Monday, August 14, 2017

Long House of Dipanimpan Bolong Nanga Nyabau, Heart of Borneo

The Nanga Nyabau Village

Nanga Nyabau is one of the villages in Kapuas Hulu Regency, precisely in Embaloh Hulu district. It does’nt take a long time to visit this village from Putussibau*. Nanga Nyabau can be achieved in about 1 hour road trip. I have been to this village several times, but not with special intentions for traveling or backpacking. My arrival to this village was only to take my co-workers in the village of Nanga Lauk. Why go to Nanga Nyabau village? Its because the most plausible path to the village of Nanga Lauk is the river route starting from Nanga Nyabau downstream of the Palin River.
After several visits, I learned that Nanga Nyabau Village has a betang house (long house) that has been designated as a cultural heritage object. While waiting for the boat pickup from Nanga Lauk, we visited the betang house in Nanga Lauk village on the advice of Rio. From where the car was parked, me, the nicke, elin, and aloy, walked across the suspension bridge that are very common in Kapuas Hulu. For the urban community, these bridges are very unique and interesting. But for rural community as in Nanga Nyabau Village, this bridge is a very important facility for the ease of their daily activities.
Read also: Reasons Why You Should Visit West Kalimantan (Borneo)

Supension Bridge of Nanga Nyabau Village

Dipanimpan Bolong, The Nanga Nyabau Long House

From the suspension bridge, we walked up a wooden bridge connecting the single houses that surrounded the betang house. The houses in the village of Nanga Nyabau have been built high since the past due to security reaseon, especially from floods and wild animals. From the suspension bridge, the betang house is only about 50 meters away. On the left before climb up to the betang, a signage appears written Dipanimpan Bolong. Like most other betang houses, the Nanga Nyabau village betang house is built relatively high, the floor of this longhouse is about 4 or 5 meters from the ground. Because of the height, we have to use the stairs. The stairs up to the betang house is an interesting part of the betang home. These stairs are usually made from Borneo Ironwood (Eusideroxylon zwageri), the top of the stairs is carved into a sculpture shape. A similar form I have seen in Ensaid Panjang Long House in Sintang Regency.

Borneo Ironwood Sculpture
Sculpture Stairs, Nanga Nyabau Long House

Going up to the Long house, we met some women who were chatting on the porch. After a short introduction with them, we spread and cool with their respective activities. Nick and Elin walked to the end of the hulu betang (upstream of the long house), while Aloy headed to hilir betang (downstream of the long house). The term upstream and downstream for the longhouse is commonly used because the betang houses are built parallel to the river. Upstream means upstream of the river, downstream means downstream of the river. I remained near the middle rising ladder, looking at and picking up some picture of the posters which explaining the history of the long house we were visiting.

Dipanimpan Bolong Betang House

Dipanimpan Bolong, that’s how this long house is named. Nanga Nyabau Long House first built approximately in 1896 by Baki 'Jantari and Baki' Jantulak, Baki 'Landung (community leader in Nanga Nyabau). At that time number of doors are 23, corresponding to the number of family head.

The founders invited the community to slash or clean the location of the new betang house, and make a ceremony to call the ancestors spirit, who in the language tamambaloh called PAMINDARA. The  PAMINDARA was held in 7 days, once it  finished, all the community work together move the mast that landslide to a new location and revoke A pole that still stands for use in the betang home to be re-established. Day to day, the society work together to establish the pondation of the longhouse. The community continues to carry out the development every day. The material used is a pole of Borneo Ironwood, galang and pole mast was made from tekam wood that is cut and split in four square, the walls was made from bark of bedang wood.

Traditional Community of Tamambaloh
Elderly in Dipanimpan Bolong, Nanga Nyabau Long House

This long house is called as DIPANIMPAN BOLONG because it is established between two canals of river into 1 (one) of the river APALIN with the river Nyabau. Saved Bolong comes from the language of Timang (Korong Nangis) which in the language of the Dayak tribe Tamambaloh means Pedestal of the 2 (two) rivers that are inundated.

