Saturday, January 19, 2013

Cita-cita belia

Setiap ada tentara lewat di depan gang dalam barisan satu peleton saya selalu terdiam berdiri memperhatikan mereka, itu yang ibu saya bilang tentang saya saat masih berumur sekitar lima tahunan. Saya sendiri tidak bisa ingat kejadian itu. Mungkin itu yang dikatakan sebagai cita-cita, tapi kalau ditanya cita-cita saya waktu kecil yang bisa saya ingat saya ingin jadi insinyur pertanian. Saya ingin jadi petani yang punya lahan sendiri, betanam sayur dan lain sebagainye, tapi dengan ilmu yang didapat sebagai seorang insinyur.

Setelah saya ingat-ingat lagi, menjadi tentara atau insinyur pertanian itu cita-cita yang simple. Seperti anak-anak lain dengan cita-cita mereka masing-masing, ada yang ingin jadi dokter, jadi guru, jadi presiden, jadi power rangers, dan sebagainya. Setelah saya pikirkan lagi, kebanyakan dari cita-cita itu adalah mulia. Ingin jadi tentara karena patriotismenya, jadi dokter biar bisa menolong orang banyak, jadi guru karena ingin mengabdi sebagai pengajar yang membuat orang cerdas, ingin jadi presiden biar bisa mengabdi kepada rakyat negaranya (bener tidaknya kurang tahu juga sih!), seperti itu yang saya yakini sekarang.

Sayangnya, berapa banyak dari kita yang benar-benar mengejar cita-citanya saat masih kecil? Berapa banyak dari kita yang benar-benar melaksanakan tujuan awal yang membuat kita mengatakan bahwa kita ingin menjadi dokter, yaitu menolong banyak orang?

Yang saya lihat hari ini... banyak yang ingin jadi guru karena sulit menemukan lapangan pekerjaan lain, banyak yang jadi dokter tapi dengan biaya pengobatan yang melangit (atau terikat kontrak dengan suplier obat-obatan dengan harga mencekik), kalau presiden? Di nilai masing-masing aja ya... :-D

Saya hanya membayangkan, suatu saat nanti orang-orang lebih mendengarkan kata hatinya tentang kemanusiaan dan pengabdian yang tulus dari semua orang yang hidup di dunia, namun saya tetap sadar, itu hanya utopia belaka.

0 comments:

Post a Comment