Thursday, May 25, 2017

Tomistoma Survey: Menyusuri Kapuas dan Leboyan

Danau Sentarum, adalah salah satu taman nasional Indonesia yang berlokasi di daerah perhuluan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Pertama kali saya melihat secara langsung salah satu danau terunik di dunia ini sekitar November 2015. Saat melihat secara langsung tersebut, terbersit cita-cita di benak saya untuk mengunjunginya. Allah Sang Maha Pendengar mengabulkan cita-cita saya tersebut, tidak berapa lama selang dari terbang di atas danau, saya berkesempatan membelah air danau sentarum dari atas speedboat bertenaga 30 pk. Berikut adalah cerita perjalanan tersebut.

bukit tekenang
Pemandangan Danau Sentarum dari Bukit Tekenang
Perjalanan dimulai dari Pontianak dengan anggota terdiri dari Imanul Huda, Hari Prayogo dan Janiarto Paradise. Kami berkumpul di pool Damri Pontianak. Seperti jadwal biasanya, bus berangkat pada pukul 19.00 menuju Sintang. Perjalanan malam hanya menyajikan pemandangan gelapnya tepian jalan yang hanya kadang-kadang berhias lampu rumah masyarakat. Sisanya hanya semak-semak hitam atau perkebunan sawit. Lain dari itu, tidak banyak yang bisa diceritakan.

Keesokan harinya, 4 Januari 2016, Pukul 05.30 kami sampai di Pool Damri Bundaran Tugu Bank Indonesia, Sintang. Taksi yang akan mengantar kami ke tempat tujuan telah datang tidak terlau lama setelah bus sampai. Setelah menumpang shalat di salah satu masjid besar di Sintang perjalanan kami lanjutkan menuju kecamatan Semitau. Untuk menuju Semitau dari Sintang, kami harus melewati Jalan Raya Sintang – Putussibau, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun hingga perbatasan dengan Kabupaten Kapuas Hulu berhasil membuat jackpot perut saya. Namun jackpot kali ini rasanya belum setengah dari yang saya alami dalam perjalanan Bogor-Tasikmalaya.
Memasuki wilayah Kapuas Hulu, jalan yang kami lewati dikenal sebagai jalan Lintas Selatan. Mobil berbelok ke kiri di simpang jalan Sejiram. Dari Simpang Sejiram hingga menjelang Semitau, kondisi jalan akses tidak begitu baik. Sebagian besar masih tanah merah bergelombang. Untungnya saya bisa tidur, sehingga jackpot bisa dihindari.

Sampai di Pasar Semitau 08.30 kami langsung sarapan pagi di salah satu warung kopi. Setelah sarapan, saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa perlengkapan memancing. Berhubung harga joran yang relatif mahal dan tidak terjangkau oleh saya, saya hanya membeli satu gulung benang dan beberapa buah mata kail serta umpan buatan.
Sekitar pukul 9 perjalanan kemudian dilanjutkan ke menuju kantor seksi Balai Taman Nasional Danau Sentarum (BTNDS). Sampai di Kantor Seksi BTNDS, kami beristirahat untuk membersihkan diri dan bersiap untuk belanja. Di kantor seksi Semitau, anggota tim bertambah dengan kedatangan Jefri Irwanto yang akan berperan sebagai driver speedboat dan asisten lapangan. Bang Jefri adalah staff Balai Taman Nasional Danau Sentarum. Sebagai staff lapangan Balai TNDS, Bang Jef sangat menguasai kondisi medan Danau Sentarum. Pada tahun 2004, Bang Jefri pernah menjadi anggota tim survei Tomistoma yang melibatkan PRCF Indonesia, Balai TNDS dan The National Geographic Society.

Pukul 10.30, matahari semakin tinggi, kami berangkat menuju Pasar Semitau menggunakan speedboat untuk belanja persediaan makanan dan berbagai keperluan lainnya seperti baterai untuk penerangan dan obat-obatan. Kegiatan belanja memakan waktu hingga satu setengah jam. Matahari telah berada di puncak langit, kami makan siang di rumah makan Yanti. Pemilik rumah makan ini tampak sangat kenal dengan bang Jeff. Selesai makan dan barang-barang di kemas ke dalam speedboat, kami menuju salah satu masjid di tepian sungai kapuas untuk shalat zuhur.

semitau
Pemandangan Sungai Kapuas dari Ibukota Kecamatan Semitau
Setelah memastikan barang-barang telah dimuat ke dalam speedboat, sekitar pukul 13.30 mesin speedboat dinyalakan. Membelah permukaan Sungai Kapuas, speedboat yang ditumpangi empat orang anggota tim survei berangkat menuju Resort BTNDS Semangit di Desa Leboyan. Perjalanan melintasi Sungai Kapuas membuat saya merasa sangat exited. Jejeran pohon bungur dengan bunga merah muda keunguan menghiasi pinggiran sungai. Dosen saya di IPB pernah bercerita tentang pohon-pohon bungur di kota Pontianak. Dahulu pohon-pohon berbunga cantik tersebut adalah spesies asli dan dominan yang tumbuh di pinggiran pinggirang sungai Kapuas. Seiring dengan perkembangan kota dan dibangunnya kawasan pinggiran sungai menjadi kawasan pemukiman dan perdagangan, bungur semakin jarang ditemui. Namun, di hulu Kapuas, bungur menjadi sabuk hijau kawasan riparian sungai. Bunga-bunga merah muda keunguannya memberikan kontras yang cantik diantara hijaunya daun - daun.

Selain cantiknya bunga bungur, pinggiran sungai Kapuas yang kami lewati juga dihiasi putihnya bulu burung bangau. Mereka tampak hinggap di atas keramba, diatas pohon, atau diatas batang-batang kayu mati yang terdampar di pinggiran sungai. Sebagian langsung terbang berombongan saat kami melintas, sebagian lainnya hanya menatap kearah kami. Bagi saya yang tinggal di Pontianak, jauh dari bentang alam yang masih alami, melihat rombongan bangau putih adalah pengalaman yang luar biasa.
burung bangau
Rombongan Bangau di Tepian Sungai Kapuas (Oleh Imanul Huda)
Masyarakat pinggiran sungai Kapuas umumnya berprofesi sebagai nelayan, selain menangkap ikan, sebagian mereka membudidayakan ikan dengan keramba. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan oleh masyarakat pinggiran sungai Kapuas misalnya ikan toman,  jelawat, dan belida.