After reading the history of the establishment of the long house, I walked around while taking some pictures of the conditions on the betang terrace. Some piles of kratom leaves spread over pandan mats, kratom is one of income source for villagers in Nanga Nyabau. I can see this plant in the garden near to the area were we parked the car. In addition to the pile of dried kratom leaves, the interesting thing I see on this betang terrace is the singer bird which are in the cage. According to the owner, the bird was obtained since about two years ago. Interesting to me because to my knowledge, keeping the bird in a cage is not the custom of the Dayak community.
Read also: Interesting Activity to do in Danau Sentarum National Park

The Ratan Bracelet

Leaving the bird in the cage, I followed Aloy who just got an information that one of the residents of the long house still has a familial relationship with him, its his aunt. The four of us were then invited to the Aloy family's room for a snack and a drink. Aloy who had come in first seemed to be putting a bracelet of rattan and a resam made by his aunt. His aunt show us how she made the bracelet. Me, Elin and Nick bought some of the bracelet.

Resam Bracelet
Bracelet from Ratan and Resam

After chatting for a few minutes, Rio came to tell us that the boat from Nanga Lauk had come. We immediately say goodbye to the owner of the house. Aloy and his friends then left for Nanga Lauk and I went back to Putussibau.

How to get there?

Putussibau is the regency capital of Kapuas Hulu. There are 3 types of public transportation that can take you to Putussibau from Pontianak (Province Capital of West Kalimantan); taxi, bus, and airplane. By bus or taxi, it takes 14 hour. If you have limited time or the road make you tired, airplane can take you to Putussibau in just one hour. Sometimes you can get a cheap flight for this rute, just watch the airways website and plan your trip. From Putussibau, the best transport is to rent a car if you come in a group. Because there is no public transportation that can take you to Nanga Nyabau.

Saturday, July 15, 2017

Berburu Foto Serangga


Serangga memiliki jumlah dan jenis tertinggi diantara semua organisme makroskopis yang dapat di temukan di permukaan bumi ini. Jika kita ingin mengeksplorasi dan mengabadikan serangga, kita tidak akan kehabisan objek meskipun setiap saat kita memotret mereka. Namun terkadang tidak mudah untuk menemukan mereka di lapangan, jika kamu ingin berburu gambar mereka yang menawan, ada baiknya kamu tahu caranya. Berikut adalah sedikit dari cara-cara tersebut.

Pertama, perhatikan musim yang sedang berlangsung. Ini tidak hanya terkait dengan musim seperti yang berlaku di negara subtropis, di negara tropis-pun kita harus memperhatikannya. Karena sebagian serangga juga punya musim kapan mereka keluar dari sarangnya atau kapan mereka berubah menjadi dewasa dan terlihat oleh kita. Tapi kalau di Indonesia mungkin lebih banyak yang dapat kita temukan setiap waktu.

Kedua, perhatikan cuaca yang sedang berlaku di tempatmu. Jangan berkeras untuk hunting pada saat sedang hujan, selain beresiko untuk kamera, serangga kebanyakan berlindung dan bersembunyi pada saat hujan. Pagi hari yang cerah adalah saat yang tepat untuk menemukan serangga. Selain karena serangga mudah ditemukan, tentu saja karena pada pagi hari pencahayaan alami sangat baik pada pagi hari.

Ketiga, pilih lokasi yang tepat. Di bumi ini hanya ada tiga tempat dimana kamu tidak bisa menemukan serangga, yaitu di laut, di puncak-puncak gunung bersalju, dan di kedua kutub. Jadi tidak akan sulit untuk menemukan mereka, tetapi untuk menemukan serangga yang tepat tentu ada tempat yang tepat juga. Serangga paling mudah di temukan di taman bunga atau semak semak dengan jenis tumbuhan rendah. Lokasi dengan tumbuhan rendah akan memudahkan menemukan serangga dan lebih mudah bagi kita untuk mendapatkan posisi yang bagus.

Keempat, ketahui perilaku alami dari serangga yang menjadi target buruan. Setiap serangga memiliki perilaku yang berbeda, ada yang tidak terlalu liar, ada yang terlalu sensitif dengan manusia, ada yang senang bergerombol, ada yang sendiri-sendiri, ada yang dengan gagah berani melawan makhluk lain yang mengganggun sarangnya, ada juga yang langsung meninggalkan sarangnya saat terganggu. Dengan mengetahui perilaku mereka kita akan lebih mudah mendapatkan gambar mereka, misalnya kita dapat mengatur jarak agar mereka tidak pergi, atau malah menyerang.

Sepertinya tidak terlalu sulit untuk dilakukan bukan, tetap mencoba!
Semoga bermanfaat dan selamat berburu!

