Thursday, June 22, 2017

Cara Mengambil Gambar Streetphotography


Banyak sekali contoh "street photography" yang dapat kita temukan di situs-situs internet, Flickr, dan dalam buku dan majalah. Tapi bagaimana caranya kita tahu foto itu bagus atau jelek? Dan bagaimana cara kamu menilai foto kamu sendiri?
Mungkin kamu bisa meng-upload foto kamu ke facebook atau flickr atau lainnya dan melihat komentar dari teman-teman kamu, tapi apakah yang mereka katakan itu benar? Dan berdasarkan apa mereka memberikan komentar itu? Sebenarnya, kebanyakan kritikan tersebut bersifat subjektif.

Dibawah ini adalah sepuluh kriteria tentang "street photography" yang bagus. Setelah kamu membaca artikel ini, lihatlah seberapa baik foto yang kamu ambil berdasarkan 10 aturan ini.

1. Didalam foto itu ada orang

Coba lihat buku street photography, kamu dapat menemukan gambar burung merpati atau bangunan, bukan orang. Gambar ini sering di katakan sebagai 'still life
'. Orang lainnya mengatakan itu adalah sebuah kontradiksi.  Foto ini mungkin sangat bagus berdasarkan hak mereka sendiri. Tapi itu bukan 'street photography'.

2. Wajah orang-orang didalamnya terlihat jelas

Kamu juga dapat melihat street photography yang hanya memperlihatkan punggung orang-orang, atau hanya kaki mereka. Tidak dibutuhkan banyak keberanian untuk mendapatkan gambar seperti itu. Dengan demikian mereka tidak memiliki penanda utama dari kerja street photographer yang  sebenarnya: sebuah close up dari wajah seseorang. Untuk mendapatkan foto seperti ini tidak mengharuskan fotografer untuk  berdiri dihadapan objek.

3. Mata orang-orang didalamnya terlihat

Mata manusia itu dapat mengungkapkan kepribadian, mereka memberitahu kita banyak hal tentang seorang individu. Dan jika kita tidak bisa melihat mata seseorang, itu akan terasa kurang memuaskan. Kita merasa dicurangi.
Jadi, setiap foto dimana objeknya sedang melihat kebawah, melihat ke arah lain, atau memakai kaca mata hitam, sehingga kamu tidak bisa melihat mata mereka - itu adalah sebuah foto yang kurang sempurna.

4. Objek foto adalah normal, bukan performer (penampilan yang disengaja seperti penyanyi dan penari)

Dimana saja kamu melihat atraksi di jalanan, seperti sulap, musisi jalanan, atau bahkan upacara petugas keamanan, kamu akan melihat orang-orang mengambil gambar mereka.
Ada banyak alasan untuk melakukan ini. Sang performer terikat pada satu titik dimana mereka berada, dan harus menghibur orang banyak. Dan si fotografer hanya satu dari sekian banyak kerumunan itu. Jadi dibutuhkan usaha yang lebih banyak untuk mendapatkan foto seperti ini.

5. Gambarnya menarik

Foto yang ideal dapat membingkai personality seseorang. Tidak cukup hanya dengan mendapatkan foto yang tajam dan ter-eksposure dengan baik. Foto juga harus menarik.
Seorang street photographer yang baik memiliki sense of humor, dan menangkap kehidupan yang aneh dari jalanan.
Keanehan itu bisa berupa jajaran orang yang kontras atau adegan emosional, papan visual permainan kata-kata, atau kombinasi dua objek yang seharusnya tidak ada pada satu tempat yang sama.

6. Foto yang menyampaikan sebuah cerita

Gambar sebaiknya dapat menyampaikan sebuah pesan atau membuat kita dapat memahami apa yang sedang terjadi. Jika foto tersebut memiliki sebuah narasi, ia akan menjadi lebih menarik.
Itu sebabnya foto kamu harus menunjukkan dimana kejadiannya berlangsung. Fotonya akan memberikan sebuah potongan kehidupan. Ia membuat kita merenungkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia bisa saja berupa dua orang yang sedang adu argumen. Bisa saja seorang tunawisma yang sedang meminta sedekah. Apapun objeknya, sebaiknya ia dapat menyampaikan sebuah cerita.

7. Berfokus pada perhatian yang melihat

Saat kamu melihat sebuah street photo, kamu harus tahu secara instingtif apa yang seharusnya kamu lihat. Jika terlalu banyak orang didalam foto, kemungkinan akan kurang jelas maksud dari foto tersebut.
Sebagaimana sudah kita lihat diatas, sebuah foto harus menyampaikan sebuah cerita. Dan itu berarti seseorang harus menjadi pahlawan. Seseorang harus berdiri di dalam foto itu sebagai pahlawan tersebut.

8. Gambarnya tajam dan fokus

Foto street photography tidak harus setajam wildlife, nature atau foto portrait. Dengan kealamian dari even yang ada, kamu dapat menangkap kejadian yang hanya sekejap.
Untuk dapat mencapai tingkat ahli, foto yang kamu ambil harus tajam. Foto seperti apapun namun tidak tajam adalah foto amatir. Sebuah foto yang mengalami getaran dari kamera atau tidak fokus tidak dapat diterima.

9. Foto memiliki komposisi yang baik

Foto dengan komposisi yang baik memiliki tema utama, dan tidak dikacaukan dengan fitur yang tidak perlu. Setiap bagian di gambar harus memiliki peran masing-masing dan berkontribusi terhadap foto.
Pusat perhatian harus terletak pada satu dari tiga (prinsip komposisi).
Selanjutnya bisa juga terdapat elemen framing, seperti misalnya pohon yang mengarahkan mata kepada karakter utama foto.