Memasuki kawasan TNDS, saya mulai bisa melihat pohon-pohon kayu yang bagian bawahnya terendam air. Pemandangan ini adalah pemandangan khas danau sentarum, pohon-pohon tersebut terendam pada musim hujan selama sembilan bulan setiap tahunnya. Pada musim kemarau selama kurang lebih tiga bulan, Danau Sentarum mengering hingga hanya menyisakan air pada aliran sungai-sungai yang yang lebih dalam. Kawasan danau menjadi sangat rentan terhadap kebakaran, tercatat telah beberapa kali Danau Sentarum mengalami kebakaran. Sampai saat ini kita masih bisa melihat sisa-sisa kebakaran yang terjadi beberapa tahun lalu berupa batang-batang pohon kering menghitam di sebagian area Danau Sentarum.

kebakaran hutan
Batang-batang Kayu Sisa Terbakar akibat Kebakaran hutan di Danau Sentarum
Perjalanan Semitau – Semangit Desa Leboyan membutuhkan waktu sekitar dua jam, tim sampai di Sampai di Resort TNDS Semangit pukul 15.30. Meskipun sepanjang perjalanan hanya duduk, tetap saja lelah mendera. Namun, sajian pemandangan dan lingkungan alami Danau Sentarum segera menjadi alat pelepas lelah. Kantor Resort Semangit TNDS berada dalam kawasan Danau Sentarum, dibangun di pinggiran sungai Leboyan diatas tanah yang senantiasa terendam air untuk beberapa bulan.

Sore itu, sambil waktu kami habiskan untuk menikmati pemandangan Bukit Semujan di arah selatan yang memamerkan tebing-tebingnya yang memanjang dari timur ke barat. Sementara langit semakin merah di barat, burung-burung ramai bernyanyi di pohon-pohon tinggi dibelakang kantor resor yang berwarna  hijau lumut kera. Rombongan Bekantan ikut meramaikan suasana sore itu dengan suara-suaranya yang nyaring, melompat dari satu dahan ke dahan lain. Cukup dekat untuk dilihat, namun telalu jauh untuk lensa kamera saya yang standar pabrikan, hanya menampakkan daun dan batang pohon yang semakin redup bersama tenggelamnya matahari.

bukit semujan
Bukit Semujan dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Sebagaimana umumnya kegiatan lapangan di Indonesia bagian Kalimantan Barat, makan malam kami relatif sederhana. Berlauk mie instant dan sedikit potongan rendah serta ikan teri, kami makan dalam suasana khidmat. Antara terang dan remang lampu yang menggunakan mesin generator yang baru dihidupkan. Suara janggkrik semakin remai, sebagian warga dusun Semangit beristirahat di rumah masing-masing, sebagian kecil lainnya masih beraktifitas di atas keramba yang berisi ribuan ikan toman peliharaan mereka.
semangit
Desa Semangit dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Pukul 19.00, kami mulai bersiap untuk spoting Senyulong di Sungai Leboyan. Persiapan memakan waktu 40 menit, pukul 19.40 kami berangkat menuju hulu sungai Leboyan setelah menjemput Pak Zulkarnain.  Pak Zulkarnain adalah warga Dusun Semangit yang menjadi salah satu staff kontrak Balai TNDS untuk menjadi tenaga lapangan di Resort Semangit. Pengetahuannya tentang kondisi lingkungan sekitar Leboyan menjadi alasan utama bang Jefri mengajak Pak Zulkarnain. Diatas speedboat, pak Zul juga menjadi navigator untuk bang Jefri, selain karena gelapnya sungai, navigator juga sangat dibutuhkan agar speedboat terhindar dari tabrakan dengan batang kayu besar yang tidak nampak oleh pengemudi.

Dari Semangit, kami langsung bergerak menyusuri sungai Leboyan ke arah hulu memasuki Desa Tempurau. Sungai yang berkelok-kelok menjadikan perjalanan ini menarik, walaupun tepian sungai hanya menampakkan pohon-pohon yang hitam. Sesekali saya dapat melihat burung hantu yang bertengger di atas kayu-kayu keramba masyarakat. Menjelang perbatasan Desa Tempurau dengan Desa Melembah , kecepatan speedboat diturunkan hingga kami berhenti di tepian sungai yang berbatas dengan area sawah. Desa Melembah berada di bagian hulu Sungai Leboyan dan berbatasan dengan desa Tempurau. Jika Desa Tempuran berada dalam wilayah TNDS, maka Desa Melembah berada di luar kawasan TNDS yang berbatasan langsung dengan kawasan.

Rute survei dimulai dari perbatasan Desa Tempurau dan Desa Melembah, lebar sungai pada area perbatasan ini lebih kurang 30 meter. Dari titik perbatasan desa, speed bergerak mengikuti aliran sungai tanpa menghidupkan mesin. Survei dilakukan dengan mengikuti aliran sungai dengan mesin speedboat yang tidak dinyalakan. Kecepatan arus sungai relatif tinggi, namun dibandingkan dengan perjalanan berangkat tentu jauh berbeda. Dengan mengikuti kecepatan arus sungai tersebut, saya harus berjuang keras melawan ngantuk. Meskipun mengantuk, saya tetap berusaha untuk tetap terjaga sambil terus mencari dengan mengarahkan sorot senter ke tepian sungai seperti yang dilakukan anggota tim yang lain. Hingga sampai ke desa Tempurau, tidak ada penampakan Buaya Senyulong yang kami dapati. Sambil berharap akan ada perjumpaan besok malam, mesin speedboat kembali dinyalakan dan kami melaju ke arah Semangit.

Sampai di kantor resor Semangit, kami segera mengambil tempat masing-masing untuk meluruskan badan. Diatas kasur yang lumayan empuk, kesadaran segera menguap meninggalkan suara burung dan serangga malam di atas air merah yang nampak hitam di malam kelam.
Bersambung.

Saturday, March 18, 2017

Padang Gembala Sapi, Nanga Sangan, Kapuas Hulu

Perjalanan adalah aktifitas yang mungkin selalu memberikan kita sesuatu yang baru, baik orang, pengetahuan maupun barang. Demikian pula perjalanan saya ke Nanga Sangan yang untuk kesekian kali bersama tim proyek air bersih dari Lembaga Energ Hijau akhir Januari kemarin. Saya melihat padang gembala sapi yang telah tidak terpakai lagi, padang rumput yang hijau menjadi pemandangan yang sangat menghibur.