Wednesday, July 5, 2017

Review Spider-Man: Homecoming


Semua penggemar Marvel dan Spiderman di Indonesia pasti sudah menantikan hari ini, hari dimana Spiderman: Homecoming akan diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Menilik ke boot sebelumnya dengan Tobey Maguire dan Andrew Garfield, rasanya inilah boot Spiderman yang paling menarik, point utamanya adalah bergabungnya Peter Parker dengan Marvel Cinematic Universe.

"Spider-Man: Homecoming" benar-benar seperti sebuah reuni, membawa karakter superhero yang hak-hak filmnya dibeli oleh Sony kembali ke Marvel Cinematic Universe. Dengan cara yang sangat halus dan pintar, mulai dari cerita yang kecil, Marvel mencoba memasukkan Spidey ke Marvel Cinematic Universe dengan Spiderman: Homecoming.Tidak diragukan lagi, hasilnya sangat menarik dan sangat menghibur, Spiderman: Homecoming sangat memainkan aspek komedi.
Jika  menilik ke buku komiknya, Spider-Man selalu menekankan gagasan tentang Peter Parker sebagai seseorang yang dikenal oleh pembaca sebagai seorang ilmuwan muda (yang agak nerd) yang memperoleh kekuatan super berkat gigitan laba-laba radioaktif, namun kehidupan remajanya diperumit oleh identitas gandanya.

Salah satu perbedaan besar Spider-Man: Homecoming dengan cerita Film Spiderman sebelumnya adalah dibuangnya cerita tentang meninggalnya paman Peter (Ben Parker) akibat insiden perampokan yang kemudian sangat disesali oleh Peter. Ditiadakannya peristiwa yang menyebabkan bibi Mai (Marisa Tomei) seorang janda secara bersamaan juga menganulir kalimat sakti dari Ben Parker kepada Peter, yaitu "dengan kekuatan besar menjadi tanggung jawab besar".

Sebagai ganti peristiwa tersebut, Marvel memperkenalkan Spiderman dengan  mengambil cerita (setelah perkenalan dengan Michael Keaton sebagai, Vulture) pada bagian akhir dari  "Captain America: Civil War". Petualangan Peter Parker dalam MCU dimulai dengan misinya membantu Iron Man / Tony Stark (Robert Downey Jr.) melawan Captain America dan sekutu-sekutunya. Dalam Spiderman: Homecoming, cerita Peter akan kembali ke Queens, di mana dia sangat ingin menunjukkan bahwa dia pantas untuk menjadi seorang Avengers, walaupun sebenarnya usianya belum cukup dewasa.

"Ini adalah kesempatanku untuk membuktikan diri," katanya, sesekali mungkin terdengar seperti remaja yang cengeng.

Kekuatan baru membuat Peter tersandung beberapa  insiden lucu di lingkungan tempat tinggalnya, sebagian besar adegan tersebut memang sengaja dimainkan untuk membuat penonton tertawa. Kesan tersebut diperkuat dengan memasukkan rekan nerd Peter, Ned (Jacob Batalon) sebagai orang yang mengetahui rahasia Peter, Ned menjadikan karakter Peter lebih manusiawi, karena adanya seseorang untuk diajak bicara oleh Peter. Ned juga dapat teman  penonton untuk menunjukkan kekaguman pada hal-hal hebat yang dimiliki Peter seperti dengan mengatakan "Wow, this is Cool".

Villain dalam Spiderman: Homecoming adalah Vulture dan gengnya - sebuah kelompok yang didukung oleh teknologi alien yang mereka dapatkan dari reruntuhan-reruntuhan mesin perang pada film "Avengers" pertama. Pertarungan  Stark dan ajudannya Happy (Jon Favreau) membuat Peter merasa terpinggirkan karena dia kurang dihiraukan dan masih dianggap sebagai anak kecil.

Beberapa hal yang berubah dari cerita Peter Parker dalam Spider-Man: Homecoming adalah gebetan Peter yang bukan lagi Marry Jane atau Gwen Stacey, tetapi Laura Harrier dan Bibi May yang jauh lebih menarik daripada Bibi May dalam komik dan film Spiderman sebelumnya.

Lima belas tahun, ternyata, sudah cukup waktu bagi setengah lusin film Spider-Man dengan tiga pemeranyang berbeda. Namun, seperti tujuan utama dari karakter dalam film ini adalah tentang pembuktian dirin sendiri. Dengan Homecoming, Marvel telah menyuntikkan vitalitas baru yang menyegarkan untuk si laba-laba.

