Monday, January 28, 2013

Panas-panasan Bogor dan Pontianak

Saat sedang panas-panasnya di Bogor, saya merasa sepertinya udara Bogor tidak kalah panas dengan Pontianak. Bahkan meskipun Bogor dikenal sebagai kota hujan. Gambaran kota hujan pada saat panas tinggi seperti tidak terlihat sama sekali bagi saya. Bangunan-bangunan bersesakan di setiap sudut kota, kecuali di tengah kota tempat Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor. Jalan disiang hari selalu penuh dengan kendaraan, motor, mobil pribadi, truk, bus-bus ukuran jumbo, dan yang paling parah adalah angkot. Orang bilang Bogor adalah kota seribu angkot, dan itu sudah saya buktikan sendiri setelah lebih dari setahun kemarin tinggal di kota hujan itu.

Bagian paling sejuk dari Bogor memang ada di tengah kota ini, bagian dimana istana Presiden Indonesia berada, dan koleksi hidup tanaman dari seluruh Indonesia disimpan. Walaupun dibagian luarnya tetap seperti kota-kota besar di Indonesia lainnya, sesak dan panas.

Hari ini, berada di Kota Pontianak, menyadarkan saya bahwa Bogor tidak sepanas Pontianak. Hari ini tanpa perlu berlari-lari, cukup dengan duduk di dalam rumah, bulir-bulir keringat seukuran biji jagung keluar dari pori-pori kulit hampir di seluruh permukaan  punggung saya. Sepanas-panasnya Bogor, saya tidak pernah merasakan panas seperti di Kota Khatulistiwa ini. Sebenarnya panas ini merupakan anugerah, namun kita sendiri yang kurang bijak memanfaatkannya. Ditambah lagi, Pontianak sangar kekurangan ruang hijau yang dapat menjadi paru-paru kota (menurut saya). Ruang hijau ini juga yang membedakan Pontianak dengan Bogor, walaupun padat, di Bogor kita masih dapat menemukan pohon-pohon besar yang hijau. Kalau di Pontianak, karena tanahnya gambut, pohon besar lebih sulit untuk tumbuh. Kebanyakan pohon-pohon yang akan menjadi besar akan tumbang.

Rasanya saya ingin membeli termometer, untuk mengamati suhu udara harian di kota Khatulistiwa ini.

0 comments:

Post a Comment