Thursday, March 15, 2012

Diksi, Persepsi, Substansi, dan Kebenaran

Mari berdiskusi!

DIKSI, PERSEPSI, SUBSTANSI, apa hubungannya dengan KEBENARAN?

Kata-kata ini terngiang-ngiang di kepala saya sepanjang perjalanan pulang dari kampus setelah kuliah metodologi penelitian.  Awal mula dari kemelut dalam kepala saya adalah apakah kebenaran itu relatif atau absolut?  Seperti waktu yang dulu di katakan absolut ternyata relatif, saya tergoda untuk mengetahuinya.  Dari diskusi dengan teman-teman sekelas, kebanyakan teman-teman mengatakan bahwa kebenaran itu relatif.

Tanpa bermaksud mendebat untuk mencari pembenaran, saya utarakan pemikiran saya walaupun mungkin terkesan saya agak terbawa emosi (bukan untuk marah, tapi terlalu bersemangat).  Adapun pertanyaan tersebut ditanggapi dengan penjelasan yang... mungkin terlalu subjektif untuk menilai, jadi saya tampilkan disini saja. biar pembaca yang menilai dan mungkin bisa urun pendapat dan mudah-mudahan bisa memberi saya pencerahan.

Pertanyaan: Apakah kebenaran itu mutlat atau relatif?
Jawaban menurut saya: Mutlak,
Kebenaran yang kita ketahui dibumi ini adalah kebenaran yang kita sepakati bersama.  Jadi kebenaran itu relatif dan hasil kesepakatan, namun... menurut saya apa yang kita sepakati itu bukanlah kebenaran, tapi kesepakatan hasil dari persepsi kita atas sebuah substansi yang diejawantahkan dalam bentuk diksi. Sedangkan kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hanya berasal dari Tuhan yang diturunkan melalui wahyu maupun langsung ke akal pikiran manusia.

Mari beranalogi dengan 1 + 1 = 2. Apakah penjumlahan ini hasilnya mutlak atau relatif.  Kita bisa sepakat bahwa ada 1 tiang, ditambah 1 tiang menjadi 2 tiang.  Namun menurut saya apa yang kita sepakati disini adalah masalah DIKSI, atau pemilihan kata, kita bisa sepakat bahwa ada “tiang”, atau “pilar”, bisa juga ada “satu”atau  “one”, disini dapat kita pahami bahwa apa yang kita sepakati adalah tentang DIKSI, tetapi tidak menyentuh SUBSTANSI.

Menurut saya kebenaran ada pada substansinya, misalnya ada satu tiang, tiang itu berada di tengah lapangan istana negara.  Maka ditengah lapangan istana negara ada satu tiang, tanpa memerlukan kesepakatan atau pendapat dari orang yang berada di Bandung, atau Bogor, atau Pontianak, tiang itu ada di lapangan istana Negara Jakarta.  Bisakah kita mengatakan kebenaran itu relatif? Menurut saya itu mutlak. Mungkin ada yang mengatakan kebenaran dari posisi tiang itu relatif, bisa di sebelah barat saya, atau ditimur si anu, di atas si bujang, dan lain sebagainya. Namun, menurut saya, posisi relatif itu bukan kebenaran, tapi persepsi manusia.

Analogi 2). Seorang buta memegang seekor gajah, dan yang dipegangnya hanya daun teliganya.  Maka di mengatakan bahwa gajah itu lebar dan tipis karena dia hanya memegang telinganya.  Apakah pernyataan ini membenaran pernyataan bahwa kebenaran itu relatif?  Jika ya,  maka kita tidak dapat menyalahkan orang buta tadi yang menyatakan bahwa gajah itu tipis dan lebar.  Selanjutnya kita tidak perlu membetulkan pengetahuaannya tentang gajah karena di benar secara relatif.  Bukankah demikian?

Menurut saya, permasalahan disini bukan soal kebenaran itu relatif, tapi gajah tadi adalah representasi dari apa yang disebut persepsi.  Persepsi terbentuk dari pengalaman panca indera dan pengolahannya dala pikiran kita.  Persepsi orang tunanetra tadi tentu tidak benar, karena kenyataannya gajah ituberbentuk seperti gajah, itulah gajah.  Apakah perlu pendapat orang-orang untuk menyatakan bentuk gajah seperti itu?  Tentu tidak, yang kita sepakati adalah tentang diksi yang lahir dari persepsi bahwa binatang yang besar dalam gambar ini (misalnya) adalah gajah.

Implikasi dari Kebenaran Relatif
Jika kita menganggap kebenaran itu relatif, maka kita tidak bisa menyalahkan seseorang yang bertindak kriminal jika dia menganggap apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran, karena ia berhak menyatakannya sesuai prinsip kebenaran relatif dan ia memiliki teman-taman yang dapat menyatakan dia (si kriminil) benar.
Apakah Tuhan itu benar-benar ada? Jika ada, apakah adanya karena kesepakata kita (relatif) atau karena Dia memang ada?  Menurut saya pribadi, Tuhan ada karena Dia memang ada tanpa perlu kesepakan kita.
Kebenaran adalah sesuatu yang mutlak dalam skala pikiran manusia maupun di luar skala pikiran manusia, yang relatif adalah persepsi dan diksi.

2 comments:

  1. Salam, Mas Jani! Diskusi yang sangat menarik. Topik yang sama dulu pernah menjejal di benak saya saat kuliah dulu.

    Relatif senada dengan apa yg Mas Jani ungkapkan. Saat itu saya membagi kebenaran ke dalam dua prespektif. 1) Absolut; 2) Relatif.

    1) Absolut tentunya prespektif ini tidak akan mampu dicerna manusia kecuali melalui wahyu. Maka fenomena kehidupan ini secara pasti telah dideskripsikan oleh Kitab Allah sehingga tak ada keraguan bagi yang menjadikannya pedoman. Jika kita sebagai manusia menilai suatu benda sangat tergantung dari sudut pandang mana kita menilai, maka Allah dengan mutlak menilai dari sudut pandang menyeluruh. Itulah kebenaran mutlak.

    2) Sementara relatif, ini hanya berupa formasi-formasi imaji manusia yang dengan keterbatasannya merumuskan fenomena dan objek yang dilihatnya dengan bahasanya. Parahnya lagi, manusia memiliki emosi sehingga cenderung membawa emosi dalam setia penilaiannya. Relatif sekali. Saat kita mengatakan 1+1=2 pada kenyataannya satu tiang tambah satu tiang tidak bisa menjadi dua. Tetap saja keduanya adalah satu tiang yang terpisah, karena keterbatasan otak kitalah, akhirnya kita menyederhanakan sebutannya menjadi dua tiang.

    Kalau bahas ini, saya jadi ingat film Luci. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah.. saya sangat mengapresiasi komentarnya mas, tulisan saya benar2 dibaca.. hehe... terimakasih banyak...
      jadi sepertinya kita sepaham, sebenarnya boleh juga sih kebenaran relatif, tapi kembali lagi, relatif itu sebenarnya persepsi... yang lahir dari pemikiran yang dipicu indera manusia... :)

      Delete