Selain hamparan rumput, hamparan padang gembala ini juga berhias beberapa pohon dan sungai dengan air bening yang mengalir membelah padang. Ada juga air terjun kecil yang menghiasi bagian pinggir yang agak curam. Jika akses menuju  padang gembala ini cukup baik, mungkin banyak orang yang tertarik untuk membangun rumah.

Pemandangan Padang Gembala, Nanga Sangan
Air Terjun Kecil di Padang Gembala

Tuesday, March 14, 2017

Kesegaran Kecombrang di Heart of Borneo

Jauh dari arus kendaraan yang mengental di banyak titik, hiruk pikuk pasar laksana sarang lebah. Salah satu wilayah kerja saya berada di kawasan jantung Kalimantan, atau sering disebut sebagai Heart of Borneo. Seperti pada kegiatan-kegiatan sebelumnya di desa Tanjung, pagi kami disambut pemandangan bentangan Bukit Belang yang kadang bersih dan kadang berhias kabut putih. Sarapan pagi bukan hal yang umum di desa Tanjung, namun berhubung ada tamu, empunya rumah memasak pagi-pagi untuk menghibur kami. Sebenarnya saya sendiri merasa sungkan, tapi lebih baik sungkan daripada sakit, kan?

Disamping nasi dan lauknya, pagi itu perhatian saya tersita oleh sayuran berwarna merah mirip bunga yang dicincan. Ternyata sayur yang saya lihat itu memang bunga yang dicincang bersama tangkai tanamannya. Setelah menanyakan dan tahu nama tanamannya, saya langsung mencobanya. Pada kunyahan pertama, saya langsung menyukai sayuran tersebut. Antara pedas, segar dan wangi. Rasa yang membuat saya ketagihan. Sayuran tersebut adalah sayur dari tumbuhan Simpur, namun bukan daun simpur seperti yang umum dikenal di wilayah pesisir Kalimantan Barat. Simpur di Kapuas Hulu adalah tumbuhan yang termasuk dalam keluar Zingiberaceae,  di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai Kecombrang.
simpur kecombrang
Tumis Bunga Kecombrang
Berdasarkan informasi dari beberapa sumber, ternyata kecombrang memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh, diantaranya Meningkatkan energi, Mengobati penyakit campak, mengobati anemia, memperlancar sirkulasi darah, menguatkan tulang, mengatasi luka, menguatkan memori, menguatkan gigi dan mencegah dehidrasi. Kecombrang juga bisa digunakan untuk meredakan demam pada anak-anak.

kuncup kecombrang
Kuncup Bunga Kecombrang

Kecombrang merupakan salah satu hasil hutan yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Tidak hanya sebagai bahan makanan, penampilan bung kecombrang juga relatif menarik, sehingga tumbuhan ini bisa juga dimanfaatkan sebagai tanaman hias.

Bunga Kecombrang (By Josch13/Pixabay)
Selain kecombrang, masih banyak hasil hutan bukan kayu lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Hutan di Kabupaten Kapuas Hulu memiliki potensi hasil hutan bukan kayu yang besar, dan sebagian dari potensi tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. Beragam hasil hutan bukan kayu tersebut dapat diolah sedemikian rupa menjadi produk kuliner tradisional yang khas. Produk kuliner tersebut juga dapat dijadikan salah satu pelengkap dalam pengembangan bidang pariwisata.

Thursday, June 23, 2016

Refreshing dan Camping di Bukit Wangkang, Kubu Raya

Camping bagi saya sendiri seperti sebuah tombol refresh dari kehidupan sehari-hari dengan berbagai kesibukannya. Namun tentu saja kegiatan ini akan asik sekali kalau dilakukan beramai-ramai, untuk saya yang menurut beberapa test termasuk orang yang ekstrovert. Alhamdulillah kesempatan untuk camping ramai-ramai itu datang juga, saat sedang ngumpul di sekretariat Mapala, salah satu anggota yang sedang ngumpul memberitahukan bahwa mereka berencana untuk camping di bukit Wangkang yang terletak di Kabupaten Kubu Raya. Bukit yang baru beberapa bulan belakangan saya dengar namanya, dan memang ingin juga saya mengunjunginya.
Baca juga:
8 Alasan Ilmiah Kenapa Anda Harus Lebih Banyak Berkegiatan di Alam Bebas

Ramai-ramai di Batu sekitar Puncak Bukit Wangkang
Singkat cerita, sabtu tanggal 28 Mei 2016 kemarin kami berangkat menuju Bukit Wangkang. Rencana awal untuk berangkat pukul 9 tertunda hingga beberapa jam. Sekitar pukul 13.30 kami berangkat dari sekretariat, awan hitam menggantung di barat langit. Meskipun kemungkin besar angin barat akan membawa gumpalan-gumpalan raksasa itu kearah yang sama dengan kami, saya tetap optimis kami akan berhasil mencapai tempat yang kami tuju.

Siang itu, hujan memang menjadi rezeki kami, saat baru saja keluar dari pintu gerbang kota, hujan yang lumayah deras turun meskipun baru ujung dari gumpalan itu yang sampai. Hujan turun tidak terlalu lama, tapi arah angin cukup mudah untuk dibaca menahan saya dari membuka jas hujan yang saya kenakan.

Memasuki daerah Rasau, gumpalan hitam raksasa menutupi langit diatas kami. Deras air yang jatuh cukup menggentarkan hati saya, tapi belum sampai menyurutkan semangat untuk bertualang. Dalam hati saya berpikir, hujan ini adalah ujian pertama dalam perjalanan ini, dalam hati pula saya bertanya... "akankah ada yang surut semangat?"
Ternyata tidak, nyanyian yang saya lantunkan dalam hati keluar dari mulut rekan yang lain...
"Panas terik... hujan berangin... majulah ayo maju! Ayo maju".