Thursday, June 22, 2017

Cara Mengambil Gambar Streetphotography


Banyak sekali contoh "street photography" yang dapat kita temukan di situs-situs internet, Flickr, dan dalam buku dan majalah. Tapi bagaimana caranya kita tahu foto itu bagus atau jelek? Dan bagaimana cara kamu menilai foto kamu sendiri?
Mungkin kamu bisa meng-upload foto kamu ke facebook atau flickr atau lainnya dan melihat komentar dari teman-teman kamu, tapi apakah yang mereka katakan itu benar? Dan berdasarkan apa mereka memberikan komentar itu? Sebenarnya, kebanyakan kritikan tersebut bersifat subjektif.

Dibawah ini adalah sepuluh kriteria tentang "street photography" yang bagus. Setelah kamu membaca artikel ini, lihatlah seberapa baik foto yang kamu ambil berdasarkan 10 aturan ini.

1. Didalam foto itu ada orang

Coba lihat buku street photography, kamu dapat menemukan gambar burung merpati atau bangunan, bukan orang. Gambar ini sering di katakan sebagai 'still life
'. Orang lainnya mengatakan itu adalah sebuah kontradiksi.  Foto ini mungkin sangat bagus berdasarkan hak mereka sendiri. Tapi itu bukan 'street photography'.

2. Wajah orang-orang didalamnya terlihat jelas

Kamu juga dapat melihat street photography yang hanya memperlihatkan punggung orang-orang, atau hanya kaki mereka. Tidak dibutuhkan banyak keberanian untuk mendapatkan gambar seperti itu. Dengan demikian mereka tidak memiliki penanda utama dari kerja street photographer yang  sebenarnya: sebuah close up dari wajah seseorang. Untuk mendapatkan foto seperti ini tidak mengharuskan fotografer untuk  berdiri dihadapan objek.

3. Mata orang-orang didalamnya terlihat

Mata manusia itu dapat mengungkapkan kepribadian, mereka memberitahu kita banyak hal tentang seorang individu. Dan jika kita tidak bisa melihat mata seseorang, itu akan terasa kurang memuaskan. Kita merasa dicurangi.
Jadi, setiap foto dimana objeknya sedang melihat kebawah, melihat ke arah lain, atau memakai kaca mata hitam, sehingga kamu tidak bisa melihat mata mereka - itu adalah sebuah foto yang kurang sempurna.

4. Objek foto adalah normal, bukan performer (penampilan yang disengaja seperti penyanyi dan penari)

Dimana saja kamu melihat atraksi di jalanan, seperti sulap, musisi jalanan, atau bahkan upacara petugas keamanan, kamu akan melihat orang-orang mengambil gambar mereka.
Ada banyak alasan untuk melakukan ini. Sang performer terikat pada satu titik dimana mereka berada, dan harus menghibur orang banyak. Dan si fotografer hanya satu dari sekian banyak kerumunan itu. Jadi dibutuhkan usaha yang lebih banyak untuk mendapatkan foto seperti ini.

5. Gambarnya menarik

Foto yang ideal dapat membingkai personality seseorang. Tidak cukup hanya dengan mendapatkan foto yang tajam dan ter-eksposure dengan baik. Foto juga harus menarik.
Seorang street photographer yang baik memiliki sense of humor, dan menangkap kehidupan yang aneh dari jalanan.
Keanehan itu bisa berupa jajaran orang yang kontras atau adegan emosional, papan visual permainan kata-kata, atau kombinasi dua objek yang seharusnya tidak ada pada satu tempat yang sama.

6. Foto yang menyampaikan sebuah cerita

Gambar sebaiknya dapat menyampaikan sebuah pesan atau membuat kita dapat memahami apa yang sedang terjadi. Jika foto tersebut memiliki sebuah narasi, ia akan menjadi lebih menarik.
Itu sebabnya foto kamu harus menunjukkan dimana kejadiannya berlangsung. Fotonya akan memberikan sebuah potongan kehidupan. Ia membuat kita merenungkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ia bisa saja berupa dua orang yang sedang adu argumen. Bisa saja seorang tunawisma yang sedang meminta sedekah. Apapun objeknya, sebaiknya ia dapat menyampaikan sebuah cerita.

