Thursday, June 23, 2016

Refreshing dan Camping di Bukit Wangkang, Kubu Raya

Camping bagi saya sendiri seperti sebuah tombol refresh dari kehidupan sehari-hari dengan berbagai kesibukannya. Namun tentu saja kegiatan ini akan asik sekali kalau dilakukan beramai-ramai, untuk saya yang menurut beberapa test termasuk orang yang ekstrovert. Alhamdulillah kesempatan untuk camping ramai-ramai itu datang juga, saat sedang ngumpul di sekretariat Mapala, salah satu anggota yang sedang ngumpul memberitahukan bahwa mereka berencana untuk camping di bukit Wangkang yang terletak di Kabupaten Kubu Raya. Bukit yang baru beberapa bulan belakangan saya dengar namanya, dan memang ingin juga saya mengunjunginya.
Baca juga:
8 Alasan Ilmiah Kenapa Anda Harus Lebih Banyak Berkegiatan di Alam Bebas

Ramai-ramai di Batu sekitar Puncak Bukit Wangkang
Singkat cerita, sabtu tanggal 28 Mei 2016 kemarin kami berangkat menuju Bukit Wangkang. Rencana awal untuk berangkat pukul 9 tertunda hingga beberapa jam. Sekitar pukul 13.30 kami berangkat dari sekretariat, awan hitam menggantung di barat langit. Meskipun kemungkin besar angin barat akan membawa gumpalan-gumpalan raksasa itu kearah yang sama dengan kami, saya tetap optimis kami akan berhasil mencapai tempat yang kami tuju.

Siang itu, hujan memang menjadi rezeki kami, saat baru saja keluar dari pintu gerbang kota, hujan yang lumayah deras turun meskipun baru ujung dari gumpalan itu yang sampai. Hujan turun tidak terlalu lama, tapi arah angin cukup mudah untuk dibaca menahan saya dari membuka jas hujan yang saya kenakan.

Memasuki daerah Rasau, gumpalan hitam raksasa menutupi langit diatas kami. Deras air yang jatuh cukup menggentarkan hati saya, tapi belum sampai menyurutkan semangat untuk bertualang. Dalam hati saya berpikir, hujan ini adalah ujian pertama dalam perjalanan ini, dalam hati pula saya bertanya... "akankah ada yang surut semangat?"
Ternyata tidak, nyanyian yang saya lantunkan dalam hati keluar dari mulut rekan yang lain...
"Panas terik... hujan berangin... majulah ayo maju! Ayo maju".

Saya mengira kami akan menyeberang di dermaga Rasau Jaya, ternyata salah. Motor belok ke kanan melintasi jalan pedesaan yang lebih kecil dan lebih banyak mozaik lubang, batu dan genangan air. Motor saya pacu perlahan, lubang-lubang di jalan memberi efek yang kurang nyaman untuk punggung saya. Ternyata pemiliki motor yang saya bonceng berpikir kecepatan kami terlalu rendah, tapi saya memang terkadang menerapkan pepatah orang jawa... alon-alon asal kelakon. Menjelang jam lima sore, kami masih menggilas jalan tanah merah perkebunan kelapa sawit yang basah. Untungnya tanah merah tersebut tidak terlalu adhesif dengan ban motor, dan cukup solid untuk dilindas.

Garis-garis jalan Perkebunan Sawit tampak dari atas Bukit Wangkang (abaikan orangnya :p)
Setelah sempat berputar-putar karena jalan pintas yang rencananya akan kami lewati ternyata terputus karena terendam, akhirnya kami sampai di pemukiman masyarakat yang berada di kaki bukit. Hujan rintik masih mengiringi perjalanan kami, mungkin hujan juga yang membuat suasan kampung terasa agak sepi.

Kami singgah di rumah ketua RT setempat untuk memberitahukan rencana kami naik ke Bukit Wangkang sekaligus untuk menitipkan kendaraan kami yang tidak mungkin dibawa muncak. Proses penitipan dan pemberitahuan ini tidak memakan waktu lama, kami langsung bergerak menuju kaki bukit dimana terdapat gazebo yang bisa kami gunakan untuk isho sejenak. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Alhamdulillah shalat masih dapat diraih.

Hari semakin gelap, pemandangan pohon-pohon di dalam hutan yang masih terhitung hutan hujan tropis ini hanya menyisakan siluet-siluet tiang tinggi dengan percabangan-percabangan di bagian atasnya. Mungkin masih sangat dekat dengan keramaian manusia, tapi rasanya cukup untuk bermesraan dengan alam. Bukit Wangkang bukan gunung yang tinggi, dari permukaan laut tingginya sekitar 340-an meter, namun untuk kegiatan tracking amatir, rasanya cukup memuaskan saya.

Jalan setapak yang kami lalui tampaknya relatif sering dilalui oleh manusia, apa yang mereka cari? Menurut salah satu Alang, diatas puncak bukit ini terdapat kelenteng yang menjadi tempat orang Tionghoa beribadah, selain itu, bukit Wangkang memang sering dikunjungi pemuda-pemudi di sekitar kawasan untuk berekreasi. Hal ini kami buktikan keesokan harinya saat sampai di puncak bukit.

Mungkin antara pukul 7 dan pukul 8 malam, kami sampai di area yang agak lapang namun tetap di bawah kanopi pepohonan yang relatif lebat. Masih dalam gerimis mengundang yang membasahi dan dan batang-batang kayu, masing-masing orang mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Sebagian mendirikan shelter, sebagian menyiapkan api, sebagian berusaha untuk tampak sibuk, yang terakhir ini adalah saya sendiri.
Baca juga:
Sehat dan Awet Muda dengan Camping

Kayu yang basah tidak bisa menjadi alasan kenapa begitu lama waktu yang dibutuhkan untuk menyalakan api, namun jenis kayu yang tersedia di lokasi menurut saya cukup kuat untuk menjadi alasannya. Kayu sudah dicacah, namun sulit untuk hidup. Namun, bagaimanapun, berkat kerja keras dan ulet dari teman-teman, api tersebut menyala. Kami bisa menghangatkan diri dan memasak untuk makan malam kami yang sudah agak terlambat.

Lepas urusan perut, masing-masing mencari kesibukan lagi. Sebagian bercengkrama di sekitar tenda, sebagian lain kembali mencari ikan di sungai-sungai kecil tidak jauh dari camp. Alang yang sebelumnya pernah berkunjung ke Bukit Wangkang menceritakan bahwa di sungai-sungai kecil tersebut banyak terdapat ikan lele liar yang bisa ditangkap dengan cara dipancing.  Sebagai umpannya, kami mencari udang-udang kecil yang terdapat di sungai tersebut. Cukup banyak udang yang kami dapatkan, walaupun dengan gampang-gampang susah. Karena tidak juga mendapatkan ikan dan waktu semakin malam, pancing di tajur dan kami kembali ke camp. Kembali bercengkrama beramai-ramai, dibawah rindang pohon-pohon dan bintang-bintang yang mengintip di balik daun-daun yang tampak hitam.

Saya duduk di atas matras yang digelar di samping api yang menyala dan terjaga, mengelilingi api tersebut kami berbicara apa saja yang terlintas dalam pikiran. Kebanyakan cerita suka suka dan lucu-lucu yang sering terjadi di sekretariat kami yang tercinta. Inilah bagian yang paling saya senangi dari camping ramai-ramai, mendengarkan cerita-cerita lucu dari teman-teman, walaupun seringnya saya akan cepat tertidur, dan memang demikianlah yang terjadi malam itu.