Saya mengira kami akan menyeberang di dermaga Rasau Jaya, ternyata salah. Motor belok ke kanan melintasi jalan pedesaan yang lebih kecil dan lebih banyak mozaik lubang, batu dan genangan air. Motor saya pacu perlahan, lubang-lubang di jalan memberi efek yang kurang nyaman untuk punggung saya. Ternyata pemiliki motor yang saya bonceng berpikir kecepatan kami terlalu rendah, tapi saya memang terkadang menerapkan pepatah orang jawa... alon-alon asal kelakon. Menjelang jam lima sore, kami masih menggilas jalan tanah merah perkebunan kelapa sawit yang basah. Untungnya tanah merah tersebut tidak terlalu adhesif dengan ban motor, dan cukup solid untuk dilindas.

Garis-garis jalan Perkebunan Sawit tampak dari atas Bukit Wangkang (abaikan orangnya :p)
Setelah sempat berputar-putar karena jalan pintas yang rencananya akan kami lewati ternyata terputus karena terendam, akhirnya kami sampai di pemukiman masyarakat yang berada di kaki bukit. Hujan rintik masih mengiringi perjalanan kami, mungkin hujan juga yang membuat suasan kampung terasa agak sepi.

Kami singgah di rumah ketua RT setempat untuk memberitahukan rencana kami naik ke Bukit Wangkang sekaligus untuk menitipkan kendaraan kami yang tidak mungkin dibawa muncak. Proses penitipan dan pemberitahuan ini tidak memakan waktu lama, kami langsung bergerak menuju kaki bukit dimana terdapat gazebo yang bisa kami gunakan untuk isho sejenak. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Alhamdulillah shalat masih dapat diraih.

Hari semakin gelap, pemandangan pohon-pohon di dalam hutan yang masih terhitung hutan hujan tropis ini hanya menyisakan siluet-siluet tiang tinggi dengan percabangan-percabangan di bagian atasnya. Mungkin masih sangat dekat dengan keramaian manusia, tapi rasanya cukup untuk bermesraan dengan alam. Bukit Wangkang bukan gunung yang tinggi, dari permukaan laut tingginya sekitar 340-an meter, namun untuk kegiatan tracking amatir, rasanya cukup memuaskan saya.

Jalan setapak yang kami lalui tampaknya relatif sering dilalui oleh manusia, apa yang mereka cari? Menurut salah satu Alang, diatas puncak bukit ini terdapat kelenteng yang menjadi tempat orang Tionghoa beribadah, selain itu, bukit Wangkang memang sering dikunjungi pemuda-pemudi di sekitar kawasan untuk berekreasi. Hal ini kami buktikan keesokan harinya saat sampai di puncak bukit.

Mungkin antara pukul 7 dan pukul 8 malam, kami sampai di area yang agak lapang namun tetap di bawah kanopi pepohonan yang relatif lebat. Masih dalam gerimis mengundang yang membasahi dan dan batang-batang kayu, masing-masing orang mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Sebagian mendirikan shelter, sebagian menyiapkan api, sebagian berusaha untuk tampak sibuk, yang terakhir ini adalah saya sendiri.
Baca juga:
Sehat dan Awet Muda dengan Camping

Kayu yang basah tidak bisa menjadi alasan kenapa begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api, namun jenis kayu yang tersedia di lokasi menurut saya cukup kuat untuk menjadi alasannya. Kayu sudah dicacah, namun sulit untuk hidup. Namun, bagaimanapun, berkat kerja keras dan ulet dari teman-teman, api tersebut menyala. Kami bisa menghangatkan diri dan memasak untuk makan malam kami yang sudah agak terlambat.

Lepas urusan perut, masing-masing mencari kesibukan lagi. Sebagian bercengkrama di sekitar tenda, sebagian lain kembali mencari ikan di sungai-sungai kecil tidak jauh dari camp. Alang yang sebelumnya pernah berkunjung ke Bukit Wangkang menceritakan bahwa di sungai-sungai kecil tersebut banyak terdapat ikan lele liar yang bisa ditangkap dengan cara dipancing.  Sebagai umpannya, kami mencari udang-udang kecil yang terdapat di sungai tersebut. Cukup banyak udang yang kami dapatkan, walaupun dengan gampang-gampang susah. Karena tidak juga mendapatkan ikan dan waktu semakin malam, pancing di tajur dan kami kembali ke camp. Kembali bercengkrama beramai-ramai, dibawah rindang pohon-pohon dan bintang-bintang yang mengintip di balik daun-daun yang tampak hitam.

Saya duduk di atas matras yang digelar di samping api yang menyala dan terjaga, mengelilingi api tersebut kami berbicara apa saja yang terlintas dalam pikiran. Kebanyakan cerita suka suka dan lucu-lucu yang sering terjadi di sekretariat kami yang tercinta. Inilah bagian yang paling saya senangi dari camping ramai-ramai, mendengarkan cerita-cerita lucu dari teman-teman, walaupun seringnya saya akan cepat tertidur, dan memang demikianlah yang terjadi malam itu.

Hingga waktu yang semakin larut mengajak kami semua untuk tidur, kecuali saya yang memang sudah tertidur bergelung di atas matras dan kecuali yang bertugas untuk jaga malam, dan tentu saja itu bukan saya... hehehe. Ternyata doom yang dibawa tidak cukup untuk menampung kami semua, kecuali dipaksakan jika turun hujan. Bersyukurnya, hujan tidak turun malam itu, sehingga sebagian dari rombongan ada yang tetap diluar sambil jaga malam. Menjelang subuh baru mereka tidur, seperti shift jaga.

Rasanya waktu tidur hanya singkat, tapi cukup untuk mengistirahatkan tubuh dari lelah perjalanan dan sedikit pendakian kemarin. Burung-burung bernyanyi di pucuk-pucuk dan di cabang-cabang pohon dengan tinggi hingga 20 meter, menceriakan pagi itu. Di dekat api yang menyala sejak malam sebelumnya, sebuah nampan tampak berisi sesuatu. Ternyata ikhtiar memancing yang dengan serius di gawai oleh kawan-kawan membuahkan hasil, jadilah kami makan daging pagi itu. Daging ikan lele.

sarapan di bukit wangkang
Siap-siap Sarapan
Setelah kampung tengah mendapatkan jatahnya, rombongan kembali membagi tugas secara otomatis tanpa komando. Sebagian mencuci alat masak dan alat makan, sebagian membersihkan diri, sebagian mengeluarkan sesuatu yang tidak bersih, dan sebagian mungkin ada yang kurang bersih... hehe

Waktu tampak seperti sungai-sungai yang santai di permukaan namun deras di dalamnya. Kami mengemaskan barang dengan segera untuk mengejar puncak. Segera setelah semua barang di packing sekitar pukul 10, kami berbaris melewati jalan setapak yang tidak terlalu curam. Sisa-sisa hujan kemarin sore masih tampak dari permukaan tanah dan daun-daun lantai hutan yang masih basah.  Hanya sedikit bagian dari track ini yang agak menanjak, walaupun sedikit, cukup untuk memaksa rombongan untuk berhenti sejenak menarik lebih dalam udara segar hutan Bukit Wangkang. Sebenarnya track yang kami lewati tidak terlalu berat dan, tapi karena beberapa kali beristirahat sambil bercanda dan bercerita, setelah dua jam baru kami sampai di tumpukan batu tidak jauh dari puncak bukit.