10. Foto tidak memiliki latar belakang mengganggu

Fotografer profesional memberikan perhatian kepada background sebanyak yang diberikan kepada objek, dan amatir tidak melakukan ini.
Itulah sebabnya amatir memiliki menara pemancar mencuat dari kepala orang.
Singkatnya, tembakan yang baik membutuhkan keberanian dan keterampilan

Seorang street photographer yang baik memiliki mata untuk sebuah foto, tangan yang mantap, dan kemauan untuk menempatkan diri mereka dalam risiko. Mereka menghadapi orang-orang dan mengambil gambar mereka, baik diam-diam atau tidak.

Seberapa baik gambar Anda cocok dengan 10 aturan?
Sumber: http://www.dpreview.com/

Thursday, May 25, 2017

Tomistoma Survey: Menyusuri Kapuas dan Leboyan

Danau Sentarum, adalah salah satu taman nasional Indonesia yang berlokasi di daerah perhuluan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Pertama kali saya melihat secara langsung salah satu danau terunik di dunia ini sekitar November 2015. Saat melihat secara langsung tersebut, terbersit cita-cita di benak saya untuk mengunjunginya. Allah Sang Maha Pendengar mengabulkan cita-cita saya tersebut, tidak berapa lama selang dari terbang di atas danau, saya berkesempatan membelah air danau sentarum dari atas speedboat bertenaga 30 pk. Berikut adalah cerita perjalanan tersebut.

bukit tekenang
Pemandangan Danau Sentarum dari Bukit Tekenang
Perjalanan dimulai dari Pontianak dengan anggota terdiri dari Imanul Huda, Hari Prayogo dan Janiarto Paradise. Kami berkumpul di pool Damri Pontianak. Seperti jadwal biasanya, bus berangkat pada pukul 19.00 menuju Sintang. Perjalanan malam hanya menyajikan pemandangan gelapnya tepian jalan yang hanya kadang-kadang berhias lampu rumah masyarakat. Sisanya hanya semak-semak hitam atau perkebunan sawit. Lain dari itu, tidak banyak yang bisa diceritakan.

Keesokan harinya, 4 Januari 2016, Pukul 05.30 kami sampai di Pool Damri Bundaran Tugu Bank Indonesia, Sintang. Taksi yang akan mengantar kami ke tempat tujuan telah datang tidak terlau lama setelah bus sampai. Setelah menumpang shalat di salah satu masjid besar di Sintang perjalanan kami lanjutkan menuju kecamatan Semitau. Untuk menuju Semitau dari Sintang, kami harus melewati Jalan Raya Sintang – Putussibau, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun hingga perbatasan dengan Kabupaten Kapuas Hulu berhasil membuat jackpot perut saya. Namun jackpot kali ini rasanya belum setengah dari yang saya alami dalam perjalanan Bogor-Tasikmalaya.
Memasuki wilayah Kapuas Hulu, jalan yang kami lewati dikenal sebagai jalan Lintas Selatan. Mobil berbelok ke kiri di simpang jalan Sejiram. Dari Simpang Sejiram hingga menjelang Semitau, kondisi jalan akses tidak begitu baik. Sebagian besar masih tanah merah bergelombang. Untungnya saya bisa tidur, sehingga jackpot bisa dihindari.

Sampai di Pasar Semitau 08.30 kami langsung sarapan pagi di salah satu warung kopi. Setelah sarapan, saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa perlengkapan memancing. Berhubung harga joran yang relatif mahal dan tidak terjangkau oleh saya, saya hanya membeli satu gulung benang dan beberapa buah mata kail serta umpan buatan.
Sekitar pukul 9 perjalanan kemudian dilanjutkan ke menuju kantor seksi Balai Taman Nasional Danau Sentarum (BTNDS). Sampai di Kantor Seksi BTNDS, kami beristirahat untuk membersihkan diri dan bersiap untuk belanja. Di kantor seksi Semitau, anggota tim bertambah dengan kedatangan Jefri Irwanto yang akan berperan sebagai driver speedboat dan asisten lapangan. Bang Jefri adalah staff Balai Taman Nasional Danau Sentarum. Sebagai staff lapangan Balai TNDS, Bang Jef sangat menguasai kondisi medan Danau Sentarum. Pada tahun 2004, Bang Jefri pernah menjadi anggota tim survei Tomistoma yang melibatkan PRCF Indonesia, Balai TNDS dan The National Geographic Society.

Pukul 10.30, matahari semakin tinggi, kami berangkat menuju Pasar Semitau menggunakan speedboat untuk belanja persediaan makanan dan berbagai keperluan lainnya seperti baterai untuk penerangan dan obat-obatan. Kegiatan belanja memakan waktu hingga satu setengah jam. Matahari telah berada di puncak langit, kami makan siang di rumah makan Yanti. Pemilik rumah makan ini tampak sangat kenal dengan bang Jeff. Selesai makan dan barang-barang di kemas ke dalam speedboat, kami menuju salah satu masjid di tepian sungai kapuas untuk shalat zuhur.