Hingga waktu yang semakin larut mengajak kami semua untuk tidur, kecuali saya yang memang sudah tertidur bergelung di atas matras dan kecuali yang bertugas untuk jaga malam, dan tentu saja itu bukan saya... hehehe. Ternyata doom yang dibawa tidak cukup untuk menampung kami semua, kecuali dipaksakan jika turun hujan. Bersyukurnya, hujan tidak turun malam itu, sehingga sebagian dari rombongan ada yang tetap diluar sambil jaga malam. Menjelang subuh baru mereka tidur, seperti shift jaga.

Rasanya waktu tidur hanya singkat, tapi cukup untuk mengistirahatkan tubuh dari lelah perjalanan dan sedikit pendakian kemarin. Burung-burung bernyanyi di pucuk-pucuk dan di cabang-cabang pohon dengan tinggi hingga 20 meter, menceriakan pagi itu. Di dekat api yang menyala sejak malam sebelumnya, sebuah nampan tampak berisi sesuatu. Ternyata ikhtiar memancing yang dengan serius di gawai oleh kawan-kawan membuahkan hasil, jadilah kami makan daging pagi itu. Daging ikan lele.

sarapan di bukit wangkang
Siap-siap Sarapan
Setelah kampung tengah mendapatkan jatahnya, rombongan kembali membagi tugas secara otomatis tanpa komando. Sebagian mencuci alat masak dan alat makan, sebagian membersihkan diri, sebagian mengeluarkan sesuatu yang tidak bersih, dan sebagian mungkin ada yang kurang bersih... hehe

Waktu tampak seperti sungai-sungai yang santai di permukaan namun deras di dalamnya. Kami mengemaskan barang dengan segera untuk mengejar puncak. Segera setelah semua barang di packing sekitar pukul 10, kami berbaris melewati jalan setapak yang tidak terlalu curam. Sisa-sisa hujan kemarin sore masih tampak dari permukaan tanah dan daun-daun lantai hutan yang masih basah.  Hanya sedikit bagian dari track ini yang agak menanjak, walaupun sedikit, cukup untuk memaksa rombongan untuk berhenti sejenak menarik lebih dalam udara segar hutan Bukit Wangkang. Sebenarnya track yang kami lewati tidak terlalu berat dan, tapi karena beberapa kali beristirahat sambil bercanda dan bercerita, setelah dua jam baru kami sampai di tumpukan batu tidak jauh dari puncak bukit.

Senjata utama untuk perjalanan telah siap sejak di Pontianak, kamera yang telah cukup lama menemani hampir semua perjalanan saya dan dinda. Kali ini, sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat untuk memotret pemandangan dari atas bukit tersebut, namun melihat semangat adik-adik yang tinggi untuk bernarsis ria, jadilah mereka yang menjadi objek utama foto yang saya ambil, dan tentu saja saya sendiri dengan meminta salah satu dari mereka untuk mengambil gambar saya.

Kawasan perbukitan di kawasan Kubu Raya ini cukup luas dengan pohon-pohon besar yang masih tersisa. Namun kawasan perbukitan ini seperti pulau di lautan perkebunan monokultur yang tampak seperti jaring-jaring kotak-kotak berwarna hijau dengan garis-garis berwarna coklat kemerahan. Bagi saya, pemandangan itu menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan, walaupun dipandang dari ketinggian. Jadi saya lebih senang mengambil Pemandangan hutan-hutan dari atas bukit.

Setelah puas mengambil gambar pemandangan dan anggota rombongan di atas batu-batu yang sebenarnya tampak agak mengerikan jika berdiri di pinggirnya itu, kami naik sedikit kearah puncak dan beristirahat dibawah pohon yang cukup rindang namun agak terang karena dihadapan kami pohon-pohon tumbuh tidak terlalu rapat. Waktu istirahat tersebut bersamaan dengan waktu makan. Untungnya masih ada sisa nasi dari pagi yang tidak habis yang dibawa, ada juga sambal goreng tempe dan bihun yang dibawa salah satu anggota rombongan. Jadilah kami makan seadanya sekedar mengganjal perut sebagai bahan bakar untuk perjalan turun kami.

Perjalanan turun hanya revers dari perjalanan naik, kami langsung menuju kaki bukit ke kampung tempat kami menitipkan motor. Setelah mengurus administrasi dengan ketua RT, kami langsung berangkat pulang. Setelah sempat tersesat di perkebunan kelapa sawit yang tampak serba sama di semua sudutnya, dan sempat merasakan hujan deras sekali lagi di Rasau, kami pun sampai di kediaman masing-masing.

Wednesday, April 27, 2016

Hiking Ternyata Bisa Membuat Otak Manusia Lebih Kreatif

Tanpa melihat hasil-hasil penelitian para ahli, kita semua mungkin percaya bahwa tracking melintasi hutan atau mendaki gunung bisa membersihkan pikiran negatif, tubuh dan jiwa. Namun demikian, sekedar informasi untuk anda, penelitian serius tentang hal itu telah dilakukan, dan hasilnya, hiking memang bisa merubah otak kita menjadi lebih baik. Penelitian ini adalah sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences yang menemukan bahwa menghabiskan waktu di alam bebas dapat menurunkan pikiran negatif dengan margin yang signifikan.

Kegiatan Pendakian Gunung
Untuk melakukan penelitian ini, peneliti membandingkan catatan kecemasan peserta yang menjelajah di lingkungan perkotaan dan lingkungan alam. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang berjalan selama 90 menit dalam lingkungan alam melaporkan tingkat kecemasan yang lebih rendah dan mereka juga mengalami penurunan aktivitas saraf di korteks prefrontal subgenual, area otak yang berhubungan dengan penyakit mental. Mereka yang berjalan di lingkungan perkotaan tidak melaporkan penurunan kecemasan.

Para peneliti mencatat bahwa peningkatan urbanisasi berkorelasi tinggi dengan peningkatan kasus depresi dan penyakit mental lainnya. Meluangkan waktu secara teratur untuk menjauh dari kawasan perkotaan dan menghabiskan lebih banyak waktu di alam dapat sangat bermanfaat secara psikologis (dan fisik).
Baca juga:
Tentang Kegiatan Mountaineering

Menjelajah sambil menjauh dari Teknologi dapat  Meningkatkan Kemampuan Creative Problem Solving

Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Ruth Ann Atchley dan David L. Strayer menemukan bahwa pemecahan masalah secara kreatif dapat secara drastis ditingkatkan dengan memutuskan hubungan dari teknologi dan berhubungan kembali dengan alam. Peserta dalam penelitian ini pergi backpacking melalui alam selama sekitar 4 hari, selama waktu mereka tidak diizinkan untuk menggunakan teknologi apapun. Mereka diminta untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran kreatif dan masalah yang kompleks, dan peneliti menemukan bahwa kinerja pada tugas pemecahan masalah meningkat hingga 50% bagi mereka yang mengambil bagian dalam percobaan menjelajah bebas teknologi.