Senjata utama untuk perjalanan telah siap sejak di Pontianak, kamera yang telah cukup lama menemani hampir semua perjalanan saya dan dinda. Kali ini, sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat untuk memotret pemandangan dari atas bukit tersebut, namun melihat semangat adik-adik yang tinggi untuk bernarsis ria, jadilah mereka yang menjadi objek utama foto yang saya ambil, dan tentu saja saya sendiri dengan meminta salah satu dari mereka untuk mengambil gambar saya.

Kawasan perbukitan di kawasan Kubu Raya ini cukup luas dengan pohon-pohon besar yang masih tersisa. Namun kawasan perbukitan ini seperti pulau di lautan perkebunan monokultur yang tampak seperti jaring-jaring kotak-kotak berwarna hijau dengan garis-garis berwarna coklat kemerahan. Bagi saya, pemandangan itu menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan, walaupun dipandang dari ketinggian. Jadi saya lebih senang mengambil Pemandangan hutan-hutan dari atas bukit.

Setelah puas mengambil gambar pemandangan dan anggota rombongan di atas batu-batu yang sebenarnya tampak agak mengerikan jika berdiri di pinggirnya itu, kami naik sedikit kearah puncak dan beristirahat dibawah pohon yang cukup rindang namun agak terang karena dihadapan kami pohon-pohon tumbuh tidak terlalu rapat. Waktu istirahat tersebut bersamaan dengan waktu makan. Untungnya masih ada sisa nasi dari pagi yang tidak habis yang dibawa, ada juga sambal goreng tempe dan bihun yang dibawa salah satu anggota rombongan. Jadilah kami makan seadanya sekedar mengganjal perut sebagai bahan bakar untuk perjalan turun kami.

Perjalanan turun hanya revers dari perjalanan naik, kami langsung menuju kaki bukit ke kampung tempat kami menitipkan motor. Setelah mengurus administrasi dengan ketua RT, kami langsung berangkat pulang. Setelah sempat tersesat di perkebunan kelapa sawit yang tampak serba sama di semua sudutnya, dan sempat merasakan hujan deras sekali lagi di Rasau, kami pun sampai di kediaman masing-masing.

Wednesday, April 27, 2016

Hiking Ternyata Bisa Membuat Otak Manusia Lebih Kreatif

Tanpa melihat hasil-hasil penelitian para ahli, kita semua mungkin percaya bahwa tracking melintasi hutan atau mendaki gunung bisa membersihkan pikiran negatif, tubuh dan jiwa. Namun demikian, sekedar informasi untuk anda, penelitian serius tentang hal itu telah dilakukan, dan hasilnya, hiking memang bisa merubah otak kita menjadi lebih baik. Penelitian ini adalah sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences yang menemukan bahwa menghabiskan waktu di alam bebas dapat menurunkan pikiran negatif dengan margin yang signifikan.

Kegiatan Pendakian Gunung
Untuk melakukan penelitian ini, peneliti membandingkan catatan kecemasan peserta yang menjelajah di lingkungan perkotaan dan lingkungan alam. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang berjalan selama 90 menit dalam lingkungan alam melaporkan tingkat kecemasan yang lebih rendah dan mereka juga mengalami penurunan aktivitas saraf di korteks prefrontal subgenual, area otak yang berhubungan dengan penyakit mental. Mereka yang berjalan di lingkungan perkotaan tidak melaporkan penurunan kecemasan.

Para peneliti mencatat bahwa peningkatan urbanisasi berkorelasi tinggi dengan peningkatan kasus depresi dan penyakit mental lainnya. Meluangkan waktu secara teratur untuk menjauh dari kawasan perkotaan dan menghabiskan lebih banyak waktu di alam dapat sangat bermanfaat secara psikologis (dan fisik).
Baca juga:
Tentang Kegiatan Mountaineering

Menjelajah sambil menjauh dari Teknologi dapat  Meningkatkan Kemampuan Creative Problem Solving

Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Ruth Ann Atchley dan David L. Strayer menemukan bahwa pemecahan masalah secara kreatif dapat secara drastis ditingkatkan dengan memutuskan hubungan dari teknologi dan berhubungan kembali dengan alam. Peserta dalam penelitian ini pergi backpacking melalui alam selama sekitar 4 hari, selama waktu mereka tidak diizinkan untuk menggunakan teknologi apapun. Mereka diminta untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran kreatif dan masalah yang kompleks, dan peneliti menemukan bahwa kinerja pada tugas pemecahan masalah meningkat hingga 50% bagi mereka yang mengambil bagian dalam percobaan menjelajah bebas teknologi.

Para peneliti dari studi ini mencatat bahwa teknologi dan kebisingan perkotaan sangat mengganggu, terus mengalihkan perhatian kita dan mencegah kita untuk fokus, yang semuanya dapat mengganggu fungsi kognitif kita. Peningkatan yang sangat bermanfaat, menjauh dari teknologi, dapat mengurangi kelelahan mental, menenangkan pikiran, dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Baca juga:
Trekking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas
Tips Memilih Lokasi Camping yang Tepat

Menjelajah Dapat Memperbaiki ADHD Pada Anak 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada saat ini menjadi lebih dan lebih umum di antara anak-anak. Anak-anak yang memiliki ADHD memiliki kesulitan dalam mengontrol impuls dan tetap fokus, mereka teralihkan dengan mudah, dan menunjukkan hiperaktif yang berlebihan.