semitau
Pemandangan Sungai Kapuas dari Ibukota Kecamatan Semitau
Setelah memastikan barang-barang telah dimuat ke dalam speedboat, sekitar pukul 13.30 mesin speedboat dinyalakan. Membelah permukaan Sungai Kapuas, speedboat yang ditumpangi empat orang anggota tim survei berangkat menuju Resort BTNDS Semangit di Desa Leboyan. Perjalanan melintasi Sungai Kapuas membuat saya merasa sangat exited. Jejeran pohon bungur dengan bunga merah muda keunguan menghiasi pinggiran sungai. Dosen saya di IPB pernah bercerita tentang pohon-pohon bungur di kota Pontianak. Dahulu pohon-pohon berbunga cantik tersebut adalah spesies asli dan dominan yang tumbuh di pinggiran pinggirang sungai Kapuas. Seiring dengan perkembangan kota dan dibangunnya kawasan pinggiran sungai menjadi kawasan pemukiman dan perdagangan, bungur semakin jarang ditemui. Namun, di hulu Kapuas, bungur menjadi sabuk hijau kawasan riparian sungai. Bunga-bunga merah muda keunguannya memberikan kontras yang cantik diantara hijaunya daun - daun.

Selain cantiknya bunga bungur, pinggiran sungai Kapuas yang kami lewati juga dihiasi putihnya bulu burung bangau. Mereka tampak hinggap di atas keramba, diatas pohon, atau diatas batang-batang kayu mati yang terdampar di pinggiran sungai. Sebagian langsung terbang berombongan saat kami melintas, sebagian lainnya hanya menatap kearah kami. Bagi saya yang tinggal di Pontianak, jauh dari bentang alam yang masih alami, melihat rombongan bangau putih adalah pengalaman yang luar biasa.
burung bangau
Rombongan Bangau di Tepian Sungai Kapuas (Oleh Imanul Huda)
Masyarakat pinggiran sungai Kapuas umumnya berprofesi sebagai nelayan, selain menangkap ikan, sebagian mereka membudidayakan ikan dengan keramba. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan oleh masyarakat pinggiran sungai Kapuas misalnya ikan toman,  jelawat, dan belida.

Memasuki kawasan TNDS, saya mulai bisa melihat pohon-pohon kayu yang bagian bawahnya terendam air. Pemandangan ini adalah pemandangan khas danau sentarum, pohon-pohon tersebut terendam pada musim hujan selama sembilan bulan setiap tahunnya. Pada musim kemarau selama kurang lebih tiga bulan, Danau Sentarum mengering hingga hanya menyisakan air pada aliran sungai-sungai yang yang lebih dalam. Kawasan danau menjadi sangat rentan terhadap kebakaran, tercatat telah beberapa kali Danau Sentarum mengalami kebakaran. Sampai saat ini kita masih bisa melihat sisa-sisa kebakaran yang terjadi beberapa tahun lalu berupa batang-batang pohon kering menghitam di sebagian area Danau Sentarum.

kebakaran hutan
Batang-batang Kayu Sisa Terbakar akibat Kebakaran hutan di Danau Sentarum
Perjalanan Semitau – Semangit Desa Leboyan membutuhkan waktu sekitar dua jam, tim sampai di Sampai di Resort TNDS Semangit pukul 15.30. Meskipun sepanjang perjalanan hanya duduk, tetap saja lelah mendera. Namun, sajian pemandangan dan lingkungan alami Danau Sentarum segera menjadi alat pelepas lelah. Kantor Resort Semangit TNDS berada dalam kawasan Danau Sentarum, dibangun di pinggiran sungai Leboyan diatas tanah yang senantiasa terendam air untuk beberapa bulan.

Sore itu, sambil waktu kami habiskan untuk menikmati pemandangan Bukit Semujan di arah selatan yang memamerkan tebing-tebingnya yang memanjang dari timur ke barat. Sementara langit semakin merah di barat, burung-burung ramai bernyanyi di pohon-pohon tinggi dibelakang kantor resor yang berwarna  hijau lumut kera. Rombongan Bekantan ikut meramaikan suasana sore itu dengan suara-suaranya yang nyaring, melompat dari satu dahan ke dahan lain. Cukup dekat untuk dilihat, namun telalu jauh untuk lensa kamera saya yang standar pabrikan, hanya menampakkan daun dan batang pohon yang semakin redup bersama tenggelamnya matahari.

bukit semujan
Bukit Semujan dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Sebagaimana umumnya kegiatan lapangan di Indonesia bagian Kalimantan Barat, makan malam kami relatif sederhana. Berlauk mie instant dan sedikit potongan rendah serta ikan teri, kami makan dalam suasana khidmat. Antara terang dan remang lampu yang menggunakan mesin generator yang baru dihidupkan. Suara janggkrik semakin remai, sebagian warga dusun Semangit beristirahat di rumah masing-masing, sebagian kecil lainnya masih beraktifitas di atas keramba yang berisi ribuan ikan toman peliharaan mereka.
semangit
Desa Semangit dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Pukul 19.00, kami mulai bersiap untuk spoting Senyulong di Sungai Leboyan. Persiapan memakan waktu 40 menit, pukul 19.40 kami berangkat menuju hulu sungai Leboyan setelah menjemput Pak Zulkarnain.  Pak Zulkarnain adalah warga Dusun Semangit yang menjadi salah satu staff kontrak Balai TNDS untuk menjadi tenaga lapangan di Resort Semangit. Pengetahuannya tentang kondisi lingkungan sekitar Leboyan menjadi alasan utama bang Jefri mengajak Pak Zulkarnain. Diatas speedboat, pak Zul juga menjadi navigator untuk bang Jefri, selain karena gelapnya sungai, navigator juga sangat dibutuhkan agar speedboat terhindar dari tabrakan dengan batang kayu besar yang tidak nampak oleh pengemudi.