Para peneliti dari studi ini mencatat bahwa teknologi dan kebisingan perkotaan sangat mengganggu, terus mengalihkan perhatian kita dan mencegah kita untuk fokus, yang semuanya dapat mengganggu fungsi kognitif kita. Peningkatan yang sangat bermanfaat, menjauh dari teknologi, dapat mengurangi kelelahan mental, menenangkan pikiran, dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
Baca juga:
Trekking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas
Tips Memilih Lokasi Camping yang Tepat

Menjelajah Dapat Memperbaiki ADHD Pada Anak 

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada saat ini menjadi lebih dan lebih umum di antara anak-anak. Anak-anak yang memiliki ADHD memiliki kesulitan dalam mengontrol impuls dan tetap fokus, mereka teralihkan dengan mudah, dan menunjukkan hiperaktif yang berlebihan.

Membesarkan anak-anak yang memiliki ADHD bisa sulit bagi orang tua, solusi yang biasa di gunakan oleh banyak orang tua adalah menggunakan obat-obatan, namun solusi ini dapat lebih berbahaya. Padahal solusi alami dapat memberikan hasil yang lebih baik. Sebuah studi yang dilakukan oleh Frances E Kup, PhD, dan Andrea Faber Taylor, PhD, menemukan bahwa mengekspos anak-anak dengan ADHD dengan "kegiatan di alam bebas" dapat mengurangi gejalanya secara signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan terpapar suasana alam bebas dapat menguntungkan siapa pun yang memiliki masalah dalam fokus dan / atau menunjukkan perilaku impulsif.

Menjelajahi Alam Adalah Latihan yang sangat bermanfaat Dan karena itu bisa Meningkatkan Kemampuan Otak

Kita sudah tahu bahwa berolahraga memberikan manfaat yang luar biasa untuk kesehatan kita secara keseluruhan. Hiking adalah cara terbaik untuk membakar antara 400-700 kalori per jam, tergantung pada ukuran dan kesulitan mendaki, dan lebih aman untuk sendi dari kegiatan lain seperti berlari. Juga telah dibuktikan bahwa orang yang berolahraga di luar lebih mungkin untuk terus konsisten dan tetap komit pada program mereka, hal ini menjadikan kegiatan mendaki adalah pilihan yang sangat baik bagi mereka yang ingin menjadi lebih aktif secara teratur.

Para peneliti dari University of British Columbia menemukan bahwa latihan aerobik meningkatkan volume hipokampus - bagian dari otak yang berhubungan dengan memori spasial dan episodik - pada wanita di atas usia 70. Latihan tersebut tidak hanya memperbaiki masalah kehilangan memori, tetapi juga membantu mencegah terjadinya memory loss tersebut. Para peneliti juga menemukan bahwa hal itu juga dapat mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan harga diri, dan melepaskan endorfin. Banyak orang  menggunakan obat untuk mengatasi masing-masing masalah dan setiap satu dari masalah ini, tetapi solusi untuk penyakit ini mungkin jauh lebih sederhana dari yang Anda pikirkan!
Baca juga:
Camping Membuang Jenuh

Tertarik untuk Hiking? Bagaimana Anda Bisa Mulai Untuk Menjelajah?

Untungnya, hiking adalah salah satu olahraga yang mudah dan paling murah untuk dilakukan, namun dapat memberikan manfaat besar! Anda bisa memulai olah raga ini dari skala ringan untuk menguji kemampuan Anda. Bersama waktu anda akan menemukan bentuk pendakian yang sesuai untuk Anda - walaupun hanya berjalan di sekitar jalan taman, tidak masalah. Untuk mencari lokasi yang sesuai untuk anda, Anda bisa mencarinya secara online menggunakan peta online, dan ada banyak aplikasi smartphone bisa melakukannya untuk anda, juga. Selama kegiatan menjelajah tersebut, matikan sinyal telpon Anda, jadi Anda dapat menuai manfaat lebih banyak (meskipun mungkin perlu membawanya juga, setidaknya untuk keadaan darurat).
Baca juga:
Pendaki Wanita Tewas di Gunung Gede

Pastikan Anda memiliki perlengkapan hiking yang baik seperti sepatu, topi, dan botol air, dan pastikan pakaian yang anda gunakan dapat menyerap keringat dengan baik dan segera kering. Anda mungkin bisa juga menggunakan Trekking Poles, yang dapat meningkatkan kecepatan dan mengurangi sedikit tekanan pada lutut. Sekarang, lets rock!
Baca juga:
10 Perlengkapan Utama Kegiatan Alam Bebas
Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung

Friday, February 12, 2016

Ngetrack ke Riam Pelabuh Kuduk, Nanga Sangan, Kapuas Hulu


Ada banyak olah raga di dunia ini yang menurut saya keren, namun biasanya olah raga tersebut butuh biaya yang agak besar. Dua olah raga yang menurut saya sangat menarik adalah diving dan mountainbike, namun rasanya saat ini kantong belum mampu untuk mendukung kedua olah raga tersebut. Setelah cukup lama mondar-mandir surfing di internet, pilihan saya kembali ke olah raga yang sedari kecil menjadi olah raga favorit saya, lari alias jogging.
Baca juga:
Tracking dan Berinteraksi dengan Alam Bebas
Jogging, Walking dan Hunting di Kampus Biodiversitas
Jogging 31+ di Bumi Uncak Kapuas

Seorang dosen saya pernah bertanya kepada saya tentang olah raga apa yang sering saya lakukan. Sederhana saja jawaban saya, Jogging. Dan beliau berkomentar, itulah olahraga yang paling murah, tapi tetap menyehatkan. Namun murah tidak berarti gratis, karena tetap ada yang harus dibeli, yaitu sepatu. Untuk mendukung olah raga lari itu saya membeli satu sepatu running. Tentang sepatu lari ini akan saya ceritakan lain waktu, untuk sekarang saya ingin bercerita tentang hiking saya minggu lalu.

Membaca-baca artikel tentang trailrunning membangkitkan semangat saya untuk kembali ngetrack di alam bebas. Karena itu, saat sedang berada di desa minggu lalu, saya sempatkan untuk ngetrack ke hutan. Walaupun kondisi tubuh masih kurang fit sejak seminggu sebelumnya, saya kuatkan untuk ngtrack di wilayah perbukitan desa Nanga Sangan tempat saya berkegiatan. Kira-kira begini ceritanya.

Sejak menjelang tengah malam hujan deras mengguyur wilayah Kapuas Hulu, khususnya wilayah Desa Nanga Sangan tempat saya menginap. Saat menjelang tengah malam, suara petir yang menggelegar memaksa saya untuk sadar dari tidur. Suaranya seperti meriam raksasa yang disulut. Ternyata hujan tersebut tidak reda hingga pagi hari. Janji dengan Bapak Kepala Adat  (Bang Yan) untuk mendaki setelah sarapan pagi tidak dilanggar, karena hingga hampir pukul delapan saya belum sarapan, dan mandi. Pagi itu saya tetap tidur karena sepertinya cuaca tidak memungkinkan kami untuk berangkat, dan gaya gravitasi di sekitar kasur memang sedang tinggi-tingginya. Saya yakin gaya gravitasi tersebut dipengaruhi oleh tingginya curah hujan pagi itu.

Sepertinya Bang Yan sangat bersemangat sekali untuk menemani saya mengunjungi air terjun di kawasan perbukitan desa. Sekitar pukul 8 bang Yan datang dan menyampaikan bahwa beliau siap untuk menemani saya ngetrack walaupun gerimis masih saja turun. Menjelang pukul 9, hujan tanggung antara gerimis dan lebat masih enggan meninggalkan langit Nanga Sangan, keputusan sudah bulat, kami tetap berangkat. Saya, bang Yan dan pak Yaman yang sangat mengenal kawasan.