Membesarkan anak-anak yang memiliki ADHD bisa sulit bagi orang tua, solusi yang biasa di gunakan oleh banyak orang tua adalah menggunakan obat-obatan, namun solusi ini dapat lebih berbahaya. Padahal solusi alami dapat memberikan hasil yang lebih baik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Frances E Kup, PhD, dan Andrea Faber Taylor, PhD, menemukan bahwa mengekspos anak-anak dengan ADHD dengan "kegiatan di alam bebas" dapat mengurangi gejalanya secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan terpapar suasana alam bebas dapat menguntungkan siapa pun yang memiliki masalah dalam fokus dan / atau menunjukkan perilaku impulsif.

Menjelajahi Alam Adalah Latihan yang sangat bermanfaat Dan karena itu bisa Meningkatkan Kemampuan Otak

Kita sudah tahu bahwa berolahraga memberikan manfaat yang luar biasa untuk kesehatan kita secara keseluruhan. Hiking adalah cara terbaik untuk membakar antara 400-700 kalori per jam, tergantung pada ukuran dan kesulitan mendaki, dan lebih aman untuk sendi dari kegiatan lain seperti berlari. Juga telah dibuktikan bahwa orang yang berolahraga di luar lebih mungkin untuk terus konsisten dan tetap komit pada program mereka, hal ini menjadikan kegiatan mendaki adalah pilihan yang sangat baik bagi mereka yang ingin menjadi lebih aktif secara teratur.

Para peneliti dari University of British Columbia menemukan bahwa latihan aerobik meningkatkan volume hipokampus - bagian dari otak yang berhubungan dengan memori spasial dan episodik - pada wanita di atas usia 70. Latihan tersebut tidak hanya memperbaiki masalah kehilangan memori, tetapi juga membantu mencegah terjadinya memory loss tersebut. Para peneliti juga menemukan bahwa hal itu juga dapat mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan harga diri, dan melepaskan endorfin. Banyak orang  menggunakan obat untuk mengatasi masing-masing masalah dan setiap satu dari masalah ini, tetapi solusi untuk penyakit ini mungkin jauh lebih sederhana dari yang Anda pikirkan!
Baca juga:
Camping Membuang Jenuh

Tertarik untuk Hiking? Bagaimana Anda Bisa Mulai Untuk Menjelajah?

Untungnya, hiking adalah salah satu olahraga yang mudah dan paling murah untuk dilakukan, namun dapat memberikan manfaat besar! Anda bisa memulai olah raga ini dari skala ringan untuk menguji kemampuan Anda. Bersama waktu anda akan menemukan bentuk pendakian yang sesuai untuk Anda - walaupun hanya berjalan di sekitar jalan taman, tidak masalah. Untuk mencari lokasi yang sesuai untuk anda, Anda bisa mencarinya secara online menggunakan peta online, dan ada banyak aplikasi smartphone bisa melakukannya untuk anda, juga. Selama kegiatan menjelajah tersebut, matikan sinyal telpon Anda, jadi Anda dapat menuai manfaat lebih banyak (meskipun mungkin perlu membawanya juga, setidaknya untuk keadaan darurat).
Baca juga:
Pendaki Wanita Tewas di Gunung Gede

Pastikan Anda memiliki perlengkapan hiking yang baik seperti sepatu, topi, dan botol air, dan pastikan pakaian yang anda gunakan dapat menyerap keringat dengan baik dan segera kering. Anda mungkin bisa juga menggunakan Trekking Poles, yang dapat meningkatkan kecepatan dan mengurangi sedikit tekanan pada lutut. Sekarang, lets rock!
Baca juga:
10 Perlengkapan Utama Kegiatan Alam Bebas
Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung

Friday, February 12, 2016

Ngetrack ke Riam Pelabuh Kuduk, Nanga Sangan, Kapuas Hulu


Ada banyak olah raga di dunia ini yang menurut saya keren, namun biasanya olah raga tersebut butuh biaya yang agak besar. Dua olah raga yang menurut saya sangat menarik adalah diving dan mountainbike, namun rasanya saat ini kantong belum mampu untuk mendukung kedua olah raga tersebut. Setelah cukup lama mondar-mandir surfing di internet, pilihan saya kembali ke olah raga yang sedari kecil menjadi olah raga favorit saya, lari alias jogging.
Baca juga:
Tracking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas
Jogging, Walking dan Hunting di Kampus Biodiversitas
Jogging 31+ di Bumi Uncak Kapuas

Seorang dosen saya pernah bertanya kepada saya tentang olah raga apa yang sering saya lakukan. Sederhana saja jawaban saya, Jogging. Dan beliau berkomentar, itulah olahraga yang paling murah, tapi tetap menyehatkan. Namun murah tidak berarti gratis, karena tetap ada yang harus dibeli, yaitu sepatu. Untuk mendukung olah raga lari itu saya membeli satu sepatu running. Tentang sepatu lari ini akan saya ceritakan lain waktu, untuk sekarang saya ingin bercerita tentang hiking saya minggu lalu.

Membaca-baca artikel tentang trailrunning membangkitkan semangat saya untuk kembali ngetrack di alam bebas. Karena itu, saat sedang berada di desa minggu lalu, saya sempatkan untuk ngetrack ke hutan. Walaupun kondisi tubuh masih kurang fit sejak seminggu sebelumnya, saya kuatkan untuk ngtrack di wilayah perbukitan desa Nanga Sangan tempat saya berkegiatan. Kira-kira begini ceritanya.

Sejak menjelang tengah malam hujan deras mengguyur wilayah Kapuas Hulu, khususnya wilayah Desa Nanga Sangan tempat saya menginap. Saat menjelang tengah malam, suara petir yang menggelegar memaksa saya untuk sadar dari tidur. Suaranya seperti meriam raksasa yang disulut. Ternyata hujan tersebut tidak reda hingga pagi hari. Janji dengan Bapak Kepala Adat  (Bang Yan) untuk mendaki setelah sarapan pagi tidak dilanggar, karena hingga hampir pukul delapan saya belum sarapan, dan mandi. Pagi itu saya tetap tidur karena sepertinya cuaca tidak memungkinkan kami untuk berangkat, dan gaya gravitasi di sekitar kasur memang sedang tinggi-tingginya. Saya yakin gaya gravitasi tersebut dipengaruhi oleh tingginya curah hujan pagi itu.