7. Berfokus pada perhatian yang melihat

Saat kamu melihat sebuah street photo, kamu harus tahu secara instingtif apa yang seharusnya kamu lihat. Jika terlalu banyak orang didalam foto, kemungkinan akan kurang jelas maksud dari foto tersebut.
Sebagaimana sudah kita lihat diatas, sebuah foto harus menyampaikan sebuah cerita. Dan itu berarti seseorang harus menjadi pahlawan. Seseorang harus berdiri di dalam foto itu sebagai pahlawan tersebut.

8. Gambarnya tajam dan fokus

Foto street photography tidak harus setajam wildlife, nature atau foto portrait. Dengan kealamian dari even yang ada, kamu dapat menangkap kejadian yang hanya sekejap.
Untuk dapat mencapai tingkat ahli, foto yang kamu ambil harus tajam. Foto seperti apapun namun tidak tajam adalah foto amatir. Sebuah foto yang mengalami getaran dari kamera atau tidak fokus tidak dapat diterima.

9. Foto memiliki komposisi yang baik

Foto dengan komposisi yang baik memiliki tema utama, dan tidak dikacaukan dengan fitur yang tidak perlu. Setiap bagian di gambar harus memiliki peran masing-masing dan berkontribusi terhadap foto.
Pusat perhatian harus terletak pada satu dari tiga (prinsip komposisi).
Selanjutnya bisa juga terdapat elemen framing, seperti misalnya pohon yang mengarahkan mata kepada karakter utama foto.

10. Foto tidak memiliki latar belakang mengganggu

Fotografer profesional memberikan perhatian kepada background sebanyak yang diberikan kepada objek, dan amatir tidak melakukan ini.
Itulah sebabnya amatir memiliki menara pemancar mencuat dari kepala orang.
Singkatnya, tembakan yang baik membutuhkan keberanian dan keterampilan

Seorang street photographer yang baik memiliki mata untuk sebuah foto, tangan yang mantap, dan kemauan untuk menempatkan diri mereka dalam risiko. Mereka menghadapi orang-orang dan mengambil gambar mereka, baik diam-diam atau tidak.

Seberapa baik gambar Anda cocok dengan 10 aturan?
Sumber: http://www.dpreview.com/

Thursday, May 25, 2017

Tomistoma Survey: Menyusuri Kapuas dan Leboyan

Danau Sentarum, adalah salah satu taman nasional Indonesia yang berlokasi di daerah perhuluan Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Pertama kali saya melihat secara langsung salah satu danau terunik di dunia ini sekitar November 2015. Saat melihat secara langsung tersebut, terbersit cita-cita di benak saya untuk mengunjunginya. Allah Sang Maha Pendengar mengabulkan cita-cita saya tersebut, tidak berapa lama selang dari terbang di atas danau, saya berkesempatan membelah air danau sentarum dari atas speedboat bertenaga 30 pk. Berikut adalah cerita perjalanan tersebut.

bukit tekenang
Pemandangan Danau Sentarum dari Bukit Tekenang
Perjalanan dimulai dari Pontianak dengan anggota terdiri dari Imanul Huda, Hari Prayogo dan Janiarto Paradise. Kami berkumpul di pool Damri Pontianak. Seperti jadwal biasanya, bus berangkat pada pukul 19.00 menuju Sintang. Perjalanan malam hanya menyajikan pemandangan gelapnya tepian jalan yang hanya kadang-kadang berhias lampu rumah masyarakat. Sisanya hanya semak-semak hitam atau perkebunan sawit. Lain dari itu, tidak banyak yang bisa diceritakan.

Keesokan harinya, 4 Januari 2016, Pukul 05.30 kami sampai di Pool Damri Bundaran Tugu Bank Indonesia, Sintang. Taksi yang akan mengantar kami ke tempat tujuan telah datang tidak terlau lama setelah bus sampai. Setelah menumpang shalat di salah satu masjid besar di Sintang perjalanan kami lanjutkan menuju kecamatan Semitau. Untuk menuju Semitau dari Sintang, kami harus melewati Jalan Raya Sintang – Putussibau, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun hingga perbatasan dengan Kabupaten Kapuas Hulu berhasil membuat jackpot perut saya. Namun jackpot kali ini rasanya belum setengah dari yang saya alami dalam perjalanan Bogor-Tasikmalaya.
Memasuki wilayah Kapuas Hulu, jalan yang kami lewati dikenal sebagai jalan Lintas Selatan. Mobil berbelok ke kiri di simpang jalan Sejiram. Dari Simpang Sejiram hingga menjelang Semitau, kondisi jalan akses tidak begitu baik. Sebagian besar masih tanah merah bergelombang. Untungnya saya bisa tidur, sehingga jackpot bisa dihindari.