Karena hujan masih setia menemani kami, saya tidak berani mengeluarkan kamera untuk mengambil gambar. Dan medan awal yang kami lewati juga kurang eyecatching, jadi saya berjalan melewati jalur yang masyarakat sebut sebagai jalan tani. Jalan tanah merah selebar sekitar tiga meter yang sangat kohesif dengan telapak sepatu. Jalan tani adalah jalan yang dibangun sebagai proyek pemerintah dan seharusnya digunakan sebagai jalur transportasi pengangkutan hasil pertanian masyarakat yang berada di sekitar kaki bukit. Namun, karena kondisinya yang memang kurang memadai, jalan tersebut ditinggal masyarakat dan dipenuhi oleh semak-semak. Kami hanya sebentar melintasi jalan tersebut hingga kami melewati jalan setapak yang lebih sering digunakan masyarakat untuk menuju kawasan persawahan.
Baca juga:
Jenis-jenis Sepatu untuk Mendaki Gunung
10 Perlengkapan Utam Berkegiatan di Alam Bebas

Melewati jalan setapak ini, saya diperlihatkan kabel bekas instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang beroperasi dua tahun lalu di Nanga Sangan selama enam bulan. Yup, selama enam bulan masyarakat menikmati listrik dan setelah itu setiap malam kembali diterangi generator atau lilin. Karena kurangnya bekal masyarakat dalam hal perawatan dan adanya kesalahan teknis dalam pembangunannya, proyek tersebut tidak memberi manfaat yang panjang untuk masyarakat.

Tinggalkan kabel listrik, langkah kami berlanjut menapaki jalan yang terkadang becek dan memaksa kaki melangkah hingga ketepi jalan yang bersemak. Dua atau tiga kali kami harus menyebrangi sungai yang tidak terlalu dalam, namun memaksa saya untuk membuka sepatu agar tidak basah. Setelah sempat reda beberapa saat, gerimis mengundang kembali menyapa. Kamera masih senyap dalam tas selempang yang saya kenakan, hingga pada suatu tempat, pemandangan jeram kecil yang saya lihat membuat saya menyampingkan resiko kamera di belai air. Beberapa kali shoot tidak menghasilkan foto yang memuaskan karena air mengenai filter lensa, akhirnya saya masukkan kembali kamera ke tempatnya.


Beberapa menit meninggalkan jeram kecil tadi, kami sampai di kawasan persawahan masyarakat. Menurut bang Yan dan Pak Yaman, sawah yang kami lewati ini sudah dipanen padinya. Namun, berbeda dengan sawah seperti di Jawa, padi di Sangan ini bisa dipanen hingga tiga kali sebelum di tanam kembali.  Karena memang bulir padi masih bisa keluar dari tanamannya.

Dari kawasan persawahan ini kami dapat melihat rumah pengelolaan irigasi masyarakat. Terdapat dam kecil di dekat rumah tersebut yang mengatur aliran air. Namun, sayangnya saluran irigasi yang dibangun tersebut tampak sudah tidak terpakai juga. Dari dekat pintu irigasi tersebut kami mencari tanaman Bucephalandra yang menurut pak Yaman, dulunya banyak di sekitar tempat tersebut, namun tidak ada yang kami temui. Kami kemudian menyeberangi sungai berbatu besar, agak sulit awalnya, tapi bisa.

Diseberang sungai kami menemukan buah yang saya lupa namanya. Bentuknya seperti pepaya yang pendek,berwarna kuning. Daging buahnya seperti pepaya mengkal dengan rasa yang sangat asam, saya hanya menjamah permukaannya yang dibelah dan menyentuhkannya ke lidah. Memang masam, tapi rasanya tidak semasam belimbing wuluh. Saat sedang asik dengan buah yang masam tersebut, hujan deras kembali menyapa, kami putuskan kembali ke pintu air yang beratap yang barusan kami lewati. Hanya cukup untuk kami bertiga berdiri, daripada harus berlari ke pondok masyarakat di sawah dan basah, berdiri pun tidak masalah.

Sambil menunggu hujan reda, saya mengeluarkan biskuit dari dalam tas, namun tanpa sadar saya menjatuhkan topi rimba yang saya letakkan di atas tas dan basahlah dia di dalam saluran irigasi. Nampak sepele, padahal topi itu sangat penting saat kita sedang berkegiatan di alam bebas, terutama untuk berfoto... eh.

Sekitar tengah hari pukul 12 hujan agak reda, kami melanjutkan perjalanan. Jalur yang dilewati mulai menanjak 60 hingga 70 derajat. Langkah kaki saya menjadi sangat berat, istirahat menjadi sangat sering. Walaupun nafas rasanya masih sanggup, tapi saya khawatir jantung yang tidak kuat. Untungnya jalur yang benar-benar menanjak tersebut tidak terlalu panjang. Setelah lepas dari tanjakan, jalan masih sedikit naik turun, namun tidak terlalu ekstrim, bahkan nyaman untuk dilewati.

Beberapa pohon besar tumbang di beberapa titik, salah satunya menimpa jalan setapak yang kami lewati. Pohon tumbang tersebut membuat jalan menjadi agak kabur, untungnya Bang Yan dan Pak Yaman masih ingat dengan jalurnya, sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukan jalurnya lagi. Salah satu hal yang sangat menarik bagi saya saat melintas jalan setapak ini adalah banyak sekali anggrek yang tumbuh. Termasuk di sekitar pohon yang ditebang tadi, bagian atasnya yang rimbun dengan anggrek ikut jatuh ke permukaan tanah.

Perjalanan berlanjut, selang sekitar setengah jam kami sampai di rumah tempat turbin PLTMH yang kami tuju. Kondisinya bangunannya masih tampak kuat, namun isinya sudah tidak karuan. Ini bisa dimaklumi karena sudah dua tahun rumah mesin pembangkit listrik ini tidak dirawat. Pembangkit listrik ini hanya berjalan selama enam bulan, hujan yang begitu deras telah menghancurkan mesinnya. Tidak jauh dari rumah turbin tersebut, ada sambungan pipa yang terbengkas.  Hanya sejenak kami singgah, perjalanan kami lanjutkan lagi, karena bagian utamanya harus di daki lagi. Kami berjalan di samping paralon dengan diameter sekitar 40 cm, kadang harus melipir ke tepi jeram, kadang berjalan meniti kayu diantara batu-batu besar.




Yang sangat unik bagi saya dari Riam Pelabuh Kuduk ini adalah airnya merah atau air gambut. Dari beberapa sungai yang pernah saya kunjungi di Kalimantan Barat, baru di tempat ini ada sungai arus deras berair gambut. Merah dari air gambut ini menambah menarik pemandangan di riam ini, arena air yang mengalir menunjukkan perpaduan antara gelembung air petih yang terjadi karena derasnya air dan warna merah dari airnya, seperti bisa anda lihat dalam gambar-gambar di bawah ini.