Sepertinya Bang Yan sangat bersemangat sekali untuk menemani saya mengunjungi air terjun di kawasan perbukitan desa. Sekitar pukul 8 bang Yan datang dan menyampaikan bahwa beliau siap untuk menemani saya ngetrack walaupun gerimis masih saja turun. Menjelang pukul 9, hujan tanggung antara gerimis dan lebat masih enggan meninggalkan langit Nanga Sangan, keputusan sudah bulat, kami tetap berangkat. Saya, bang Yan dan pak Yaman yang sangat mengenal kawasan.

Karena hujan masih setia menemani kami, saya tidak berani mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar. Dan medan awal yang kami lewati juga kurang eyecatching, jadi saya berjalan melewati jalur yang masyarakat sebut sebagai jalan tani. Jalan tanah merah selebar sekitar tiga meter yang sangat kohesif dengan telapak sepatu. Jalan tani adalah jalan yang dibangun sebagai proyek pemerintah dan seharusnya digunakan sebagai jalur transportasi pengangkutan hasil pertanian masyarakat yang berada di sekitar kaki bukit. Namun, karena kondisinya yang memang kurang memadai, jalan tersebut ditinggal masyarakat dan dipenuhi oleh semak-semak. Kami hanya sebentar melintasi jalan tersebut hingga kami melewati jalan setapak yang lebih sering digunakan masyarakat untuk menuju kawasan persawahan.
Baca juga:
Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung
10 Perlengkapan Utam Berkegiatan di Alam Bebas

Melewati jalan setapak ini, saya diperlihatkan kabel bekas instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang beroperasi dua tahun lalu di Nanga Sangan selama enam bulan. Yup, selama enam bulan masyarakat menikmati listrik dan setelah itu setiap malam kembali diterangi generator atau lilin. Karena kurangnya bekal masyarakat dalam hal perawatan dan adanya kesalahan teknis dalam pembangunannya, proyek tersebut tidak memberi manfaat yang panjang untuk masyarakat.

Tinggalkan kabel listrik, langkah kami berlanjut menapaki jalan yang terkadang becek dan memaksa kaki melangkah hingga ketepi jalan yang bersemak. Dua atau tiga kali kami harus menyebrangi sungai yang tidak terlalu dalam, namun memaksa saya untuk membuka sepatu agar tidak basah. Setelah sempat reda beberapa saat, gerimis mengundang kembali menyapa. Kamera masih senyap dalam tas selempang yang saya kenakan, hingga pada suatu tempat, pemandangan jeram kecil yang saya lihat membuat saya menyampingkan resiko kamera di belai air. Beberapa kali shoot tidak menghasilkan foto yang memuaskan karena air mengenai filter lensa, akhirnya saya masukkan kembali kamera ke tempatnya.


Beberapa menit meninggalkan jeram kecil tadi, kami sampai di kawasan persawahan masyarakat. Menurut bang Yan dan Pak Yaman, sawah yang kami lewati ini sudah dipanen padinya. Namun, berbeda dengan sawah seperti di Jawa, padi di Sangan ini bisa dipanen hingga tiga kali sebelum di tanam kembali.  Karena memang bulir padi masih bisa keluar dari tanamannya.

Dari kawasan persawahan ini kami dapat melihat rumah pengelolaan irigasi masyarakat. Terdapat dam kecil di dekat rumah tersebut yang mengatur aliran air. Namun, sayangnya saluran irigasi yang dibangun tersebut tampak sudah tidak terpakai juga. Dari dekat pintu irigasi tersebut kami mencari tanaman Bucephalandra yang menurut pak Yaman, dulunya banyak di sekitar tempat tersebut, namun tidak ada yang kami temui. Kami kemudian menyeberangi sungai berbatu besar, agak sulit awalnya, tapi bisa.

Diseberang sungai kami menemukan buah yang saya lupa namanya. Bentuknya seperti pepaya yang pendek,berwarna kuning. Daging buahnya seperti pepaya mengkal dengan rasa yang sangat asam, saya hanya menjamah permukaannya yang dibelah dan menyentuhkannya ke lidah. Memang masam, tapi rasanya tidak semasam belimbing wuluh. Saat sedang asik dengan buah yang masam tersebut, hujan deras kembali menyapa, kami putuskan kembali ke pintu air yang beratap yang barusan kami lewati. Hanya cukup untuk kami bertiga berdiri, daripada harus berlari ke pondok masyarakat di sawah dan basah, berdiri pun tidak masalah.

Sambil menunggu hujan reda, saya mengeluarkan biskuit dari dalam tas, namun tanpa sadar saya menjatuhkan topi rimba yang saya letakkan di atas tas dan basahlah dia di dalam saluran irigasi. Nampak sepele, padahal topi itu sangat penting saat kita sedang berkegiatan di alam bebas, terutama untuk berfoto... eh.

Sekitar tengah hari pukul 12 hujan agak reda, kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang dilewati mulai menanjak 60 hingga 70 derajat. Langkah kaki saya menjadi sangat berat, istirahat menjadi sangat sering. Walaupun nafas rasanya masih sanggup, tapi saya khawatir jantung yang tidak kuat. Untungnya jalur yang benar-benar menanjak tersebut tidak terlalu panjang. Setelah lepas dari tanjakan, jalan masih sedikit naik turun, namun tidak terlalu ekstrim, bahkan nyaman untuk dilewati.

Beberapa pohon besar tumbang di beberapa titik, salah satunya menimpa jalan setapak yang kami lewati. Pohon tumbang tersebut membuat jalan menjadi agak kabur, untungnya Bang Yan dan Pak Yaman masih ingat dengan jalurnya, sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan jalurnya lagi. Salah satu hal yang sangat menarik bagi saya saat melintas jalan setapak ini adalah banyak sekali anggrek yang tumbuh. Termasuk di sekitar pohon yang ditebang tadi, bagian atasnya yang rimbun dengan anggrek ikut jatuh ke permukaan tanah.

Perjalanan berlanjut, selang sekitar setengah jam kami sampai di rumah tempat turbin PLTMH yang kami tuju. Kondisinya bangunannya masih tampak kuat, namun isinya sudah tidak karuan. Ini bisa dimaklumi karena sudah dua tahun rumah mesin pembangkit listrik ini tidak dirawat. Pembangkit listrik ini hanya berjalan selama enam bulan, hujan yang begitu deras telah menghancurkan mesinnya. Tidak jauh dari rumah turbin tersebut, ada sambungan pipa yang terbengkas.  Hanya sejenak kami singgah, perjalanan kami lanjutkan lagi, karena bagian utamanya harus di daki lagi. Kami berjalan di samping paralon dengan diameter sekitar 40 cm, kadang harus melipir ke tepi jeram, kadang berjalan meniti kayu diantara batu-batu besar.