Sampai di Pasar Semitau 08.30 kami langsung sarapan pagi di salah satu warung kopi. Setelah sarapan, saya menyempatkan diri untuk membeli beberapa perlengkapan memancing. Berhubung harga joran yang relatif mahal dan tidak terjangkau oleh saya, saya hanya membeli satu gulung benang dan beberapa buah mata kail serta umpan buatan.
Sekitar pukul 9 perjalanan kemudian dilanjutkan ke menuju kantor seksi Balai Taman Nasional Danau Sentarum (BTNDS). Sampai di Kantor Seksi BTNDS, kami beristirahat untuk membersihkan diri dan bersiap untuk belanja. Di kantor seksi Semitau, anggota tim bertambah dengan kedatangan Jefri Irwanto yang akan berperan sebagai driver speedboat dan asisten lapangan. Bang Jefri adalah staff Balai Taman Nasional Danau Sentarum. Sebagai staff lapangan Balai TNDS, Bang Jef sangat menguasai kondisi medan Danau Sentarum. Pada tahun 2004, Bang Jefri pernah menjadi anggota tim survei Tomistoma yang melibatkan PRCF Indonesia, Balai TNDS dan The National Geographic Society.

Pukul 10.30, matahari semakin tinggi, kami berangkat menuju Pasar Semitau menggunakan speedboat untuk belanja persediaan makanan dan berbagai keperluan lainnya seperti baterai untuk penerangan dan obat-obatan. Kegiatan belanja memakan waktu hingga satu setengah jam. Matahari telah berada di puncak langit, kami makan siang di rumah makan Yanti. Pemilik rumah makan ini tampak sangat kenal dengan bang Jeff. Selesai makan dan barang-barang di kemas ke dalam speedboat, kami menuju salah satu masjid di tepian sungai kapuas untuk shalat zuhur.

semitau
Pemandangan Sungai Kapuas dari Ibukota Kecamatan Semitau
Setelah memastikan barang-barang telah dimuat ke dalam speedboat, sekitar pukul 13.30 mesin speedboat dinyalakan. Membelah permukaan Sungai Kapuas, speedboat yang ditumpangi empat orang anggota tim survei berangkat menuju Resort BTNDS Semangit di Desa Leboyan. Perjalanan melintasi Sungai Kapuas membuat saya merasa sangat exited. Jejeran pohon bungur dengan bunga merah muda keunguan menghiasi pinggiran sungai. Dosen saya di IPB pernah bercerita tentang pohon-pohon bungur di kota Pontianak. Dahulu pohon-pohon berbunga cantik tersebut adalah spesies asli dan dominan yang tumbuh di pinggiran pinggirang sungai Kapuas. Seiring dengan perkembangan kota dan dibangunnya kawasan pinggiran sungai menjadi kawasan pemukiman dan perdagangan, bungur semakin jarang ditemui. Namun, di hulu Kapuas, bungur menjadi sabuk hijau kawasan riparian sungai. Bunga-bunga merah muda keunguannya memberikan kontras yang cantik diantara hijaunya daun - daun.

Selain cantiknya bunga bungur, pinggiran sungai Kapuas yang kami lewati juga dihiasi putihnya bulu burung bangau. Mereka tampak hinggap di atas keramba, diatas pohon, atau diatas batang-batang kayu mati yang terdampar di pinggiran sungai. Sebagian langsung terbang berombongan saat kami melintas, sebagian lainnya hanya menatap kearah kami. Bagi saya yang tinggal di Pontianak, jauh dari bentang alam yang masih alami, melihat rombongan bangau putih adalah pengalaman yang luar biasa.
burung bangau
Rombongan Bangau di Tepian Sungai Kapuas (Oleh Imanul Huda)
Masyarakat pinggiran sungai Kapuas umumnya berprofesi sebagai nelayan, selain menangkap ikan, sebagian mereka membudidayakan ikan dengan keramba. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan oleh masyarakat pinggiran sungai Kapuas misalnya ikan toman,  jelawat, dan belida.