Puncak dari jeram adalah sebuah bendungan yang tidak terlalu besar namun cukup lebar, ternyata bendungan tersebut tidak terlalu jauh. Bendungan tersebut dibangun untuk mengalirkan air ke dalam pipa paralon yang berujung di rumah turbin. Di bagian puncak riam ini saya melihat berbagai jenis Nepenthes yang sangat menarik bagi saya, ada juga beberapa jenis tumbuhan dengan penampilan menarik yang potensial untuk dijadikan tanaman hias. Disisi hulu dari bendungan, air merah jadi tampak hitam karena dalamnya, menurut bang Yan dan Pak Yaman, di sungai tersebut banyak terdapat ikan lele hutan atau disebut sebagai Kelik. In sya Allah kali lain ke riam ini, saya akan usahakan untuk membawa pancing.



Puas melihat pemandangan dan mengambil beberapa gambar, kami turun melalui jalur yang sama dengan waktu yang lebih singkat. Sempat berhenti di kaki riam untuk mengambil beberapa gambar. Kemudian kami pulang dan sampai di kembali di desa sekitar pukul 17.

Sunday, February 7, 2016

Latihan Grasstrack Sirkuit Lokajaya Boyan Tanjung

sirkuit lokajaya boyan tanjung
Para Pembalap siap beraksi
Sekitar pukul 14.30 kami berangkat dari Nanga Sangan menuju Mujan (pusat kecamatan Boyan Tanjung) menggunakan Hillux pak Sekdes. Tentu saja perjalanan ini jauh lebih santai, karena saya duduk diatas jok yang sangat empuk, batu-batu dijalan tidak terlalu terasa. Setelah mengantar belian pak Camat, pak Sekdes mengambil trail miliknya yang dititipkan di sebuah bengkel. Selanjutnya kami meluncur ke sirkuit yang letaknya ke arah barat dari simpang boyan.

Lokasi sirkuit grasstrack boyan Tanjung bernama Sirkuti Lokajaya, berada sekitar 300 meter dari jalan raya. Untuk menuju sirkuit tersebut kita akan melalui jalan perkerasan tanah merah melewati perkebunan karet masyarakat. Saat kami tiba di jalan masuk sirkuit, puluhan motor berjejer di tepi jalan dan menjadikan jalan masuk tersebut sempit. Mobil pak Sekdes yang saya tumpangi kesulitan untuk masuk, sehingga kami harus meminggirkan motor-motor tersebut untuk bisa lewat.

Sampai di tepi lapangan sirkuit, sudah banyak sekali orang-orang berdatangan untuk menonton sesi latihan grasstrack tersebut. Mereka berjejer di tepi sirkuit diatas gundukan yang lumayan tinggi, dari gundukan tersebut kita bisa melihat hampir seluruh bagian sirkuit. Motor balap pak Sekdes diturunkan, tapi beliau sendiri tidak ikut latihan karena kakinya sedang sakit akibat jatuh saat latihan minggu lalu. Saya sendiri langsung naik ke tempat para penonton berada untuk mengambil beberapa gambar.

Sirkuit Lokajaya tampak tidak terlalu luas, namun tracknya yang banyak kelokan-kelokan menjadikannya cukup panjang. Di sirkuit inilah para pembalap motocross Boyan Tanjung melatih kemampuannya. Menurut pak Sekdes, beberapa orang temannya relatif sering mengikuti lomba-lomba motocross yang sepertinya rutin diadakan setiap tahun di Kalimantan Barat. Beliau sendiri hanya menggiati olah raga ini sebagai hobi, bukan untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan.



Jumping
Para penonton latihan grasstrack ini ternyata tidak sedikit menurut saya, tidak hanya laki-laki, warga yang perempuan juga banyak yang menonton. Bahkan ibu-ibu yang mungkin sudah punya cucu juga tidak ketinggalan ikut menyaksikan. Ada juga anak-anak berseragam pramuka yang mungkin baru selesai latihan di sekolahnya langsung datang ke sirkuit untuk menonton atraksi mingguan ini. Dan, ada juga cewe-cewe KW yang ikut menonton.

Para penonton grasstrack

Ibu-ibu tidak ketinggalan menonton
Para pembalap bergantian memacu motornya melintasi track tanah merah dan putih (bekas hutan kerangas). Ada juga sesi beramai-ramai di track, namun nampak bukan untuk berlomba, hanya untuk latihan saja. Beberapa orang yang memegang kamera sibuk mengambil gambar, termasuk saya sendiri. Sebagian Para penonton tampak serius mengikuti motor-motor trail modivan tersebut melaju dan meliuk di atas tanah merah berdebu. Setelah rombongan pembalap kembali ke area start dan finish, seorang tukang ikan dengan motor yang membawa kotak styrofom di atas jok belakang motornya masuk ke sirkuit dan menjajalnya. Sebagian penonton tertawa, namun ada juga yang mencibir.... "nyari sensasi jak orang tu". Menurut saya, bagaimanapun penjual ikan tersebut berhasil memberikan sedikit hiburan untuk semua orang menonton.

Tukang ikan tidak ketinggalan ikut menjajal sirkuit
Sirkuit segera menjadi sepi setelah motor-motor di naikkan ke atas mobil yang membawanya tadi. Para penonton berjalan kaki menuju motor-motor mereka yang diparkir di depan tadi. Begitupun saya dan pak Sekdes, segera kembali ke Nanga Sangan.

Solo Riding ke Nanga Sangan

Bermotor sendirian menempuh jarak yang lumayan jauh memang sudah biasa saya jalani, tapi untuk jalan yang baru pertama kali saya tempuh sendiri tetap mengundang sensasi sendiri. Tapi sensasi tersebut cenderung ke rasa khawatir dan was-was. Seperti perjalanan saya hari kamis lalu menuju desa Nanga Sangan, Kecamatan Boyan Tanjung. Berhubung teman sekantor sedang mengunjungi daerah lain dan teman yang satunya lagi sudah pulang ke Pontianak, jadilah saya jalan sendirian.

Pukul 14.00 saya berangkat dari kantor di Kota Putussibau. Setelah membeli bensin, saya langsung melaju menuju tempat tujuan melalu jalan raya Lintas Selatan Kapuas Hulu. Jalan raya Lintas Selatan Kapuas Hulu cukup mulus, hanya beberapa jembatan yang sedang diperbaiki sehingga motor harus dikurangi kecepatannya. Selain dari itu adalah sedikit bagian jalan yang turun dan menjadi gerutuk. Secara keseluruhan, perkiraan saya, jalan yang kurang mulus tidak lebih dari dua persen. Itupun hanya kurang mulus, bukan berbatu-batu atau becek.

Perjalanan menuju pusat kecamatan Boyan Tanjung memakan waktu sekitar dua jam, dari pusat kecamatan menuju desa Nanga Sangan memakan waktu sekitar satu jam. Perjalanan yang satu jam ini yang cukup menantang. Kira-kira seperempat jalan sudah diaspal, namun terdapat cukup banyak lubang di beberapa bagiannya. Setelah aspal, perkerasan batu dan tanah merah harus kita lewati. Jika sedang hujan deras, cukup rawan melewati jalan tersebut. Hal menantang lain dari jalan ini adalah tanjakan dan turunan yang relatif curam, namun jika sudah terbiasa, tanjakan tersebut justru menjadikan perjalanan kita lebih berkesan.