Dari Semangit, kami langsung bergerak menyusuri sungai Leboyan ke arah hulu memasuki Desa Tempurau. Sungai yang berkelok-kelok menjadikan perjalanan ini menarik, walaupun tepian sungai hanya menampakkan pohon-pohon yang hitam. Sesekali saya dapat melihat burung hantu yang bertengger di atas kayu-kayu keramba masyarakat. Menjelang perbatasan Desa Tempurau dengan Desa Melembah , kecepatan speedboat diturunkan hingga kami berhenti di tepian sungai yang berbatas dengan area sawah. Desa Melembah berada di bagian hulu Sungai Leboyan dan berbatasan dengan desa Tempurau. Jika Desa Tempuran berada dalam wilayah TNDS, maka Desa Melembah berada di luar kawasan TNDS yang berbatasan langsung dengan kawasan.

Rute survei dimulai dari perbatasan Desa Tempurau dan Desa Melembah, lebar sungai pada area perbatasan ini lebih kurang 30 meter. Dari titik perbatasan desa, speed bergerak mengikuti aliran sungai tanpa menghidupkan mesin. Survei dilakukan dengan mengikuti aliran sungai dengan mesin speedboat yang tidak dinyalakan. Kecepatan arus sungai relatif tinggi, namun dibandingkan dengan perjalanan berangkat tentu jauh berbeda. Dengan mengikuti kecepatan arus sungai tersebut, saya harus berjuang keras melawan ngantuk. Meskipun mengantuk, saya tetap berusaha untuk tetap terjaga sambil terus mencari dengan mengarahkan sorot senter ke tepian sungai seperti yang dilakukan anggota tim yang lain. Hingga sampai ke desa Tempurau, tidak ada penampakan Buaya Senyulong yang kami dapati. Sambil berharap akan ada perjumpaan besok malam, mesin speedboat kembali dinyalakan dan kami melaju ke arah Semangit.

Sampai di kantor resor Semangit, kami segera mengambil tempat masing-masing untuk meluruskan badan. Diatas kasur yang lumayan empuk, kesadaran segera menguap meninggalkan suara burung dan serangga malam di atas air merah yang nampak hitam di malam kelam.
Bersambung.

Saturday, May 20, 2017

Mie Ayam Keraton, Kemang

Saya sudah beberapa kali dengar tentang Kemang sebagai pusat kuliner Jakarta, hal ini langsung saya buktikan sendiri saat pertama kali datang ke Kemang. Kunjungan pertama saya adalah ke restoran Locarasa yang menyajikan resep-resep makanan bule dengan cita rasa Indonesia. Tapi kali ini saya tidak membahas tentang Lokarasa, kali ini saya ingin berbagi tentang kuliner kaki lima di sekitar kemang. Kuliner ini berada di pertigaaan jalan tidak jauh dari Favehotel Kemang (sekitar 25 meter). Di pojok kuliner ini terdapat beberapa gerobak makanan yang beranekaragam, ada yang menjual martabak manis, warteg, jus buah, kopi, dan mie ayam.

Sebagai penggemar masakan mie, saya tergoda untuk merasai mie ayam di pojok kuliner kemang tersebut. Mie ayam keraton, demikian tag line yang tertulis di bagian depan gerobak tersebut. Nama yang menjanjikan, mungkin abang penjualnya punya resep mie ayam dari keraton. Setelah memesan, tidak butuh waktu lama bagi mas penjualnya untuk menghadirkan mie ayam keraton tersebut di depan saya. Dan, seperti inilah penampilan mie ayam keraton di pusat kulier kemang jakarta yang saya tongkrongi.


Mie ayam Keraton disajikan dengan sedikit kuah, tidak dilengkapi dengan kuah sup seperti mie ayam lain yang pernah saya cicipi di sekitar Jabodetabek. Pertama kali mencicipi, saya langsung sangat senang dengan rasanya. Racikan bumbunya terasa sangat pas, rasa ayam dan bumbu-bumbu pelengkapnya berpadu dengan sangat baik. Terasa segar meskipun tanpa kuah, dilengkapi dengan sedikit sayuran. Kerupuk pangsit yang terpisah di piring kecil tersendiri. Overall, mie ayam keraton di pusat kuliner kemang jakarta ini membuat saya ketagihan sehingga saya kembali menikmatinya di malam berikutnya.

Saturday, March 18, 2017

Padang Gembala Sapi, Nanga Sangan, Kapuas Hulu

Perjalanan adalah aktifitas yang mungkin selalu memberikan kita sesuatu yang baru, baik orang, pengetahuan maupun barang. Demikian pula perjalanan saya ke Nanga Sangan yang untuk kesekian kali bersama tim proyek air bersih dari Lembaga Energ Hijau akhir Januari kemarin. Saya melihat padang gembala sapi yang telah tidak terpakai lagi, padang rumput yang hijau menjadi pemandangan yang sangat menghibur.

Selain hamparan rumput, hamparan padang gembala ini juga berhias beberapa pohon dan sungai dengan air bening yang mengalir membelah padang. Ada juga air terjun kecil yang menghiasi bagian pinggir yang agak curam. Jika akses menuju  padang gembala ini cukup baik, mungkin banyak orang yang tertarik untuk membangun rumah.