Yang sangat unik bagi saya dari Riam Pelabuh Kuduk ini adalah airnya merah atau air gambut. Dari beberapa sungai yang pernah saya kunjungi di Kalimantan Barat, baru di tempat ini ada sungai arus deras berair gambut. Merah dari air gambut ini menambah menarik pemandangan di riam ini, arena air yang mengalir menunjukkan perpaduan antara gelembung air petih yang terjadi karena derasnya air dan warna merah dari airnya, seperti bisa anda lihat dalam gambar-gambar di bawah ini.










Puncak dari jeram adalah sebuah bendungan yang tidak terlalu besar namun cukup lebar, ternyata bendungan tersebut tidak terlalu jauh. Bendungan tersebut dibangun untuk mengalirkan air ke dalam pipa paralon yang berujung di rumah turbin. Di bagian puncak riam ini saya melihat berbagai jenis Nepenthes yang sangat menarik bagi saya, ada juga beberapa jenis tumbuhan dengan penampilan menarik yang potensial untuk dijadikan tanaman hias. Disisi hulu dari bendungan, air merah jadi tampak hitam karena dalamnya, menurut bang Yan dan Pak Yaman, di sungai tersebut banyak terdapat ikan lele hutan atau disebut sebagai Kelik. In sya Allah kali lain ke riam ini, saya akan usahakan untuk membawa pancing.



Puas melihat pemandangan dan mengambil beberapa gambar, kami turun melalui jalur yang sama dengan waktu yang lebih singkat. Sempat berhenti di kaki riam untuk mengambil beberapa gambar. Kemudian kami pulang dan sampai di kembali di desa sekitar pukul 17.

Sunday, February 7, 2016

Latihan Grasstrack Sirkuit Lokajaya Boyan Tanjung

sirkuit lokajaya boyan tanjung
Para Pembalap siap beraksi
Sekitar pukul 14.30 kami berangkat dari Nanga Sangan menuju Mujan (pusat kecamatan Boyan Tanjung) menggunakan Hillux pak Sekdes. Tentu saja perjalanan ini jauh lebih santai, karena saya duduk diatas jok yang sangat empuk, batu-batu dijalan tidak terlalu terasa. Setelah mengantar belian pak Camat, pak Sekdes mengambil trail miliknya yang dititipkan di sebuah bengkel. Selanjutnya kami meluncur ke sirkuit yang letaknya ke arah barat dari simpang boyan.

Lokasi sirkuit grasstrack boyan Tanjung bernama Sirkuti Lokajaya, berada sekitar 300 meter dari jalan raya. Untuk menuju sirkuit tersebut kita akan melalui jalan perkerasan tanah merah melewati perkebunan karet masyarakat. Saat kami tiba di jalan masuk sirkuit, puluhan motor berjejer di tepi jalan dan menjadikan jalan masuk tersebut sempit. Mobil pak Sekdes yang saya tumpangi kesulitan untuk masuk, sehingga kami harus meminggirkan motor-motor tersebut untuk bisa lewat.

Sampai di tepi lapangan sirkuit, sudah banyak sekali orang-orang berdatangan untuk menonton sesi latihan grasstrack tersebut. Mereka berjejer di tepi sirkuit diatas gundukan yang lumayan tinggi, dari gundukan tersebut kita bisa melihat hampir seluruh bagian sirkuit. Motor balap pak Sekdes diturunkan, tapi beliau sendiri tidak ikut latihan karena kakinya sedang sakit akibat jatuh saat latihan minggu lalu. Saya sendiri langsung naik ke tempat para penonton berada untuk mengambil beberapa gambar.

Sirkuit Lokajaya tampak tidak terlalu luas, namun tracknya yang banyak kelokan-kelokan menjadikannya cukup panjang. Di sirkuit inilah para pembalap motocross Boyan Tanjung melatih kemampuannya. Menurut pak Sekdes, beberapa orang temannya relatif sering mengikuti lomba-lomba motocross yang sepertinya rutin diadakan setiap tahun di Kalimantan Barat. Beliau sendiri hanya menggiati olah raga ini sebagai hobi, bukan untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan.



Jumping
Para penonton latihan grasstrack ini ternyata tidak sedikit menurut saya, tidak hanya laki-laki, warga yang perempuan juga banyak yang menonton. Bahkan ibu-ibu yang mungkin sudah punya cucu juga tidak ketinggalan ikut menyaksikan. Ada juga anak-anak berseragam pramuka yang mungkin baru selesai latihan di sekolahnya langsung datang ke sirkuit untuk menonton atraksi mingguan ini. Dan, ada juga cewe-cewe KW yang ikut menonton.

Para penonton grasstrack

Ibu-ibu tidak ketinggalan menonton
Para pembalap bergantian memacu motornya melintasi track tanah merah dan putih (bekas hutan kerangas). Ada juga sesi beramai-ramai di track, namun nampak bukan untuk berlomba, hanya untuk latihan saja. Beberapa orang yang memegang kamera sibuk mengambil gambar, termasuk saya sendiri. Sebagian Para penonton tampak serius mengikuti motor-motor trail modivan tersebut melaju dan meliuk di atas tanah merah berdebu. Setelah rombongan pembalap kembali ke area start dan finish, seorang tukang ikan dengan motor yang membawa kotak styrofom di atas jok belakang motornya masuk ke sirkuit dan menjajalnya. Sebagian penonton tertawa, namun ada juga yang mencibir.... "nyari sensasi jak orang tu". Menurut saya, bagaimanapun penjual ikan tersebut berhasil memberikan sedikit hiburan untuk semua orang menonton.

Tukang ikan tidak ketinggalan ikut menjajal sirkuit
Sirkuit segera menjadi sepi setelah motor-motor di naikkan ke atas mobil yang membawanya tadi. Para penonton berjalan kaki menuju motor-motor mereka yang diparkir di depan tadi. Begitupun saya dan pak Sekdes, segera kembali ke Nanga Sangan.