Sekitar pukul 17.00 saya tiba di Nanga Sangan. Malamnya diskusi dengan beberapa tokoh masyarakat tentang potensi hutan yang terdapat di desa Nanga Sangan. Salah satu yang menurut saya menarik adalah petai yang saat ini harganya lumayan tinggi, namun tidak banyak masyarakat yang memiliki pohonnya. Padahal beberapa tahun lalu pemerintah pernah  membagikan secara gratis bibit pohon petai, dan lahan yang terdapat di desa Nanga Sangan juga relatif sesuai untuk pertumbuhan Petai. Namun, karena pada saat itu petai belum menjanjikan penghasilan yang memadai, bibit tersebut di seriusi oleh masyarakat. Diskusi selesai sekitar pukul 21.30, setelah para peserta pulang, saya istirahat.

Pagi sekitar pukul 07.30, saya bersama Kades menuju kantor desa untuk mempersiapkan beberapa berkas yang menjadi kelengkapan administrasi pengajuan hutan desa. Urusan pembuatan surat tersebut ternyata di lakukan di rumah sekdes, karena kantor desa baru selesai dibangun dan kades serta beberapa bawahannya sedang memindahkan barang-barang dari kantor yang lama ke kantor barunya. Ternyata mengurus administrasi cukup menguras tenaga, sampai hampir tiba waktu shalat jumat belum juga selesai. Jadi pekerjaan tersebut di pending, kami jumatan dulu.

Selesai jumatan, ternyata hanya sedikit lagi berkas yang akan di print. Karena itu hanya beberapa menit waktu yang terlewati dan kami selesai mengerjakan berkas-berkas tersebut. Selesai dengan pejerjaan itu, pak Sekdes mengajak saya untuk jalan-jalan ke kecamatan. Sekalian mengantarkan empat batang kayu belian pesanan pak camat, kami menuju sirkuit grass track. Inilah alasan saya untuk menyambut ajakan pak Sekdes walaupun badan sebenarnya agak letih.

Bagaimana kondisi di sirkuit grass track tersebut? Tunggu posting selanjutnya... (mudah2n ada yang mau nunggu... hehe)

Wednesday, February 3, 2016

Antara Manusia, Momen dan Kamera

Saat ini hampir semua orang memiliki handphone, dan hampir semua handphone saat ini dilengkapi dengan kamera. Kesimpulannya, hampir semua orang memiliki kamera. Tidak sedikit juga orang yang memiliki kamera yang memang khusus kamera, baik poket maupun DSLR. Tujuan semua kamera adalah untuk mendokumentasikan momen yang terjadi disekitar kita, agar momen itu dapat direkam dan bisa kita lihat sewaktu-waktu di masa depan. Namun, saat ini saya melihat sebuah keanehan dalam hubungan antara manusia, kamera dan kejadian atau momen yang dialaminya.

Saya melihat keanehan tersebut terjadi pada diri saya sendiri pada saat malam takbiran tahun lalu. Malam itu saya bersama istri dan beberapa teman menyusuri tepian sungai kapuas untuk menikmati atraksi meriam karbit yang memang rutin dilaksanakan setiap malam takbiran. Malam itu, mungkin puluhan meriam dinyalakan, sepanjang malam hingga menjelang subuh langit kota pontianak bergetar karena bunyinya. Cerita lebih lengkap tentang meriam ini bisa di baca disini. Tapi apa kaitan meriam karbit dengan tulisan ini? Begini ceritanya.

Momen yang paling penting saat melihat atraksi meriam karbit adalah saat kita bisa melihat letupan meriam dari dekat. Nyala api yang tidak sampai satu detik dan suara dentumannya yang bisa membuat bahkan tubuh anda bergetar. Dari jarak sekitar 15 meter anda bisa merasakan hempasan udara di sekujur tubuh. Saya merasa sangat beruntung bisa merasakan itu, namun... saat jalan-jalan tersebut akan selesai, saya baru menyadari bahwa saya sama sekali belum ada melihat secara langsung nyala meriam yang disulut. Saya hanya melihatnya dari kamera, baik dibalik lensa maupun dari LCD. Apa masalahnya melihat dari kamera?

Dentuman Meriam Karbit di Tepian Sungai Kapuas
Masalahnya adalah saya bukan fotografer profesional yang hidup dengan mengabadikan momen-momen penting di dunia. Saya amatir yang juga ingin menikmati momen-momen langka yang ada didunia ini. Salah satunya adalah meriam karbit yang saya ceritakan tadi. Saya merasa rugi karena tidak bisa melihat langsung ledakannya. Tapi, kadang rasanya kontras sekali kalau keadaannya dibalik. Saat saya berhasil melihat sebuah momen luar biasa yang nyata di depan saya dan saya tidak berhasil mengambil gambarnya, momen tersebut adalah saat seekor elang menyambar ikan dalam sungai yang jaraknya hanya beberapa meter dari speedboat yang saya tumpangi.

Saat sedang melaju diatas speedboat, dari arah kanan seekor kami melihat seekor elang sedang berputar dan mengawasi permukaan sungai di depan kami. Selang sekitar dua detik kemudian elang tersebut mengubah posisi sayapnya, antara menutup dan merentang. Posisi tersebut adalah tanda dia akan terbang dengan kecepatan tinggi menghujam menghadap kebawah secara vertikal. Bersama kami lewat, elang tersebut hampir mencapai permukaan air. Sekitar dua meter dari permukaan air dia berhenti dan mengubah posisi, tubuhnya menjadi horizontal. Cengkram kakinya menghadap ke bawah, kemudian di turun lagi sampai di permukaan air. Seekor ikan telah berada di dalam cengkraman kakinya, speedboat berhenti dan dia kembali membumbung. Semua terjadi di depan mata kami, tidak ada yang memegang kamera atau handphone.

Saat burung tersebut sedang menukik sebenarnya saya berpikir untuk mengeluarkan kamera dan membidiknya. Namun saya sadar bahwa kamera saya tidak akan bisa mendapatkan gambar yang baik dari momen tersebut. Lensanya sepertinya tidak akan memberikan fokus yang baik, dan kalaupun lensanya bagus, waktu yang saya miliki tidak akan cukup. Apatah lagi untuk mendapatkan fokusnya, mengambil kamera yang masih dalam tas pun tidak akan cukup. Jadi, keputusannya, saya akan menikmati momen tersebut untuk sendiri. Hanya dalam ingatan, karena tidak semua momen bisa atau harus kita bagi dengan orang lain.
Namun, kadang pikiran itu hanya menjadi penghibur hati karena saya tidak bisa mendapatkan gambarnya. Namun lagi, mengingat kondisi waktu itu yang memang tidak memungkinkan, yang terjadi adalah yang terbaik. Jadi mana yang terbaik? Mengambil gambar atau liveview? Menurut saya, lihatlah kondisinya, tapi sebisa mungkin lihatlah dulu secara langsung. Kalau ada momen lagi, baru ambil gambarnya. Pastikan kita punya pengalamannya, baru bantu orang lain ikut  menikmati momen tersebut.

Tuesday, February 2, 2016

Kunjungan Nanga Sangan Tepian Sungai Boyan

Pemandangan Menjelang Dusun Kuala Baru, Desa Nanga Sangan

Nanga Sangan, sebuah desa yang terletak di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, tepatnya di Kecamatan Boyan Tanjung. Nama desa ini baru saya dengar beberapa bulan yang lalu. Minggu kemarin saya kembali mengunjunginya, kali pertama saya berkunjung adalah pada bulan desember tahun lalu. Sebagian dari ceritanya ada di sini.