Pemandangan Padang Gembala, Nanga Sangan
Air Terjun Kecil di Padang Gembala

Tuesday, March 14, 2017

Kesegaran Kecombrang di Heart of Borneo

Jauh dari arus kendaraan yang mengental di banyak titik, hiruk pikuk pasar laksana sarang lebah. Salah satu wilayah kerja saya berada di kawasan jantung Kalimantan, atau sering disebut sebagai Heart of Borneo. Seperti pada kegiatan-kegiatan sebelumnya di desa Tanjung, pagi kami disambut pemandangan bentangan Bukit Belang yang kadang bersih dan kadang berhias kabut putih. Sarapan pagi bukan hal yang umum di desa Tanjung, namun berhubung ada tamu, empunya rumah memasak pagi-pagi untuk menghibur kami. Sebenarnya saya sendiri merasa sungkan, tapi lebih baik sungkan daripada sakit, kan?

Disamping nasi dan lauknya, pagi itu perhatian saya tersita oleh sayuran berwarna merah mirip bunga yang dicincan. Ternyata sayur yang saya lihat itu memang bunga yang dicincang bersama tangkai tanamannya. Setelah menanyakan dan tahu nama tanamannya, saya langsung mencobanya. Pada kunyahan pertama, saya langsung menyukai sayuran tersebut. Antara pedas, segar dan wangi. Rasa yang membuat saya ketagihan. Sayuran tersebut adalah sayur dari tumbuhan Simpur, namun bukan daun simpur seperti yang umum dikenal di wilayah pesisir Kalimantan Barat. Simpur di Kapuas Hulu adalah tumbuhan yang termasuk dalam keluar Zingiberaceae,  di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai Kecombrang.
simpur kecombrang
Tumis Bunga Kecombrang
Berdasarkan informasi dari beberapa sumber, ternyata kecombrang memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya Meningkatkan energi, Mengobati penyakit campak, mengobati anemia, memperlancar sirkulasi darah, menguatkan tulang, mengatasi luka, menguatkan memori, menguatkan gigi dan mencegah dehidrasi. Kecombrang juga bisa digunakan untuk meredakan demam pada anak-anak.

kuncup kecombrang
Kuncup Bunga Kecombrang

Kecombrang merupakan salah satu hasil hutan yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai bahan makanan, penampilan bung kecombrang juga relatif menarik, sehingga tumbuhan ini bisa juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

Bunga Kecombrang (By Josch13/Pixabay)
Selain kecombrang, masih banyak hasil hutan bukan kayu lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Hutan di Kabupaten Kapuas Hulu memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang besar, dan sebagian dari potensi tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. Beragam hasil hutan bukan kayu tersebut dapat diolah sedemikian rupa menjadi produk kuliner tradisional yang khas. Produk kuliner tersebut juga dapat dijadikan salah satu pelengkap dalam pengembangan bidang pariwisata.

Thursday, June 23, 2016

Refreshing dan Camping di Bukit Wangkang, Kubu Raya

Camping bagi saya sendiri seperti sebuah tombol refresh dari kehidupan sehari-hari dengan berbagai kesibukannya. Namun tentu saja kegiatan ini akan asik sekali kalau dilakukan beramai-ramai, untuk saya yang menurut beberapa test termasuk orang yang ekstrovert. Alhamdulillah kesempatan untuk camping ramai-ramai itu datang juga, saat sedang ngumpul di sekretariat Mapala, salah satu anggota yang sedang ngumpul memberitahukan bahwa mereka berencana untuk camping di bukit Wangkang yang terletak di Kabupaten Kubu Raya. Bukit yang baru beberapa bulan belakangan saya dengar namanya, dan memang ingin juga saya mengunjunginya.
Baca juga:
8 Alasan Ilmiah Kenapa Anda Harus Lebih Banyak Berkegiatan di Alam Bebas

Ramai-ramai di Batu sekitar Puncak Bukit Wangkang
Singkat cerita, sabtu tanggal 28 Mei 2016 kemarin kami berangkat menuju Bukit Wangkang. Rencana awal untuk berangkat pukul 9 tertunda hingga beberapa jam. Sekitar pukul 13.30 kami berangkat dari sekretariat, awan hitam menggantung di barat langit. Meskipun kemungkin besar angin barat akan membawa gumpalan-gumpalan raksasa itu kearah yang sama dengan kami, saya tetap optimis kami akan berhasil mencapai tempat yang kami tuju.

Siang itu, hujan memang menjadi rezeki kami, saat baru saja keluar dari pintu gerbang kota, hujan yang lumayah deras turun meskipun baru ujung dari gumpalan itu yang sampai. Hujan turun tidak terlalu lama, tapi arah angin cukup mudah untuk dibaca menahan saya dari membuka jas hujan yang saya kenakan.

Memasuki daerah Rasau, gumpalan hitam raksasa menutupi langit diatas kami. Deras air yang jatuh cukup menggentarkan hati saya, tapi belum sampai menyurutkan semangat untuk bertualang. Dalam hati saya berpikir, hujan ini adalah ujian pertama dalam perjalanan ini, dalam hati pula saya bertanya... "akankah ada yang surut semangat?"
Ternyata tidak, nyanyian yang saya lantunkan dalam hati keluar dari mulut rekan yang lain...
"Panas terik... hujan berangin... majulah ayo maju! Ayo maju".

