Saturday, May 4, 2013

Islam adalah agama Logika!


Dari iseng membaca status seorang teman, saya membaca salah satu komentar temannya yang berbunyi "karena memang banyak hal yang tidak logis dalam agama, tapi itulah iman", kalau saya pribadi dalam Islam tidak ada yang tidak logis, setiap ajaran Islam adalah ilmu yang dapat dipahami oleh manusia. Kecuali yang memang Allah SWT melarang kita, misalnya tentang Ruh dan Dzat-Nya, karena biar bagaimanapun kita memikirkannya, akal kita tidak akan dapat memahaminya. Memikirkan proses hidup (kombinasi dan interaksi berbagai sel dan organ tubuh) kita hidup saja kita tidak bisa, apalagi Pencipta kita? Kalau kita memahami proses hidup kita, tentu kita bisa membuat kehidupan, betul tidak?

Nah, kembali ke logika, yang menjadi masalah adalah "siapa yang memikirkannya" dan "kapan dia memikirkannya."
Siapa... misalnya seorang anak SD diberi tahu bahwa sinar itu gelombang. Bagaimana dia bisa membayangkan kalau cahaya yang membuatnya bisa melihat adalah suatu bentuk gelombang? Mungkin dia akan berpikir, dari mana logikanya sinar itu sebenarnya gelombang?
Dari sekian banyak ilmu Allah, logika kita masih terlalu terbatas, namun kita dapat belajar untuk memahaminya seiring bertambahnya ilmu yang kita (manusia) miliki.
Contoh lain misalnya ilmuan kimia ditanya soal politik, pastinya menurut dia politik itu banyak yang tidak logis.

Kapan? maksudnya kapan kita berpikir tentang itu, misalnya di dalam Al-Qur'an dikatakan sesungguhnya gunung2 itu bergerak sperti awan, (saya tidak ingat surah apa dan ayat berapa), saya memahaminya kerak bumi tempat gunung itu berada sebenarnya mengapung di atas cairan panas seperti awan mengapung di atas udara. Logika manusia pada saat itu tentu tidak sampai untuk memahaminya, tapi sekarang kita tahu dibawah kerak bumi memang ada magma tempat mengapungnya kerak bumi. Sekarang logika kita telah sampai pada berita yang 1400 tahun yang lalu masih sebatas iman, sekarang iman kita telah dilengkapi dengan ilmu. Tentu menjadi lebih logis bagi kita pernyataan "Allah menempatkan orang berilmu beberapa derajat lebih tinggi dari orang beriman", karena tentu saja ilmunya telah memperkuat imannya.

Dalam salah satu komentar berikutnya ada pertanyaan "siapa yang punya pohon ini? kalau punya saya, apa buktinya", sangat menarik buat saya, membuat saya berpikir. Kalau zaman dulu kita bisa bilang pohon ini punya saya, dan orang2 sekitar kita akan paham dan tidak mengganggunya. Sampai sekarang hukum ini masih bisa kita temui di perkampungan di mana sertifikat tidak terjangkau oleh masyarakat. 

Bagaimana dengan pertanyaan siapa pemilik alam ini? Apa buktinya Allah adalah satu-satunya yang bertanggung jawab atas penyerahan alam ini kepada manusia? 1400 tahun yang lalu Allah telah menerbitkan sertifikatnya, yang menjelaskan tentang kepemilikan-Nya atas bumi dan langit, dan semua yang ada diantara keduanya. Sertifikat itu adalah Al-Qur'an. Dan seperti semua sertifikat di dunia ini, tentu ada yang menjadi saksi atas kebenarannya. Karena Al-Qur'an itu untuk manusia, maka tentu yang menjadi saksinya adalah manusia, dan hingga saat ini jumlah saksi tersebut adalah lebih kurang 1,5 milyar manusia. 

Bagaimana kalau 1,5 M manusia itu musnah atau berpaling?
Sebagai perumpamaan, saat amerika menyerang jepang (PD II), irak, dan afganistan, berapa banyak penduduk bumi ini percaya dengan klaim mereka (sekutu/Amerika dkk) atas kebenaran? Saya yakin tidak banyak, saksi mereka hanya beberapa pihak yang punya kepentingan dengan mereka. Tapi mereka bisa mengklaim kebenaran mereka, dengan apa?.... tentu dengan kekuatan. Karena itu, meskipun tidak ada lagi manusia di muka bumi ini yang bersaksi atas kebenaran Al-Qur'an, Allah SWT dapat mengklaimnya dengan kekuatan-Nya, dan logika kita terlalu terbatas untuk memahami kekuatannya. 

Kalau Anda tidak percaya juga dengan kebenaran Al-Qur'an, itu bukan masalah buat orang lain. Semua orang berhak memilih posisinya masing, yang jadi masalah kalau Anda memaksakan agama Anda kepada orang lain, secara halus, kasar, maupun  menipu.

0 comments:

Post a Comment