Wilayah desa Nanga Sangan dibelah oleh sungai Boyan Tanjung dengan lebar sekitar 20 meter. Pada waktu hujan tidak terlalu deras, air sungai Boyan tersebut sebenarnya jernih tetapi saat kegiatan masyarakat menjadi intens di sungai, airnya akan menjadi keruh. Beberapa menit setelah kegiatan itu berhenti, air akan kembali menjadi jernih. Di sungai ini sebenarnya saya ingin mencari batu dan tanaman air, tapi menurut masyarakat, airnya sedang tinggi, jadi akan sulit untuk mencari tanaman airnya yang terendam dan tidak nampak. Batu juga sepertinya sudah tidak nampak lagi yang menarik, sepertinya sudah jauh hari orang-orang mencarinya di wilayah sungai ini. Dibawah ini adalah penampakan sungai Boyan di desa Nanga Sangan.

Nyari Batu di Pinggiran Sungai Boyan
Sore hari, saat sedang berkendara melewati perumahan masyarakat, sekelompok pemuda sedang bermain voli di lapangan di tepi jalan. Saya berhenti dan duduk di tepi halaman. Warga menawarkan saya untuk ikut bermain, tanpa menunggu lagi, saya langsung ikut bermain karena ada salah satu pemain yang keluar dan istirahat.

Kami pulang keesokan harinya setelah diskusi beberapa kali dengan beberapa anggota masyarakat.

Joging 31+ di Bumi Uncak Kapuas

Rabu, 27 Januari 2016, saya resmi melewati masa 31 tahun usia hidup saya. Alhmdulillah masih di beri kesempatan untuk hidup. Pagi sekitar pukul 6 saya hari itu, dengan tekad yang sudah dibulatkan, walaupun kadang ada yang mengelupas dari bola semangat itu, saya tetap berusaha menambalnya agar tetap bulat. Dengan sepatu yang baru dibeli beberapa malam sebelumnya, (eaaa.... namanya sepatu ya seharusnya dipakai), saya melangkah keluar dari rukan yang menjadi tempat tinggal saya selama bertugas di bumi Uncak Kapuas.

Udara masih cukup dingin, suasana jalan masih sangat sepi. Hanya seorang ibu-ibu yang saya lihat berjalan sendiri tanpa alas kaki menuju jalan protokol. Saya sendiri melakukan peregangan di halaman masjid di depan gang. Setelah pemanasan singkat, jalan kaki menuju jalan protokol seperti yang dilakukan ibu-ibu tadi. Sampai di jalan utama tersebut, belok kiri menuju bundaran tugu Pancasila. Tugu Pancasila ini seperti mirip dengan tugu digulis di bundaran Universitas Tanjungpura Pontianak, bedanya, selain lebih kecil, tugu pancasila di Putussibau terdiri dari lima tianga bambu, tentu saja sesuai dengan namanya, Pancasila.

Mulai dari Tugu Pancasila, saya berlari santai dengan kecepatan rendah mengarah ke jembatan Kapuas. Suasana jalan masih tetap sepi. Senang sekali  rasanya, udara jadi benar-benar bersih. Selain kendaraan yang masih sangat sedikit, ruang terbuka hijau di kota yang tenang ini juga masih sangat banyak. Semakin dekat dengan jembatan kapuas hampir di depan sekolah Karya Budi, rasanya badan mulai kehabisan tenaga. Lari pun berganti dengan jalan kaki agak cepat. Akhirnya tanjakan jembatan nampak, senang sekali rasanya.

Ke arah hulu, pemandangan dari atas jembatan cukup dramatis. Hamparan rumput di tikungan sungai menghijau agak keemasan di timpa sinar matahari yang terbit. Kabut tipis menyelimuti permukaan sungai berair coklat. Konon katanya, dulunya sungai kapuas berair jernih, namun semua berubah sejak.... entah sejak kapan.

Menyusuri jembatan yang cukup lengang, terasa menenangkan, kita bisa jauh memandang. Meskipun sungainya tidak bening seperti pada masa lalu, namun tetap menghibur. Namun lagi, sayang disayang, saat saya melihat ke pipa-pipa yang berada di samping jembatan (diluar badan jalan), berbagai macam sampah berserakan. Pemandangan itu langsung mengingatkan saya pada jembatan-jembatan di kota hujan, dimana sungai menjadi tempat sampah yang sangat panjang. Saya sendiri mencoba untuk berprasangka baik dengan berpikir bahwa sampah tersebut mungkin sangkut saat air pasang sangat tinggi. Namun setelah saya perhatikan sekitar, sepertinya tidak mungkin air pasang bisa setinggi tempat dimana sampah-sampah itu berada. Semoga masyarakat sadar bahwa perbuatan itu sangat tidak benar dan semoga pemerintah dapat  menangani masalah sampah yang tentu saja akan merusaka pemandangan di kota Putussibau.

Kembali ke arah rukan tempat saya tinggal saya berjalan kaki, beberapa motor sudah cukup banyak berlalu lalang. Selain motor, ada yang menarik bagi saya pagi itu. Banyak sekali anak sekolah yang bersepeda menuju sekolahnya. Yang lebih menarik lagi adalah anak-anak tersebut tampak sangat religius, yang perempuan hampir semuanya tampak menggunakan jilbab, sedangkan laki-laki  menggunakan peci. Kalau nampak ada yang menggunakan rok pendek atau celana pendek, maka itu adalah siswa sekolah Kristen. Perjalanan dengan berjalan kaki serasa lebih singkat, waktu perjalanan tentu lebih panjang, namun karena tidak terlalu menguras tenaga, rasanya lebih santai. Total perjalanan tersebut memakan waktu sekitar satu jam.

Keesokan harinya saya menjalani trek yang sama dengan strategi yang sama. Berlari menuju jembatan kapuas, pulangnya berjalan kaki. Tapi waktunya lebih awal, sekitar pukul 05.10. Saat menjelang sampai di jembatan, kabut yang agak tebal menyelimuti jembatan. Demikian pula dengan diatas permukaan sungai, kabut putih membuat jarak panjang lebih pendek. Namun demikian, pemandangannya tampak eksotis dan seperti ada kesan magis. Kali ini saya tidak terlalu lama menikmati pemandangan dari atas jembatan, langsung ke sisi sungai di seberang, berputar kemudian langsung kembali lagi ke arah rukan di dekat kantor bupati. Perjalanan pulang kali ini ada lagi yang menarik. Beberapa orang polisi nampak sedang berpatroli, bukan dengan motor atau mobil, mereka menggunakan sepeda. Mungkin teman-teman di tempat lain sudah biasa melihatnya. Saya juga pernah melihat sepeda yang terparkir di samping pos polisi di pontianak. Tapi melihat langsung mereka sedang patroli menggunakan sepeda, baru kali itu saya melihatnya.

Anak-anak sekolah juga mulai ramai di jalan, saya melihat seorang polisi mendatangi seorang pria dewasa sedang membawa anaknya yang berseragam sekolah. Awalnya saya pikir ada masalah dengan pria tersebut, atau polisi tersebut kenal dengannya, itu mungkin saja, tapi yang tidak saya sangka adalah polisi tersebut menyambut anak perempuan berseragam tersebut dan membantu menyeberangkannya melintas jalan. Teduh sekali rasanya melihat itu. Semakin terasa nuansa religius di kota Uncak Kapuas ini.