Saya mengira kami akan menyeberang di dermaga Rasau Jaya, ternyata salah. Motor belok ke kanan melintasi jalan pedesaan yang lebih kecil dan lebih banyak mozaik lubang, batu dan genangan air. Motor saya pacu perlahan, lubang-lubang di jalan memberi efek yang kurang nyaman untuk punggung saya. Ternyata pemiliki motor yang saya bonceng berpikir kecepatan kami terlalu rendah, tapi saya memang terkadang menerapkan pepatah orang jawa... alon-alon asal kelakon. Menjelang jam lima sore, kami masih menggilas jalan tanah merah perkebunan kelapa sawit yang basah. Untungnya tanah merah tersebut tidak terlalu adhesif dengan ban motor, dan cukup solid untuk dilindas.

Garis-garis jalan Perkebunan Sawit tampak dari atas Bukit Wangkang (abaikan orangnya :p)
Setelah sempat berputar-putar karena jalan pintas yang rencananya akan kami lewati ternyata terputus karena terendam, akhirnya kami sampai di pemukiman masyarakat yang berada di kaki bukit. Hujan rintik masih mengiringi perjalanan kami, mungkin hujan juga yang membuat suasan kampung terasa agak sepi.

Kami singgah di rumah ketua RT setempat untuk memberitahukan rencana kami naik ke Bukit Wangkang sekaligus untuk menitipkan kendaraan kami yang tidak mungkin dibawa muncak. Proses penitipan dan pemberitahuan ini tidak memakan waktu lama, kami langsung bergerak menuju kaki bukit dimana terdapat gazebo yang bisa kami gunakan untuk isho sejenak. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Alhamdulillah shalat masih dapat diraih.

Hari semakin gelap, pemandangan pohon-pohon di dalam hutan yang masih terhitung hutan hujan tropis ini hanya menyisakan siluet-siluet tiang tinggi dengan percabangan-percabangan di bagian atasnya. Mungkin masih sangat dekat dengan keramaian manusia, tapi rasanya cukup untuk bermesraan dengan alam. Bukit Wangkang bukan gunung yang tinggi, dari permukaan laut tingginya sekitar 340-an meter, namun untuk kegiatan tracking amatir, rasanya cukup memuaskan saya.

Jalan setapak yang kami lalui tampaknya relatif sering dilalui oleh manusia, apa yang mereka cari? Menurut salah satu Alang, diatas puncak bukit ini terdapat kelenteng yang menjadi tempat orang Tionghoa beribadah, selain itu, bukit Wangkang memang sering dikunjungi pemuda-pemudi di sekitar kawasan untuk berekreasi. Hal ini kami buktikan keesokan harinya saat sampai di puncak bukit.

Mungkin antara pukul 7 dan pukul 8 malam, kami sampai di area yang agak lapang namun tetap di bawah kanopi pepohonan yang relatif lebat. Masih dalam gerimis mengundang yang membasahi dan dan batang-batang kayu, masing-masing orang mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Sebagian mendirikan shelter, sebagian menyiapkan api, sebagian berusaha untuk tampak sibuk, yang terakhir ini adalah saya sendiri.
Baca juga:
Sehat dan Awet Muda dengan Camping

Kayu yang basah tidak bisa menjadi alasan kenapa begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api, namun jenis kayu yang tersedia di lokasi menurut saya cukup kuat untuk menjadi alasannya. Kayu sudah dicacah, namun sulit untuk hidup. Namun, bagaimanapun, berkat kerja keras dan ulet dari teman-teman, api tersebut menyala. Kami bisa menghangatkan diri dan memasak untuk makan malam kami yang sudah agak terlambat.

Lepas urusan perut, masing-masing mencari kesibukan lagi. Sebagian bercengkrama di sekitar tenda, sebagian lain kembali mencari ikan di sungai-sungai kecil tidak jauh dari camp. Alang yang sebelumnya pernah berkunjung ke Bukit Wangkang menceritakan bahwa di sungai-sungai kecil tersebut banyak terdapat ikan lele liar yang bisa ditangkap dengan cara dipancing.  Sebagai umpannya, kami mencari udang-udang kecil yang terdapat di sungai tersebut. Cukup banyak udang yang kami dapatkan, walaupun dengan gampang-gampang susah. Karena tidak juga mendapatkan ikan dan waktu semakin malam, pancing di tajur dan kami kembali ke camp. Kembali bercengkrama beramai-ramai, dibawah rindang pohon-pohon dan bintang-bintang yang mengintip di balik daun-daun yang tampak hitam.

Saya duduk di atas matras yang digelar di samping api yang menyala dan terjaga, mengelilingi api tersebut kami berbicara apa saja yang terlintas dalam pikiran. Kebanyakan cerita suka suka dan lucu-lucu yang sering terjadi di sekretariat kami yang tercinta. Inilah bagian yang paling saya senangi dari camping ramai-ramai, mendengarkan cerita-cerita lucu dari teman-teman, walaupun seringnya saya akan cepat tertidur, dan memang demikianlah yang terjadi malam itu.

Hingga waktu yang semakin larut mengajak kami semua untuk tidur, kecuali saya yang memang sudah tertidur bergelung di atas matras dan kecuali yang bertugas untuk jaga malam, dan tentu saja itu bukan saya... hehehe. Ternyata doom yang dibawa tidak cukup untuk menampung kami semua, kecuali dipaksakan jika turun hujan. Bersyukurnya, hujan tidak turun malam itu, sehingga sebagian dari rombongan ada yang tetap diluar sambil jaga malam. Menjelang subuh baru mereka tidur, seperti shift jaga.