Memasuki kawasan TNDS, saya mulai bisa melihat pohon-pohon kayu yang bagian bawahnya terendam air. Pemandangan ini adalah pemandangan khas Danau Sentarum, pohon-pohon tersebut terendam pada musim hujan selama sembilan bulan setiap tahunnya. Pada musim kemarau selama kurang lebih tiga bulan, Danau Sentarum mengering hingga hanya menyisakan air pada aliran sungai-sungai yang yang lebih dalam. Kawasan danau menjadi sangat rentan terhadap kebakaran, tercatat telah beberapa kali Danau Sentarum mengalami kebakaran. Sampai saat ini kita masih bisa melihat sisa-sisa kebakaran yang terjadi beberapa tahun lalu berupa batang-batang pohon kering menghitam di sebagian area Danau Sentarum.

kebakaran hutan
Batang-batang Kayu Sisa Terbakar akibat Kebakaran hutan di Danau Sentarum
Perjalanan Semitau – Semangit Desa Leboyan membutuhkan waktu sekitar dua jam, tim sampai di Sampai di Resort TNDS Semangit pukul 15.30. Meskipun sepanjang perjalanan hanya duduk, tetap saja lelah mendera. Namun, sajian pemandangan dan lingkungan alami Danau Sentarum segera menjadi alat pelepas lelah. Kantor Resort Semangit TNDS berada dalam kawasan Danau Sentarum, dibangun di pinggiran sungai Leboyan diatas tanah yang senantiasa terendam air untuk beberapa bulan.

Sore itu, sambil waktu kami habiskan untuk menikmati pemandangan Bukit Semujan di arah selatan yang memamerkan tebing-tebingnya yang memanjang dari timur ke barat. Sementara langit semakin merah di barat, burung-burung ramai bernyanyi di pohon-pohon tinggi dibelakang kantor resor yang berwarna  hijau lumut kera. Rombongan Bekantan ikut meramaikan suasana sore itu dengan suara-suaranya yang nyaring, melompat dari satu dahan ke dahan lain. Cukup dekat untuk dilihat, namun telalu jauh untuk lensa kamera saya yang standar pabrikan, hanya menampakkan daun dan batang pohon yang semakin redup bersama tenggelamnya matahari.

bukit semujan
Bukit Semujan dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Sebagaimana umumnya kegiatan lapangan di Indonesia bagian Kalimantan Barat, makan malam kami relatif sederhana. Berlauk mie instant dan sedikit potongan rendah serta ikan teri, kami makan dalam suasana khidmat. Antara terang dan remang lampu yang menggunakan mesin generator yang baru dihidupkan. Suara janggkrik semakin remai, sebagian warga dusun Semangit beristirahat di rumah masing-masing, sebagian kecil lainnya masih beraktifitas di atas keramba yang berisi ribuan ikan toman peliharaan mereka.
semangit
Desa Semangit dari Kantor Resort Semangit, TNDS
Pukul 19.00, kami mulai bersiap untuk spoting Senyulong di Sungai Leboyan. Persiapan memakan waktu 40 menit, pukul 19.40 kami berangkat menuju hulu sungai Leboyan setelah menjemput Pak Zulkarnain.  Pak Zulkarnain adalah warga Dusun Semangit yang menjadi salah satu staff kontrak Balai TNDS untuk menjadi tenaga lapangan di Resort Semangit. Pengetahuannya tentang kondisi lingkungan sekitar Leboyan menjadi alasan utama bang Jefri mengajak Pak Zulkarnain. Diatas speedboat, pak Zul juga menjadi navigator untuk bang Jefri, selain karena gelapnya sungai, navigator juga sangat dibutuhkan agar speedboat terhindar dari tabrakan dengan batang kayu besar yang tidak nampak oleh pengemudi.

Dari Semangit, kami langsung bergerak menyusuri sungai Leboyan ke arah hulu memasuki Desa Tempurau. Sungai yang berkelok-kelok menjadikan perjalanan ini menarik, walaupun tepian sungai hanya menampakkan pohon-pohon yang hitam. Sesekali saya dapat melihat burung hantu yang bertengger di atas kayu-kayu keramba masyarakat. Menjelang perbatasan Desa Tempurau dengan Desa Melembah , kecepatan speedboat diturunkan hingga kami berhenti di tepian sungai yang berbatas dengan area sawah. Desa Melembah berada di bagian hulu Sungai Leboyan dan berbatasan dengan desa Tempurau. Jika Desa Tempuran berada dalam wilayah TNDS, maka Desa Melembah berada di luar kawasan TNDS yang berbatasan langsung dengan kawasan.