Sama seperti hari sebelumnya, joging kali ini juga memakan waktu sekitar satu jam. Sampai di kantor dengan tenang untuk beberapa saat, namun harus cepat-cepat untuk mempersiapkan perjalanan dinas luar kota.

Itu cerita saya, apa cerita anda... :)

Monday, December 14, 2015

Cerita Hutan Desa dan Hujan Pagi Ini

Dua minggu lebih dua hari sudah saya tinggal di Kota Putussibau yang pagi ini diguyur hujan deras, kota paling timur dari Propinsi Kalimantan Barat. Allah Maha Pengabul doa, sudah cukup lama saya memendam keinginan untuk mengujungi kota yang berada di kabupaten yang dicanangkan sebagai Kabupaten Konservasi. Kenapa kabupaten konservasi? Karena setidaknya ada dua taman nasional di wilayah kabupaten ini, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum.

Taman Nasional Betung Kerihun sudah saya dengar sejak masih SMA dan aktif di organisasi siswa pencinta alam, namun hingga saat ini saya masih hanya  mendengar cerita dan melihat foto-fotonya saja. Sejak pertama mendengarnya, hati terasa ingin sekali mengunjungi dan melihat isi salah satu pusat biodiversitas dunia tersebut. In sya Allah suatu hari nanti ada rezeki saya akang mengunjungi surga pencinta alam Kalimantan Barat tersebut, Heart of Borneo. Demikian halnya dengan Taman Nasional Danau Sentarum, relatif banyak teman saya yang telah berkunjung ke salah satu danau paling unik di dunia tersebut. Danau yang menjadi bak penyimpanan cadangan air bagi Sungai Kapuas.
Baca juga: Pertemuan Para Penjaga Heart of Borneo

Kenapa unik? Karena danau itu punya siklus pasang surut sendiri, sembilan bulan dalam setahun danau itu dipenuhi air hampir sejauh mata memandang saat kita berada di pinggirnya. Tiga bulan sisanya, masyarakat bisa berkendara di hamparan tanah yang mengering di danau tersebut. Keringnya danau Sentarum akan menyajikan sebuah pemandangan yang dramatis bagi orang-orang yang berasal dari luar kawasan. Paling tidak saat ini saya sudah melihat sendiri danau Sentarum dari atas pesawat. Pemandangan yang dramatis menurut saya, melihat danau paling mahsyur di Kalimantan Barat. Alhamdulillah saya sempat mengambil gambarnya. in sya Allah dalam waktu dekat saya akan mengunjunginya.
sentarum lake, heart of borneo, west kalimantan
Danau Sentarum dari Atas Pesawat @borneoimage
Kembali ke Putussibau, dalam dua minggu ini saya hampir tidak ada melancong kemana-mana. Hanya sempat sekali ke pasar tradisional yang lokasinya cukup jauh kalau berjalan kaki dan mengikuti kegiatan diskusi tentang koridor Heart of Borneo di hotel Sanjaya Putussiba. Tanggal 11 Desember kemarin berkunjung ke Desa Nanga Sangan Kecamatan Boyan Tanjung untuk kegiatan sosialisasi pengelolaan hutan desa tanggal 12 Desember 2015. Cukup jauh rasanya, berangkat jam delapan pagi, sampai di lokasi sekitar pukul 16. Memang kami ada beberapa kali istirahat, makan siang serta ngemil sambil menikmati pemandangan dari atas tebing pinggiran Sungai Boyan.

hutan desa, village forest, nanga sangan, heart of borneo, kapuas hulu
Hutan di sekitar wilayah Desa Nanga Sangan
Kegiatan dilaksanakan tanggal 12 Desember 2015 kemarin dari sekitar pukul 11 hingga pukul 16. Alhamdulillah lancar. Namun, seharusnya tanggal 13 kemarin kami melanjutkan kegiatan di desa kedua, karena sesuatu dan lain hal, acaranya kami undur untuk dilaksanakan pada hari ini. Manusia berencana, Allah SWT yang menentukan, sejak subuh tadi hujan turun dengan derasnya hingga saat ini. Mudah-mudahan hujan ini segera reda dan kami dapat melaksanakan rencana kami. Aamiin.

Itulah cerita di pagi ini, bersama suara hujan dan atap yang ditimpanya. Selamat beraktifitas.

Sunday, November 29, 2015

Pontianak, Jakarta, Putussibau


Selamat datang di hari minggu lagi!
Relatif lama saya tidak lagi mengalami hari sibuk yang benar-benar full time sepanjang minggu sejak selesainya kuliah di IPB. Masih tergambar dalam ingatan (walaupun sedikit kabur) bagaimana saya dan dinda menjalani kuliah dengan tugas yang luar biasa. Mengerjakan tugas hingga dini hari bersama teman-teman.

Kali ini, kesibukan dunia kerja yang ternyata memang padat. Sebelumnya sempat jualan, walaupun hasilnya kurang menggemberikan, namun pengalamannya sangat berharga... muaahaall....

Balik lagi ke cerita seminggu ini. Minggu kemarin dimulai dengan rapat persiapan kegiatan Pertemuan Masyarakat Adat Wilayah HoB, Local Community Leaders for the Heart of Borneo di hotel Aston.  Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 23-24 November 2015 oleh PRCF-Indonesia dan didukungg oleh WWF-Indonesia, . Kegiatan yang sangat menarik untuk mereka yang menggiati konservasi alam dan lingkungan serta pengembangan masyarakat adat. Kegiatan tersebut mempertemukan sekitar 40 orang anggota masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan Heart of Borneo. Senang sekali rasanya berkumpul dengan masyarakat adat yang masih mempertahankan lingkungan mereka agar tetap lestari untuk mendukung kehidupan mereka. Saya hanya mengikuti kegiatan ini pada hari pertama.

Selasa 24 Desember 2015, pindah ke hotel Santika Pontianak, berlangsung kegiatan sosialisasi program dari Yayasana Kehati. Kegiatan ini berlangsung hingga keesokan harinya tanggal 25 Desember 2015. Namun untuk hari kedua, saya hanya mengikutnya setengah hari, karena harus bersiap berangkat ke Jakarta jam 15. 30. Sore itu, berangkatlah kami ke Jakarta dengan Garuda Indonesia ke Jakarta. Lepas petang menjelang malam kami sampai di Hotel Novotel Gajah Mada Jakarta. Langsung check in, makan malam, namun ketinggalan Gala Dinner. Tidak mengapa, yang penting malam itu kami tidak kelaparan.

Kegiatan yang relatif menyenangkan di Hotel Novotel selesai tanggal 27 November 2015, namun kami check out dari hotel kemarin siang menjelang jam 12. Sekitar jam setengah dua kami sampai di bandara, langsung check in, boarding pukul 15.05, terbang 15.35, sampai Pontianak sekitar pukul 17.00. Sebenarnya ada rencana untuk rapat di daerah Danau Sentarum, tapi badan rasanya tepar, dan harus istirahat untuk terbang lagi besoknya... hari ini.

Sekarang, sedang menunggu keberangkatan yang kata petugas Garuda Indonesia ada waktu rescheduling penerbangan ke jam 10, sekarang sudah jam sepuluh... rupanya delay lagi ke jam 10.50. Kena juga delaynya Garuda.