Rasanya waktu tidur hanya singkat, tapi cukup untuk mengistirahatkan tubuh dari lelah perjalanan dan sedikit pendakian kemarin. Burung-burung bernyanyi di pucuk-pucuk dan di cabang-cabang pohon dengan tinggi hingga 20 meter, menceriakan pagi itu. Di dekat api yang menyala sejak malam sebelumnya, sebuah nampan tampak berisi sesuatu. Ternyata ikhtiar memancing yang dengan serius di gawai oleh kawan-kawan membuahkan hasil, jadilah kami makan daging pagi itu. Daging ikan lele.

sarapan di bukit wangkang
Siap-siap Sarapan
Setelah kampung tengah mendapatkan jatahnya, rombongan kembali membagi tugas secara otomatis tanpa komando. Sebagian mencuci alat masak dan alat makan, sebagian membersihkan diri, sebagian mengeluarkan sesuatu yang tidak bersih, dan sebagian mungkin ada yang kurang bersih... hehe

Waktu tampak seperti sungai-sungai yang santai di permukaan namun deras di dalamnya. Kami mengemaskan barang dengan segera untuk mengejar puncak. Segera setelah semua barang di packing sekitar pukul 10, kami berbaris melewati jalan setapak yang tidak terlalu curam. Sisa-sisa hujan kemarin sore masih tampak dari permukaan tanah dan daun-daun lantai hutan yang masih basah.  Hanya sedikit bagian dari track ini yang agak menanjak, walaupun sedikit, cukup untuk memaksa rombongan untuk berhenti sejenak menarik lebih dalam udara segar hutan Bukit Wangkang. Sebenarnya track yang kami lewati tidak terlalu berat dan, tapi karena beberapa kali beristirahat sambil bercanda dan bercerita, setelah dua jam baru kami sampai di tumpukan batu tidak jauh dari puncak bukit.

Senjata utama untuk perjalanan telah siap sejak di Pontianak, kamera yang telah cukup lama menemani hampir semua perjalanan saya dan dinda. Kali ini, sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat untuk memotret pemandangan dari atas bukit tersebut, namun melihat semangat adik-adik yang tinggi untuk bernarsis ria, jadilah mereka yang menjadi objek utama foto yang saya ambil, dan tentu saja saya sendiri dengan meminta salah satu dari mereka untuk mengambil gambar saya.

Kawasan perbukitan di kawasan Kubu Raya ini cukup luas dengan pohon-pohon besar yang masih tersisa. Namun kawasan perbukitan ini seperti pulau di lautan perkebunan monokultur yang tampak seperti jaring-jaring kotak-kotak berwarna hijau dengan garis-garis berwarna coklat kemerahan. Bagi saya, pemandangan itu menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan, walaupun dipandang dari ketinggian. Jadi saya lebih senang mengambil Pemandangan hutan-hutan dari atas bukit.

Setelah puas mengambil gambar pemandangan dan anggota rombongan di atas batu-batu yang sebenarnya tampak agak mengerikan jika berdiri di pinggirnya itu, kami naik sedikit kearah puncak dan beristirahat dibawah pohon yang cukup rindang namun agak terang karena dihadapan kami pohon-pohon tumbuh tidak terlalu rapat. Waktu istirahat tersebut bersamaan dengan waktu makan. Untungnya masih ada sisa nasi dari pagi yang tidak habis yang dibawa, ada juga sambal goreng tempe dan bihun yang dibawa salah satu anggota rombongan. Jadilah kami makan seadanya sekedar mengganjal perut sebagai bahan bakar untuk perjalan turun kami.

Perjalanan turun hanya revers dari perjalanan naik, kami langsung menuju kaki bukit ke kampung tempat kami menitipkan motor. Setelah mengurus administrasi dengan ketua RT, kami langsung berangkat pulang. Setelah sempat tersesat di perkebunan kelapa sawit yang tampak serba sama di semua sudutnya, dan sempat merasakan hujan deras sekali lagi di Rasau, kami pun sampai di kediaman masing-masing.

Wednesday, April 27, 2016

Hiking Ternyata Bisa Membuat Otak Manusia Lebih Kreatif

Tanpa melihat hasil-hasil penelitian para ahli, kita semua mungkin percaya bahwa tracking melintasi hutan atau mendaki gunung bisa membersihkan pikiran negatif, tubuh dan jiwa. Namun demikian, sekedar informasi untuk anda, penelitian serius tentang hal itu telah dilakukan, dan hasilnya, hiking memang bisa merubah otak kita menjadi lebih baik. Penelitian ini adalah sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences yang menemukan bahwa menghabiskan waktu di alam bebas dapat menurunkan pikiran negatif dengan margin yang signifikan.

Kegiatan Pendakian Gunung
Untuk melakukan penelitian ini, peneliti membandingkan catatan kecemasan peserta yang menjelajah di lingkungan perkotaan dan lingkungan alam. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang berjalan selama 90 menit dalam lingkungan alam melaporkan tingkat kecemasan yang lebih rendah dan mereka juga mengalami penurunan aktivitas saraf di korteks prefrontal subgenual, area otak yang berhubungan dengan penyakit mental. Mereka yang berjalan di lingkungan perkotaan tidak melaporkan penurunan kecemasan.