Rute survei dimulai dari perbatasan Desa Tempurau dan Desa Melembah, lebar sungai pada area perbatasan ini lebih kurang 30 meter. Dari titik perbatasan desa, speed bergerak mengikuti aliran sungai tanpa menghidupkan mesin. Survei dilakukan dengan mengikuti aliran sungai dengan mesin speedboat yang tidak dinyalakan. Kecepatan arus sungai relatif tinggi, namun dibandingkan dengan perjalanan berangkat tentu jauh berbeda. Dengan mengikuti kecepatan arus sungai tersebut, saya harus berjuang keras melawan ngantuk. Meskipun mengantuk, saya tetap berusaha untuk tetap terjaga sambil terus mencari dengan mengarahkan sorot senter ke tepian sungai seperti yang dilakukan anggota tim yang lain. Hingga sampai ke desa Tempurau, tidak ada penampakan Buaya Senyulong yang kami dapati. Sambil berharap akan ada perjumpaan besok malam, mesin speedboat kembali dinyalakan dan kami melaju ke arah Semangit.

Sampai di kantor resor Semangit, kami segera mengambil tempat masing-masing untuk meluruskan badan. Diatas kasur yang lumayan empuk, kesadaran segera menguap meninggalkan suara burung dan serangga malam di atas air merah yang nampak hitam di malam kelam.
Bersambung.

Saturday, May 20, 2017

Mie Ayam Keraton, Kemang

Saya sudah beberapa kali dengar tentang Kemang sebagai pusat kuliner Jakarta, hal ini langsung saya buktikan sendiri saat pertama kali datang ke Kemang. Kunjungan pertama saya adalah ke restoran Locarasa yang menyajikan resep-resep makanan bule dengan cita rasa Indonesia. Tapi kali ini saya tidak membahas tentang Lokarasa, kali ini saya ingin berbagi tentang kuliner kaki lima di sekitar kemang. Kuliner ini berada di pertigaaan jalan tidak jauh dari Favehotel Kemang (sekitar 25 meter). Di pojok kuliner ini terdapat beberapa gerobak makanan yang beranekaragam, ada yang menjual martabak manis, warteg, jus buah, kopi, dan mie ayam.

Sebagai penggemar masakan mie, saya tergoda untuk merasai mie ayam di pojok kuliner kemang tersebut. Mie ayam keraton, demikian tag line yang tertulis di bagian depan gerobak tersebut. Nama yang menjanjikan, mungkin abang penjualnya punya resep mie ayam dari keraton. Setelah memesan, tidak butuh waktu lama bagi mas penjualnya untuk menghadirkan mie ayam keraton tersebut di depan saya. Dan, seperti inilah penampilan mie ayam keraton di pusat kulier kemang jakarta yang saya tongkrongi.


Mie ayam Keraton disajikan dengan sedikit kuah, tidak dilengkapi dengan kuah sup seperti mie ayam lain yang pernah saya cicipi di sekitar Jabodetabek. Pertama kali mencicipi, saya langsung sangat senang dengan rasanya. Racikan bumbunya terasa sangat pas, rasa ayam dan bumbu-bumbu pelengkapnya berpadu dengan sangat baik. Terasa segar meskipun tanpa kuah, dilengkapi dengan sedikit sayuran. Kerupuk pangsit yang terpisah di piring kecil tersendiri. Overall, mie ayam keraton di pusat kuliner kemang jakarta ini membuat saya ketagihan sehingga saya kembali menikmatinya di malam berikutnya.

Saturday, March 18, 2017

Padang Gembala Sapi, Nanga Sangan, Kapuas Hulu

Perjalanan adalah aktifitas yang mungkin selalu memberikan kita sesuatu yang baru, baik orang, pengetahuan maupun barang. Demikian pula perjalanan saya ke Nanga Sangan yang untuk kesekian kali bersama tim proyek air bersih dari Lembaga Energ Hijau akhir Januari kemarin. Saya melihat padang gembala sapi yang telah tidak terpakai lagi, padang rumput yang hijau menjadi pemandangan yang sangat menghibur.

Selain hamparan rumput, hamparan padang gembala ini juga berhias beberapa pohon dan sungai dengan air bening yang mengalir membelah padang. Ada juga air terjun kecil yang menghiasi bagian pinggir yang agak curam. Jika akses menuju  padang gembala ini cukup baik, mungkin banyak orang yang tertarik untuk membangun rumah.

Pemandangan Padang Gembala, Nanga Sangan
Air Terjun Kecil di Padang Gembala