalah apa yang kemudian kita lakukan tidak lagi  menjadi niat ikhlas untuk berbuat sesuatu yang baik tetapi hanya mengharapkan pujian dari makhluk yang lain. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa selain pujian yang sebenarnya semu.

Bagi saya sendiri, pujian adalah sebuah dilema. Satu sisi sebagai makhluk sosial kita senang dengan pujian, namun disisi lain saya merasa pujian itu melemahkan karena bisa membuat kita tinggi hati dan kehilangan produktifitas. Tidak sedikit manusia di bumi ini yang kehilangan banyak hal dalam hidupnya karena hatinya telah menjadi sombong, merasa dirinya paling hebat, dirinya adalah segalanya dan orang lain harus sepaham dengan itu. Akibatnya orang-orang disekitarnya pun mulai meninggalkan dia karena.. siapa yang mau berteman dengan orang sombong.

Bagaimana dengan produktifitas? Jika kita dipuji atas sesutu yang kita miliki atau kita lakukan, kebanyakan orang akan menjadi terpaku pada yang yang dipuji tadi. Jika dia dipuji karena kecantikannya, biasanya orang tersebut akan sangat memperhatikan kecantikannya. Menurut saya tidak salah, tetapi akan menjadi tidak baik jika perhatiannya pada kecantikannya membuat dia tidak lagi memperhatikan hal lain yang sebenarnya dapat membuat dia menjadi produktif (mungkin agak maksa ya, tapi bisa jadi kok).

Bagaimana dengan saya? sebenarnya saya baru menulis beberapa paragraf tentang suatu hal yang memang sudah lama berdiam di dalam tengkorak saya. Dari tulisan itu saya mendapat pujian yang sebenarnya tidak terpikir sama sekali dari saya, istri saya ikut memuji. Karena pujian-pujian itulah saya menulis ini, tanpa bermaksud malah menjadi sombong, saya menjadi ngeri dengan pujian itu. Saya takut saya menjadi terpaku pada tulisan tersebut dan menjadi bangga, kemudian karena terus bangga dan terpaku pada tulisan itu saya kehilangan motivasi atau takut untuk menulis lagi karena takut pujian itu akan rontok saat ternyata tulisan saya selanjutnya tidak sebagus dengan tulisan sebelumnya. Atau bisa jadi saya tidak lagi menulis karena saya sudah merasa hebat bisa membuat suatu tulisan yang bagus.

Kalau kata Faiz Manshur dalam bukunya "Genius Menulis", seorang penulis seharus mati dari tulisannya tersebut. Dia dan tulisannya menjadi dua objek yang tidak ada hubungan lagi. Karena selanjutnya dia harus melanjutkan karyanya dengan tulisan yang lain dan melepas ikatan (secara batin) dengan karnyanya yang telah selesai.

Tapi bagaimanapun pujian itu juga dapat membangun, mendorong kita untuk berkarya lebih baik dari yang telah kita buat sebelumnya. Sehingga karya-karya kita selanjutnya terus menjadi lebih baik dan baik. Jadi pujian tersebut tergantung pada cara kita memandangnya, saya sendiri selalu berusaha agar pujian yang saya terima menjadi pendorong semangat untuk berkarya. Semoga, Amin!

0 comments:

Post a Comment