Para peneliti mencatat bahwa peningkatan urbanisasi berkorelasi tinggi dengan peningkatan kasus depresi dan penyakit mental lainnya. Meluangkan waktu secara teratur untuk menjauh dari kawasan perkotaan dan menghabiskan lebih banyak waktu di alam dapat sangat bermanfaat secara psikologis (dan fisik).
Baca juga:
Tentang Kegiatan Mountaineering

Menjelajah sambil menjauh dari Teknologi dapat  Meningkatkan Kemampuan Creative Problem Solving

Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Ruth Ann Atchley dan David L. Strayer menemukan bahwa pemecahan masalah secara kreatif dapat secara drastis ditingkatkan dengan memutuskan hubungan dari teknologi dan berhubungan kembali dengan alam. Peserta dalam penelitian ini pergi backpacking melalui alam selama sekitar 4 hari, selama waktu mereka tidak diizinkan untuk menggunakan teknologi apapun. Mereka diminta untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran kreatif dan masalah yang kompleks, dan peneliti menemukan bahwa kinerja pada tugas pemecahan masalah meningkat hingga 50% bagi mereka yang mengambil bagian dalam percobaan menjelajah bebas teknologi.

Para peneliti dari studi ini mencatat bahwa teknologi dan kebisingan perkotaan sangat mengganggu, terus mengalihkan perhatian kita dan mencegah kita untuk fokus, yang semuanya dapat mengganggu fungsi kognitif kita. Peningkatan yang sangat bermanfaat, menjauh dari teknologi, dapat mengurangi kelelahan mental, menenangkan pikiran, dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Baca juga:
Trekking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas
Tips Memilih Lokasi Camping yang Tepat

Menjelajah Dapat Memperbaiki ADHD Pada Anak 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada saat ini menjadi lebih dan lebih umum di antara anak-anak. Anak-anak yang memiliki ADHD memiliki kesulitan dalam mengontrol impuls dan tetap fokus, mereka teralihkan dengan mudah, dan menunjukkan hiperaktif yang berlebihan.

Membesarkan anak-anak yang memiliki ADHD bisa sulit bagi orang tua, solusi yang biasa di gunakan oleh banyak orang tua adalah menggunakan obat-obatan, namun solusi ini dapat lebih berbahaya. Padahal solusi alami dapat memberikan hasil yang lebih baik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Frances E Kup, PhD, dan Andrea Faber Taylor, PhD, menemukan bahwa mengekspos anak-anak dengan ADHD dengan "kegiatan di alam bebas" dapat mengurangi gejalanya secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan terpapar suasana alam bebas dapat menguntungkan siapa pun yang memiliki masalah dalam fokus dan / atau menunjukkan perilaku impulsif.

Menjelajahi Alam Adalah Latihan yang sangat bermanfaat Dan karena itu bisa Meningkatkan Kemampuan Otak

Kita sudah tahu bahwa berolahraga memberikan manfaat yang luar biasa untuk kesehatan kita secara keseluruhan. Hiking adalah cara terbaik untuk membakar antara 400-700 kalori per jam, tergantung pada ukuran dan kesulitan mendaki, dan lebih aman untuk sendi dari kegiatan lain seperti berlari. Juga telah dibuktikan bahwa orang yang berolahraga di luar lebih mungkin untuk terus konsisten dan tetap komit pada program mereka, hal ini menjadikan kegiatan mendaki adalah pilihan yang sangat baik bagi mereka yang ingin menjadi lebih aktif secara teratur.

Para peneliti dari University of British Columbia menemukan bahwa latihan aerobik meningkatkan volume hipokampus - bagian dari otak yang berhubungan dengan memori spasial dan episodik - pada wanita di atas usia 70. Latihan tersebut tidak hanya memperbaiki masalah kehilangan memori, tetapi juga membantu mencegah terjadinya memory loss tersebut. Para peneliti juga menemukan bahwa hal itu juga dapat mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan harga diri, dan melepaskan endorfin. Banyak orang  menggunakan obat untuk mengatasi masing-masing masalah dan setiap satu dari masalah ini, tetapi solusi untuk penyakit ini mungkin jauh lebih sederhana dari yang Anda pikirkan!
Baca juga:
Camping Membuang Jenuh

Tertarik untuk Hiking? Bagaimana Anda Bisa Mulai Untuk Menjelajah?

Untungnya, hiking adalah salah satu olahraga yang mudah dan paling murah untuk dilakukan, namun dapat memberikan manfaat besar! Anda bisa memulai olah raga ini dari skala ringan untuk menguji kemampuan Anda. Bersama waktu anda akan menemukan bentuk pendakian yang sesuai untuk Anda - walaupun hanya berjalan di sekitar jalan taman, tidak masalah. Untuk mencari lokasi yang sesuai untuk anda, Anda bisa mencarinya secara online menggunakan peta online, dan ada banyak aplikasi smartphone bisa melakukannya untuk anda, juga. Selama kegiatan menjelajah tersebut, matikan sinyal telpon Anda, jadi Anda dapat menuai manfaat lebih banyak (meskipun mungkin perlu membawanya juga, setidaknya untuk keadaan darurat).
Baca juga:
Pendaki Wanita Tewas di Gunung Gede

Pastikan Anda memiliki perlengkapan hiking yang baik seperti sepatu, topi, dan botol air, dan pastikan pakaian yang anda gunakan dapat menyerap keringat dengan baik dan segera kering. Anda mungkin bisa juga menggunakan Trekking Poles, yang dapat meningkatkan kecepatan dan mengurangi sedikit tekanan pada lutut. Sekarang, lets rock!
Baca juga:
10 Perlengkapan Utama Kegiatan Alam Bebas
Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung